
🏹🏹🏹🏹🏹
"Untuk apa anda kemari? Emh, maksudnya kenapa bisa ada disini? Bukankah anda seharusnya ada di kantor?" cecar Alexa heran. Sebab, bos-nya itu bisa tiba-tiba datang seperti ini. Sangat pas sekali dengan kejadian na'as yang baru saja ia lihat di depan mata kepalanya sendiri.
Bagas yang mendapat pertanyaan seperti itupun seketika terkesiap. Jawaban apa yang akan dia katakan pada Alexa. 'Masa iya aku harus bilang kalau tadi di kantor mendadak khawatir, lalu aku berinisiatif membawakan susu kurma dan berakhir dengan mengikutinya dan sampai kesini.' Batin Bagas ragu. Sungguh akan sangat menjatuhkan image-nya sebagai seorang pemimpin perusahaan jika dirinya harus meninggalkan rapat demi seorang asisten.
"Aku datang ke apartemen, keadaan sudah ramai dan tidak terkendali. Terpaksa aku mengikuti mu kesini. Sebab kupikir kau ikut terluka," jawab Bagas asal. Setidaknya ia menemukan alasan sehingga martabatnya sebagai Presdir dingin tetap aman.
"Adikku mati. Ditembak polisi." Alexa berkata dengan dingin dan datar. Bahkan pandangannya kosong dan lurus menatap ke depan.
Sontak hal itu membuat Bagas memperhatikannya lebih dalam. Menelisik raut yang ternyata tengah dirundung sedih karena kehilangan.
"Nona, mari. Dokter Wijaya sudah menunggu kedatangan anda." Ucapan sang perawat sukses mengembalikan kesadaran Alexa. Membuatnya kembali pada kenyataan bahwa tangannya harus diperiksa.
"Saya tidak memerlukan kursi roda, Sus. Saya masih bisa berjalan," ucap Alexa menolak benda yang di sodorkan oleh perawat tersebut. Akan tetapi sebuah suara bariton memberi perintah yang tentunya tidak mampu di tolak oleh Alexa.
"Biar saya saja." Bagas mengusir perawat yang ingin mendorong kursi roda tersebut. Membuat Alexa menoleh cepat kebelakang.
"Anda tidak perlu melakukan ini, Tu--" Seketika kata-kata yang akan Alexa ucapkan tertelan kembali. Sebab, Bagas memberi sorotan mata tajam penuh arti. Mengisyaratkan bahwa tidak boleh ada penolakan dari siapapun. Auranya begitu dahsyat sampai mulut Alexa terkunci rapat. Sehingga ia memilih untuk mendiamkan saja apapun kelakuan bos-nya itu.
Mereka pun masuk kedalam ruangan pemeriksaan. Dokter Spesialis Kulit dan kecantikan itu sengaja di booking oleh Lian Feng. Seorang dokter yang berdarah Tionghoa sama seperti dirinya. Alexa pun disambut dengan senyum ramah dari pria dengan rambut botak di depan kepalanya. Ya, dokter Wijaya mengalami kebotakan dini padahal usianya belumlah sampai ke angka setengah abad.
"Lho, ternyata yang menemani bukan Lian ya. Pasti anak itu sibuk dengan karirnya kan?" tanya dokter Wijaya seraya mengenakan sarung tangan medisnya.
" Beliau Bos saya, Dok," jawab Alexa sedikit kikuk. Sebab, raut wajah dokter itu seperti terdapat kekecewaan.
__ADS_1
"Tadinya saya sudah senang. Saya pikir akan bertemu dengan keponakan yang sudah lama. tak saya lihat. Secara langsung maksudnya ya. Kalau melihat di televisi atau media sosial ya sering. Sebegitu sibuknya sampai untuk bertemu dengannya pun sangatlah sulit," tutur dokter tersebut yang membuat Bagas jengah bukan main. Kenapa malah curhat bukannya langsung memeriksa Alexa, pikirnya.
"Sebenarnya, Lian tadi ingin sekali mengantar saya. Akan tetapi, agensi keburu menghubunginya. Sebab itulah saya mengusirnya pergi. Bakalan ada lebih banyak orang yang kecewa jika dia tetap bersikukuh di sini. Bukankah tanggung jawab dan konsekuensi dalam setiap profesi itu harus di prioritaskan dari apapun juga?" tutur Alexa. Membuat sang dokter tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Nona muda. Ternyata selain cantik, kau juga sangat bijak dan pengertian. Pantas saja Lian begitu menghawatirkan dirimu," ucap sang dokter yang membuat Bagas semakin mengeratkan rahang serta gigi-giginya.
