Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 59. Kepanikan Bagas.


__ADS_3

Bagas bak kakek tua yang kebakaran jenggot panjangnya. Seketika, hatinya risau bukan main. Pikiran sudah berkelana kemana-mana. Bagas bahkan berlarian di lorong hingga menimbulkan kegaduhan.


Sampai-sampai Bagas lupa jika ada lift dan justru pria itu malah turun menggunakan tangga darurat. Alhasil sekujur tubuh tegapnya dibanjiri keringat.


Memang ya, panik bisa membuat otak terkadang menjadi dungu. Dan, itulah yang dialami oleh Bagas Gustavano seorang CEO dari perusahaan besar. Dia kelabakan mencari dua cintanya yang hilang. Bagaimanapun, meski logika dan pikirannya menolak. Theo tetaplah bagian dari jiwanya.


Separuh dari napasnya. Bahkan, sekarang dirinya telah memutuskan bahwa tidak ada siapapun yang dapat memisahkan dirinya dengan Theo. Bagas akan mempertahankan hak asuh terhadap Theo bagaimanapun caranya. yukia bahkan tidak berhak sedikitpun atas hak asuh terhadap Putra satu-satunya itu. Ya, Theo adalah putranya selamanya begitu.


"Kenapa kau membawa Theo pergi, Alexa!" teriak Bagas di depan kemudi mobilnya. Bahkan, ia terlihat berkali-kali membenturkan kepalanya kepada gagang stir yang bulat melingkar itu.


"Arrgghh!"


"Seharusnya dari semalam aku sudah menjemput Theo. Aku salah karena telah mengabaikannya. Theo pasti sedih lalu Alexa berpikiran macam-macam tentangku. Ya, pasti seperti ini kronologinya. Lalu, sekarang aku harus apa! Kemana Alexa membawa Theo pergi! Akkh!" Bagas histeris, merutuki dirinya sendiri. Memukul gagang stir berkali-kali. Hingga akhirnya bahu itu berguncang dengan hebat. Hatinya sangat kalut. Belum pernah ia merasakan takut seperti ini. Kehilangan jejak dari kedua orang yang sangat berarti dalam hatinya. Alexa dan Theo.


"Alexa! Theo! Aku menyayangi kalian!" Bagas menjerit laksana orang yang kehilangan akal pikiran. Ia mengeratkan bibirnya menahan Isak tangis yang ingin terus keluar dari bibirnya. Jakun terlihat turun naik seiring dadanya yang sesak. Ia merasa bersalah dan gagal. Bagas, memegangi kening. Ia menangis tanpa suara.


Hanya terlihat butiran kristal bening itu yang luruh melewati rahang tegasnya. Mata bening dengan iris pekat itu berkaca-kaca. Hatinya sangat terluka dengan kehilangan ini. Bagas takut sekali. Di luar sana, pasti banyak pria yang akan menerima Alexa.


Meskipun keadaan wanita itu tidak lagi perawan. Alexa, memiliki kharisma dan daya tarik yang tidak di miliki oleh wanita lain. Inilah, salah satu hal yang Bagas takutkan. Ia sekarang menyadari bahwa, ternyata dirinya sudah sedalam ini mencintai Alexa.

__ADS_1


"Tolong, berikan sedikit jejak. Agar aku dapat menemukan kalian secepatnya. Maafkan, ketidaktegasan ku, Alexa. Aku ingin hidup bersamamu. Mengurus Theo berdua denganmu


Kau mau kan, Lex," lirih Bagas berbicara seorang diri. Tapi percuma, orang yang dimaksud tidak tau apalagi mendengar. Kenapa tidak mengatakannya lebih awal saat Alexa ada di depan matanya. Kenapa harus takut pada ketentuan Anggara. Pria itu yang notabene adalah papa kandungnya, Hanya memikirkan kemajuan atau kemunduran dari perusahaan. Tanpa pernah sekalipun memikirkan perasaannya.


