Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO Bab 42. Obrolan Di Balkon 2


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


Dada yang saling menempel serta letak wajah yang begitu dekat. Sehingga, keduanya dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Bahkan deru napas yang makin tersengal, juga tatapan dari Bagas yang sendu. Membuat Alexa merasakan debaran jantung yang lain dari biasanya. Kedua iris pekat mereka saling menatap lekat tak bergeser sejak tadi.


Bagas telah memindahkan tangannya ke pinggang ramping Alexa. Bahkan, ia menarik tubuh itu agar lebih dekat, hingga kini tak lagi ada jarak yang memisahkan raga keduanya. Alexa meletakkan kedua tangannya di bahu Bagas. Ia terhanyut tatapan penuh arti itu, pandangan yang membuatnya menjadi seakan tak sadar siapa dirinya saat ini.


"Aku ... tidak akan membiarkanmu pergi," ucap Bagas pelan sambil terus menatap wajah Alexa. Bahkan, kini pandangannya telah terjerumus ke area bawah hidung mancung asisten cantiknya itu.


"Tugasku sudah selesai, jadi ... biarkan aku kembali pada kehidupan ku semula. Dunia kalian bukanlah untukku," sahut Alexa, mulai mengendurkan tangannya dan sedikit mendorong tubuh Bagas. Namun, Bagas justru semakin menarik raganya hingga kini keduanya benar-benar menempel begitu erat.

__ADS_1


Alexa semakin tak bisa bernapas dengan posisi seperti ini, otaknya mulai tak sinkron. Hatinya justru tengah mengagumi pahatan sempurna di hadapannya. Bahkan ia berkeinginan untuk mengelus rahang yang baru saja di cukur itu. Hingga warna kebiruan nampak pada kulit wajah Bagas yang putih.


'Kenapa pria ini memelukku begitu erat? Aku tidak menyesali posisi seperti ini. Aku takut, jika hatiku tak sadar diri. Aku harus kembali pada kenyataan ... harus!' batin Alexa, akan tetapi wajah Bagas malah semakin mendekat kepadanya. Hingga hembusan napas hangatnya menyapu wajah dingin Alexa.


"Kami sudah tenggelam dalam pesona mu Alexa. Kau telah menarik aku dan Theo kedalam duniamu. Kalau kau pergi, maka ... aku dan Theo akan ikut." Bagas berkata seraya menyatukan keningnya dengan Alexa.


Bagas menaikan satu tangan ke punggung Alexa dan menekan tubuh itu hingga dada mereka semakin menempel lekat. Alexa semakin gusar, hatinya dan otaknya menolak keras akan tetapi raganya mulai terhanyut.


"Apa kau ingin bukti, bahwa kehadiran mu itu berarti untukku dan juga Theo?" tanya Bagas dengan suara parau karena ia tengah menahan sesuatu dalam dirinya. Entah kenapa gejolak dalam dirinya tak tertahankan lagi jika dekat dengan Alexa. Padahal selama ini, tak ada satu pria pun yang mampu menandingi kekuatan iman dari Bagas. Secantik dan seseksi apapun wanita yang menggodanya, ia tidak akan terpengaruh sekali pun penggoda itu telanjang di hadapannya. Sementara dengan Alexa, ia tak dapat lagi menahan rasa yang sejak beberapa hari lalu membuncah hendak meledakkan dadanya.

__ADS_1


"Bu–bukti?" bingung Alexa, tak mengerti apa maksud dari perkataan Bagas barusan. Dadanya turun naik dengan seru napas yang sudah sulit ia kontrol lagi. Tatapan intens dari Bagas, sungguh membahayakan jantungnya. Ia merasa bahkan darahnya berhenti mengalir dalam tubuhnya.


"Bukti, kalau kami terlanjur bergantung padamu. Terutama, aku ...," sahut Bagas dengan hembusan napas yang menderu ke wajah Alexa.


"A–apa? Maksud--" Alexa tak dapat meneruskan ucapannya, hingga kata-kata itu kembali tertelan kedalam tenggorokannya. Dikarenakan, Bagas Gustavano telah membungkam mulut Alexa dengan bibirnya. Kedua mata indah Alexa pun seketika terbelalak lebar. Mendapat serangan mesra dari bos galak bin judesnya.


Malam ini, pertama kalinya Bagas bersikap begitu lembut dan hangat padanya. Hingga, seluruh sendi Alexa terasa tak lagi berpihak pada bumi. 'Siapapun, tolong aku ...'


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2