'Sialan! Mereka berdua membuatku seperti nyamuk di sini. Apa hebatnya anak laki-laki dengan wajah dempulan itu!' Sungut Bagas dalam hatinya. Terlihat jelas sebenarnya di wajahnya yang di tekuk serta tatapannya yang menghunus tajam. Sayang, hanya Alexa yang dapat merasakan aura tersebut.
"Mari saya periksa lukanya. Sebelumnya, Suster tolong di buka ya perbannya!" titah dokter Wijaya kepada perawat yang membantu nya. Perban pun mulai dibuka perlahan dan Alexa mulai merasakan perih di sekitar area punggung tangan hingga ke beberapa jari-jemarinya.
"Woahh, lukanya tidak apa. Lalu yang di perban itu darah apa ya?" heran sang dokter. Sebab ia pikir tadi luka di tangan Alexa lah yang mengeluarkan darah. Akan tetapi ternyata bukan.
"Berarti itu darah dari adik saya Dok!" Alexa berkata kemudian menundukkan kepalanya. Bulir kristal bening itu kembali jatuh, akan tetapi ia buru-buru mengusap itu. Tak ingin sampai ada siapapun yang menyadarinya. Meski tanpa sepengetahuan dirinya, ternyata setiap gerakan dan hal yang dilakukan olehnya tak luput dari perhatian Bagas.
Pria itu terus memperhatikan Alexa yang tengah di berikan salep pada luka bakarnya. Terbersit sebuah tanya tak habis pikir sekaligus heran, kenapa Alexa sebegitu merasa kehilangan. Bukankah lebih baik jika anak itu mati.
"Baik, Dok. Terimakasih banyak. Adakah obat yang dapat meredakan rasa senut-senut di luka saya ini Dok? Rasanya sungguh tidak nyaman," pinta Alexa. Sang dokter pun tersenyum.
"Ada, nanti di tebus obatnya. Lalu di minum teratur. Saya sudah memberikan obat terbaik sesuai permintaan dari Lian," ucap sang dokter jujur. Lagi-lagi ia tersenyum sambil menatap Alexa. Membuat, Bagas yang tengah duduk bersidekap terlihat mendengus. Ia sejak tadi terus menatap ke depan, memperhatikan gerak-gerik dari dokter spesialis kulit tersebut.
"Dasar tua keladi. Tak sadar umur!" umpat Bagas pelan.
"Apa sudah selesai?" tanya Bagas dengan suara khas miliknya yang berat. Membuat dokter ganjen itu sadar seketika. Sesaat tadi dia sempat terlupa jika Alexa tidaklah datang sendirian. Apalagi saat bertanya, Bagas sengaja menatapnya dengan lekat. Membuat dokter Wijaya menelan ludahnya sudah. Ia tercekat mendapat ancaman tanpa kata dari aura dingin pria di belakang Alexa.
" Sepertinya sudah, iyakan Dok?" tanya Alexa memastikan. Sebenarnya dia pun juga merasa tidaklah nyaman. Sebab, Alexa tidak polos. Ia paham arti dari setiap senyum dokter ini. Apalagi sang dokter sendiri yang sengaja memasangkan perban di tangan Alexa.
__ADS_1
"Kalau begitu permisi!" Bagas pun langsung menarik gagang kursi roda tersebut dan memutar nya. Sebelum berbalik ia kembali memberikan tatapan menghunus kearah sang dokter.
GLEK!
"Hii ... serem banget tuh orang!" gumam dokter Wijaya seraya bergidik selepas kepergian pasiennya itu.
"Kita langsung pulang? Lalu obatnya?" heran Alexa karena Bagas mendorongnya keluar rumah sakit melewati apotik.
"Biar anak buah ku nanti yang mengantri. Kau pasti lelah dan butuh istirahat sekarang," ucap Bagas seraya menghentikan laju kursi rodanya. Sebab keduanya telah sampai di depan mobil milik Bagas.
"Ini resepnya, biar saya yang membawa mobil." Bagas menyerahkan resep obat serta uang cash. Agar sopir pribadinya itu bisa ke apartemen naik taksi.
"Kau bisa na--" Kata-kata Bagas menguap di udara ketika ia melihat Alexa dengan gesit turun sendiri dari kursi rodanya, kemudian masuk dan duduk manis di dalam kendaraan mewah miliknya ini.
"Kau sangat sehat. Setidaknya aku tidak perlu mengendong mu nanti!" dengus Bagas, yang entah kenapa justru tersirat nada kecewa dari cara bicaranya.
"Memang saya sehat. Siapa juga yang minta di gendong!" ketus Alexa karena ucapan Bagas seakan menyindirnya.
"Tidak minta tapi kau terlihat menikmatinya!" sarkas Bagas lagi membuat Alexa membulatkan matanya.
"Terserah!"
"Hei! Dimana Mey-Mey?'
__ADS_1
...Bersambung...