
🏹🏹🏹🏹🏹
"Apa kau masih ingat pengasuh Azriel ... Ivanna?"tanya Sofie menahan segala kesal dan juga benci dalam hatinya. Kalau menuruti perasaannya, ingin sekali dirinya langsung mencekik saja leher suami pendusta-nya itu saat ini juga. Sofie benci setengah mati kepada orang yang suka berbohong. Apalagi jika orang tersebut mampu menyimpan kebohongannya selama bertahun-tahun.
Sofie juga sangat membenci pria yang jahat terhadap perempuan, iya sungguh tidak menyangka jika sang suami begitu tega menelantarkan Ivanna. Padahal, jelas iya yang telah berbuat tindakan asusila terhadap pengasuh dari Putra mereka satu-satunya.
Entah, di mana Navier meletakkan otak dan juga hatinya. Sofie, juga Tak habis pikir. Jika selama bertahun-tahun ini ia telah menghabiskan waktunya untuk memberikan seluruh cinta dan perhatiannya kepada seorang pria yang tidak memiliki hati dan perikemanusiaan.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya sayang?" heran Navier. Ia bukanlah pria yang bodoh. Tentu saja Navier curiga, Jika ada hal yang kemungkinan terjadi tanpa sepengetahuan dirinya. Navier ternyata peka, disebabkan adanya sedikit perubahan dari sikap serta tingkah laku dari sang istri.
'Apakah wanita bermata bulat itu ... kembali?' pikir Navier. Pria paruh baya yang memang doyan daun muda itu, malah berpikir jika Ivanna kemungkinan menampakkan diri untuk meminta jatah hak warisan anak yang ia kandung dulu. 'Aku tidak akan pernah mengakui anak itu. Bagaimana pun, aku akan menyangkalnya. Wanita bodoh seperti, Ivanna tidak akan bisa berbuat banyak,' Navier terkekeh penuh kemenangan dalam hatinya.
"Kau tau, jika Ivanna telah tiada?" pancing Sofie. Ia terus mengeratkan rahang pada giginya. Berusaha menahan segala kekesalan dan menyimpannya dalam hati. Meskipun pada saat ini ia merasa jika dadanya hampir meledak.
"Apa? Tiada?" kaget Navier, meskipun begitu tersirat senyum tipis yang tidak di sadari oleh siapapun.
"Kau ini bagaimana sayang. Mana mungkin aku tahu beritanya, jika keberadaannya saja aku tidak tahu, bahkan kepergian wanita itu saja secara sembunyi-sembunyi. Dia itu bukanlah wanita yang baik kau tidak perlu memikirkannya lagi," ucap Navier tanpa perasaan bahkan tanpa ada sedikitpun rasa bersalah tersirat di wajah arogannya.
Sofie semakin geram. Masih saja Navier memfitnah Ivanna di hadapannya. Jika dulu sebelum ia tahu kenyataannya, mungkin Sofie akan percaya begitu saja, apapun yang dikatakan oleh suaminya.
__ADS_1
Sofie yang kini telah memegang bukti akurat sebagai bukti dari akibat kejahatan dan juga perlakuan tanpa perasaan dari Navier kepada Ivanna.
"Bagaimana, jika saat ini anak yang dikandung oleh Ivanna muncul di hadapan kita? Apa yang akan kau lakukan, Vier?" cecar Sofie sengaja menjatuhkan dulu mental Navier dengan segala teka-teki yang ia utarakan.
"Tidak mungkin sayang, memangnya apa urusannya dengan kita?" ucap Navier mengelak seraya memberi usapan kuat pada bahu Sofie. Pertanda, bahwa ia tidak menyukai pembicaraan saat ini dan ingin segera Sofie mengakhirinya.
"Cih! Jika memang ada sangkut pautnya denganmu bagaimana?" tanya Sofie sengaja langsung melempar poin, sebab ia sudah tidak tahan lagi. Ia ingin mendengar Navier mengakui kebejatannya selama ini. Untung saja, Azriel dan Alexa belum sampai menikah atau melakukan hal yang di luar batas.
