
🏹🏹🏹🏹🏹
"Alexa!" seru pria gagah nan tampan dengan garis wajah bak sultan Arab itu. Ia pun meraih tanah tangan wanita yang sempat membuatnya penasaran setengah mati. Akan tetapi terhalang statusnya yang pada saat ini adalah asisten dari CEO Bagas Gustavano. Putra dari presiden direktur perusahaan terbesar dan ternama yang sudah sekian tahun menjalin kerja sama dengan perusahaan pemberian dari sang ayah.
"Tuan ... Azriel? Benar?" tebak Alexa ragu. Sebab dirinya lupa-lupa ingat. Wajahnya memang tidak asing akan tetapi Alexa takut salah menyebut kan namanya.
"Tentu saja benar. Apa yang anda lakukan di tempat ini? Maksud saya, apakah ada proyek perusahaan di tempat ini?" tanya Azriel penuh selidik.
Alexa bigung ingin menjawab apa, mulutnya terbuka dan menutup beberapa kali. Akan tetapi tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya. bagaimanapun pria dihadapannya ini memiliki hubungan dengan keluarga Gustavano. sementara Alexa ingin membawa Theo menghilang dari keluarga itu. Apa yang harusnya katakan? Jujurkah atau lebih baik berbohong saja. Akan tetapi lidahnya kelu, Alexa tidak tahu harus menjawab seperti apa. Dirinya baru saja pergi mana mungkin harus tertangkap secepat ini.
"Sa–saya ...," Alexa begitu berat untuk mengucap. Mana ada orang kabur tapi kemungkinan tertangkap secepat ini. Alexa takut jika pria di hadapannya mengadu pada Bagas.
"Apa ada hal yang bisa saya bantu? Sepertinya Anda begitu terlihat kebingungan sekali," tebak Azriel, yang mana hal itu mampu mengubah air muka Alexa menjadi tegang. Ia semakin yakin jika wanita cantik yang membuatnya tertarik dalam satu kali pertemuan itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Tidak ada. Saya harap, jika tuan mau menganggap bahwa kita tidak pernah bertemu di sini. Jangan menceritakan pertemuan kita terhadap siapapun, terutama mantan bos saya, Bagas. Saya, akan sangat berterima kasih. Saya akan mendoakan semoga anda bahagia dan jaya selamanya," ucap Alexa dengan raut wajah yang mengisyaratkan sebuah permohonan. Bahkan, tanpa senagaja tangannya telah menggenggam tangan besar Azriel.
"Baiklah, tapi ... ada syaratnya." Azriel tersenyum. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Ia akan bebas dekat dan mengenal Alexa tanpa ada si bos posesif Bagas di sisi wanita cantik ini. Begitulah pikirnya.
"Syarat?" Azriel pun tersenyum penuh arti kala melihat raut bingung Alexa.
__ADS_1
"Ikut aku." Azriel baru saja berbalik dan hendak melangkah, akan tetapi pernyataan Alexa menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Aku tidak sendiri, kami bahkan menyewa mobil untuk sampai ke sini," jelas Alexa, yang mana masih bergeming tak bergerak. Sementara, Mey-Mey masih memperhatikan keduanya dari balik kaca mobil. Untung saja, Theo sudah ketiduran.
Azriel seketika mengedarkan pandangannya dengan menengok ke kiri dan ke kanan. "Mana? Sama siapa?" cecarnya. Penasaran dengan siapa Alexa bepergian.
"Bersama sahabat ku dan juga keponakannya," jelas Alexa asal. Ia berharap jika tuan Azriel tidak mengenali Theo. Putra dari pengusaha partner bisnisnya.
"Dimana mereka, suruh ikuti mobilku saja. Biar aku yang antar kalian berkeliling kota kelahiran mamiku," saran Azriel, tentunya dengan senyum yang terus berkembang penuh arti di wajah menawannya itu.
"Baiklah, aku akan bicara dengan supir kami." Alexa pun menghampiri mobil yang berada di ujung jalan. Berbicara sebentar dengan supir, lalu pada Mey-Mey. Sahabatnya itu hanya mengangguk menjawab kata-kata Alexa.
______
"Vir, tolong cari di pantry, apakah karyawan baru yang bernama Mey-Mey sudah datang." Bagas memberi perintah juga akhirnya pada sang sekretaris. Setelah beberapa jam menunggu. Mey-Mey, tak juga menggentarkan kopi kedalam ruangannya.
"Baik, Tuan. Mohon ditunggu sebentar." Virnie menjawab dengan sopan lalu beranjak dari kursinya. Karena tubuhnya agak besar sehingga gerakannya agak lambat. Akan tetapi itu tidak menjadi masalah bagi Bagas. Baginya sekretaris itu bukan hanya harus menang di tampang tapi yang terpenting adalah skill dan otaknya. Serta kinerja dan disiplinnya.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Virnie kembali. " Maaf, Tuan. Saya menanyakan pada bagian pantry tidak ada karyawan baru yang absen. Bahkan, saya juga sudah menemui bagian personalia. Beliau mengatakan, jika karyawan tersebut mengundurkan diri," jelas Virnie penuh kehati-hatian.
__ADS_1
"Apa! Mengundurkan diri!" Sontak, Bagas langsung memijat pelipisnya. Bagaimana bisa begini? Kenapa juga Mey-Mey harus mengundurkan diri? Begitulah pikirnya.
Tanpa menunggu waktu jam kantor, Bagas meninggalkan ruangannya.
"Vir. Saya keluar dulu. Handle untuk meeting dengan karyawan pemasaran. Laki tunda meeting dengan perwakilan perusahaan AjiNamata. Corp!" ujarnya memberikan titah dan kuasa sementara pada sekretarisnya.
"Baik, Pak." Virnie hanya bisa bingung. Seharusnya Alexa juga sudah mulai bekerja lagi. Ingin menjenguk, akan tetapi tidak ada yang tau alamat tempat tinggal Alexa kecuali perusahaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa wajahnya begitu cemas?" heran Virnie.
______
Bagas memarkirkan mobilnya asal di depan lobi apartemen. Sebelum di tegur ia telah lebih dulu menyerahkan kunci mobilnya lalu tanda pengenalnya. Setelah itu Bagas benar-benar berlari hingga masuk ke dalam lift. Entah kenapa hatinya begitu risau. Ingin sekali melihat wajah sang putra yang semalam tidak dapat ia lihat. 'Aki telah berpikir semalaman. Darah siapapun itu yang mengalir di tubuh Theo. Sekalipun itu darah Mafia sekalipun. Sungguh tidak adil jika Theo yang tidak tau apa-apa akan tetapi harus menanggung semua kesalahan dan dosa dari kedua orang tuanya.
"Kenapa, tidak ada sahutan dari dalam. Seakan tidak ada penghuninya." Bagas heran karena ia telah lebih dari sepuluh kali menekan bel.
"Maaf, Tuan!" Seorang scurity tergopoh-gopoh menghampiri Bagas. "Ternyata penghuni apartemen nomer 2385C telah pergi tadi pagi-pagi sekali. Ini kuncinya!" Petugas keamanan itu memberi tahu dan menunjukkan kunci pass pada Bagas.
"Apa! Mereka pergi? Kemana? Ke–kenapa?"
__ADS_1
...Bersambung ...