Dengan perasaan kalut, di mana kesedihan bercampur dengan rasa takut. Bagas melajukan kendaraannya mahalnya itu dengan kecepatan penuh. Memutuskan mencari keberadaan Alexa dan juga Theo tanpa perencanaan. Otaknya mendadak Buntu. Hatinya mencelos dan rapuh. Kakinya gemetar dan dadanya sesak.


Mana sampai pikirannya hingga sejauh ini. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi akibat ocehan Anggara kala itu mengenai status sebenarnya Theo. Alexa, pasti hanya ingin melindungi putranya. Sebab, Alexa berpikir jika dirinya hanya akan menjadikan Theo sebagai alat pelampiasan dendam semata. Jujur, itu sempat terbersit dalam pikiran picik seorang Bagas. Dimana kala itu emosi yang berakibat dari rasa kekecewaannya yang begitu dalam.


Akan tetapi, hati nuraninya mematahkan semua. Perasaannya yang kuat terhadap Theo mampu menepis segala kebencian yang diciptakan oleh dua orang manusia tak berperasaan, Lou dan Yukia.


Bagas mengemudi bak orang kesetanan. Matanya menengok kiri kanan berpikir mungkin ada Alexa dan Theo lagi ngaso sambil makan gorengan. Kau pikir Alexa bodoh! Kau yang bodoh Bagas! Otakmu karatan terlalu lama berpikir!


ckiiittt!


Bagas mengerem mendadak kendaraannya. Untung saja tidak sampai menabrak tukang kerak telor yang menyebrang pada lajur zebra cross itu. Seketika pikiran cerahnya terbuka. Setelah lampu kembali hijau Bagas membanting stir-nya karena ia memutuskan berbelok ke kantor saja.


_______


"Biarkan saja mereka pergi! Lebih bagus!" seru Anggara ketika Bagas melaporkan kepergian Eca yang membawa Bagas. Seperti dugaannya, bahwa sang papa pasti tidak akan memiliki sedikitpun kepedulian lagi. Apalagi setelah tahu bahwa Theo memiliki darah seorang penghianat dan wanita yang dibenci mengalir dalam tubuh mungilnya itu.

__ADS_1


Meskipun sebelumnya Anggara sangatlah sayang dan memanjakan Theo. Itu semua karena Ia berpikir bahwa anak itu adalah keturunan dari Bagas dan juga darah dagingnya. Ternyata pada kenyataannya,Theo tidak memiliki sedikitpun darah keturunan dari keluarga besar Gustavano.


Mulai saat itulah Anggara memutuskan hubungannya dengan bocah kecil yang selama ini dia sayang dan dia manjakan itu. Seketika perasaan sayangnya berubah menjadi benci yang teramat sangat. Apalagi ketika Anggara memikirkan betapa bodohnya ia yang telah ditipu selama 5 tahun lamanya oleh asisten Lou Han. Bahkan pria itu memiliki anak emang Yukia. Membuat putra satu-satunya menambal akibat hubungan gelap keduanya. Merencanakan hal yang akhirnya tercium oleh Anggara.


"Aku tidak peduli! Jika memang Papa susah tidak menganggap Theo cucu lagi. Akan tetapi, aku tidak bisa sepertimu! Rasa sayang ku pada anak itu, lebih besar dari kebencian ku terhadap kedua orang tuanya. Anak itu tidak bersalah, Pa! Dia tidak berhak menanggung semua dosa dari kedua orang tua brengsekk-nya itu!" ucap Bagas begitu berapi-api.


Bagas pun segera keluar dari ruangan Anggara, percuma bicara dengan manusia berhati es itu.


______


"Alexa, kenapa kau hanya memandangi daging Wagyu-nya? Apa kau tidak suka?" tanya Azriel. Padahal Alexa sedang menahan mualnya tatkala melihat daging panggang tersebut. Tak tahan juga akhirnya.


"Ugh!" Alexa seketika menutup mulutnya, lalu menunduk untuk ijin kebelakang.


Ketika di toilet.


"Kenapa aku mual setiap melihat daging steak. Padahal biasanya aku menyukai makanan mahal itu. Tiba-tiba, aku mau makan omelet."


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2