
🏹🏹🏹🏹🏹
"Itu hanya --" Alexa tidak dapat meneruskan lagi ucapannya. Karena Lian telah membopong dirinya.
"Hei! Apaan sih! Turunin gak!" pekik Alexa sambil berpegangan karena takut jatuh. Mau tak mau ia melingkarkan tangannya ke leher Lian. Baru kali ini Alexa di gendong. Ketika usianya sudah sebanyak ini.
"Aku harus membawamu ke rumah sakit. Dialah!" ujar Lian yang tidak menerima penolakan dari Alexa. Sementara itu, Mey-Mey yang berjalan di belakang keduanya hanya dapat menghela napas pasrah. Dirinya iri karena publik figur favoritnya sama sekali tak melirik ke arahnya. Bukannya ia tak senang jika Lian lebih memperhatikan Alexa. Hanya saja, setidaknya ia di sapa gitu loh. Jangan dikacangin seperti ini.
'Huh, sabar ya Mey. Lu kagak boleh iri. Kebahagiaan Alex kan kebahagiaan lu juga. Lagian, apa yang mau di liat sama Lian dari elu. Lu kan pendek, sementara Alexa emang cantik dari bayi. Mereka berdua sepadan. Jadi elu tau diri aja ya Mey-Mey.' Batinnya menasehati serta menghibur diri sendiri.
Seseorang di balik dinding tengah mengeratkan geraham serta kepalan. Berkali-kali memukul tembok keras di samping hingga ia sendiri mengalami lecet pada setiap buku jari tangannya. Entah apa yang telah membuatnya marah. Dadanya seakan panas otaknya serasa terbakar, akan tetapi dia pun bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Wanita itu bukan miliknya, meskipun ia yang telah tanpa sengaja mengambil barang mahkota itu. Namun, walaupun begitu ia tetap sangat tidak suka jika ada pria lain yang memperhatikan serta menyentuh Alexa. Seakan wanita itu hanya miliknya seorang, bukankah itu perasaan yang aneh?
"Bocah sialan! Selalu mencuri start dariku!" geram Bagas yang mengabaikan perih pada seluruh jari tangannya. Ia membiarkan luka itu, untuk meminta pertanggungjawaban nantinya pada sang asisten.
__ADS_1
Setelah Lian Feng membawa Alexa dan Mey-Mey pergi. Bagas pun masuk kedalam kendaraan mewahnya. Ia berniat membuntuti mereka, melupakan bahwa sang istri atau calon mantan istrinya itu kini tengah berteriak memanggil namanya.
"Bagas ...!" teriak Yukia. Sudah beberapa kali semenjak siuman, ia terus bergumam memanggil nama suaminya. Suami yang ternyata tak lagi menganggapnya ada dan berarti. Suami yang selama ini ia abaikan, kini perlakuannya itu berbalik kepadanya. Ternyata rasanya sungguh tidak enak.
"Suami anda tidak pernah datang lagi kesini, Nyonya. Mungkin, beliau tengah sibuk. Saya akan mengabari bahwa anda telah siuman," ucap sang perawat wanita itu kepada Yukia. Ia tersenyum ramah pada wanita yang seluruh wajah dan lehernya terbungkus oleh kain perban berwarna putih itu.
'Apa! Jadi, selama aku terbaring ... Bagas mengacuhkan ku? Pasti semuanya karena asisten sialan itu. Pelacur murahan tak tau di untung! Seharusnya kau yang tergeletak disini bukan aku!' Yukia memaki dan mengumpat terus dalam hati. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana Bagas bisa cuek padanya. Kemana perasaan dan perhatian dari suami bodohnya itu. Bukankah selama ini Bagas cinta mati hingga memujanya? Yukia memegangi wajahnya dengan hati bergetar.
"Hiks. Suster! Susteerrr ...!" teriak Yukia yang mana membuat perawat tadi mendatanginya lagi dengan tergopoh-gopoh.
" Kenapa wajahku macam mummy begini? Apakah wajah cantikku rusak semua? Berapa persen luka bakar yang ku alami?" cecar Yukia shock. Ia baru sadar jika wajahnya serta lehernya dibebat.
"Anda mengalami luka bakar hingga tujuh puluh delapan persen, Nyonya. Untung saja, retina mata anda tidak terkena cairan kimia tersebut. Jika tidak, mungkin anda sudah mengalami kebutaan permanen sekarang. Akan tetapi, kami terpaksa mengamputasi kedua telinga anda," jelas sang perawat dengan lugas. Membuat Yukia tak sesak seakan berada dalam ruangan tanpa oksigen.
__ADS_1
"Ti–tidak mungkin!"
"Arrrggghh! Aku tidak mau cacat! Aku bukan si buruk rupa! Aku cantik!" teriak Yukia histeris, hingga selang infusnya tertarik dan lepas. Maka sang perawat pun mau tak mau memanggil kawan-kawannya.
"Beri dia suntikan penenang. Setahuku, dia adalah model ternama dari merek luar negeri. Sudah sepantasnya dia tidak terima dengan apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini," Pendapat dari salah satu perawat, yang miris sekaligus prihatin atas apa yang menimpa Yukia. Karena ia tau benar bagaimana wajah sebelumnya dan juga setelah ini. "Apa wajahnya benar-benar rusak dan tidak bisa kembali semula?" tanya perawat yang pertama menangani Yukia. Mereka telah selesai memberi suntikan penenang hingga kini pasien tersebut tenang dalam tidurnya kembali.
"Meskipun dia menjalani operasi bedah plastik termahal sekalipun. Wajah lamanya tidak akan kembali lagi dengan normal. Karena, terdapat beberapa unsur yang tidak bisa di perbaiki dengan oplas. Ia bisa saja menggunakan caping telinga palsu juga di bagian kelopak matanya. Semua tidak akan sama lagi. Sungguh kasian, karirnya pasti hancur setelah ini," ucap perawat itu dengan nada lirih. Dia tak tau saja jika apa yang dialami oleh Yukia adalah akibat dari rencana jahatnya. Bisa dibilang ini adalah senjata makan majikan.
Kembali pada sang CEO yang tengah membuntuti asistennya sendiri. Wajahnya mengeras karena kesal. Ingin rasanya ia maju dan menghajar anak boyband itu. Dimana saat ini ia kembali menggendong Alexa hingga kedalam ruang sakit. Bagas menyesali apa yang ia lihat di depan kedua matanya saat ini.
"Tunggu!" teriak Bagas menghentikan langkah sahabat dari asistennya itu. Mey-Mey sontak berbalik ketika suara bariton itu melengking di belakang tubuhnya. Terdengar langkah tegap menghampiri dirinya yang berdiri memaku.
"Bagaimana anda bisa ada disini?" heran Mey-Mey.
__ADS_1
...Bersambung...