"Apa maksudmu, Sofie? Kenapa sejak tadi kau seperti sengaja menyudutkan diriku?" Akhirnya, Navier Bawazier memahami bahwa dirinya memang sengaja tengah di kulik oleh Sofie. Bagus saja, ia telah memasukkan sesuatu pada sambungan komputer.
Sofie menoleh, kepada Navier yang memang kini tengah berdiri di sampingnya dengan tatapan lekat tak mengerti. "Lihatlah wanita ini!" Sofie menunjukkan foto yang terdapat pada layar ponsel pintarnya. Dimana di sana terdapat foto Alexa yang tengah tersenyum. Seketika , Navier berjalan mundur dengan kedua mata yang membola.
"Gadis itu, ingin mencari ayahandanya. Apa kau, tidak merasa wajib untuk membantunya?" ucap Sofie lagi. Ingin rasanya ia tertawa kencang kala melihat raut wajah melongo, Navier yang macam orang menahan mulas itu.
"Kenapa, harus aku yang membantunya?" tanya Navier pada Sofie setelah ia berusaha untuk kembali menetralkan hati dan juga parasnya.
"Tentu saja lantaran Ivanna bekerja bersama dengan kita selama kurang lebih lima tahun. Apa kau tidak ingin membantu pengasuh terbaik Azriel kala itu?" Sofie yang lelah untuk terus melempar pertanyaan kepada Navier.
"Aku tidak ada waktu untuk melakukan apa yang engkau katakan. Aku ini pria tersibuk kau kan tau. Begitupun dengan Azriel. Sebaiknya, kau saja jika memang ada niat membantunya," ujar Navier pada Sofie. Ia semakin yakin jika ada hal yang aneh yang sengaja sang istri kuak darinya.
__ADS_1
'Apa maksud Sofie? Apa yang wanita itu rencanakan? Sejauh mana ia tau tentang kehamilan Ivanna?' batin Navier penuh dengan kerisauan dan sejuta tanya dalam hatinya. Ia mendadak gelisah, sejak Sofie menunjukkan satu foto wanita dimana bentuk dan warna matanya sangat mirip dengan Ivanna.
Seketika ingatan malam itu berkelebat begitu cepat. Teriakan dan juga permohonan dari bibir mungil Ivanna. Ketika, dengan brutal dirinya merobek mahkota yang Ivanna pertahankan seumur hidupnya. Tanpa perasaan, Navier terus melahap wanita lemah itu di bawah kukungannya. Bahkan, tak cukup sekali, Navier membuatkan bibit unggulnya menyembur dan menggenangi rahim subur Ivanna. Terbukti, perbuatannya malam itu, membuat wanita muda energik yang lemah lembut dan keibuan itu akhirnya hamil dan kabur dari mansion miliknya.
"Apa kau sedang mengingat-ingat dosa, Vier?" tanya Sofie begitu menohok dan menghujam sudut hatinya yang mulai dihantui rasa bersalah.
"Apa sebenernya maksud mu, Fie? Apa yang kau tau tentang wanita muda di dalam foto itu?" cecar Navier mulai penasaran. Tentu saja hal itu membuat sudut bibir Sofie melengkungkan senyum kemenangan.
______
"Aku akan membawa mu pulang. Aku akan merawat mu dengan baik," ucap Bagas pada Alexa, tapi ...
"Kau tidak bisa membawa Alexa pergi dari sini hingga ia melahirkan nanti! Kau tau kan, jika turun dari kasur saja bisa membahayakan nyawanya dan juga bayi kalian," ujar Azriel memperingati. Lagipula ia tidak akan membiarkan Alexa kembali sebelum sang Daddy memberi marga Bawazier pada nya. Memberi segala hak Alexa dari kepemilikan seluruh aset keluarganya. Alexa akan kembali dengan membawa nama besar dan kehormatan. Sehingga, Anggara tidak akan berhak atau pun pantas untuk menghina Alexa lagi.
"Aku akan memastikan jika Alexa tidak perlu berjalan. Aku akan mempersiapkan tim medis terbaik untuk selalu memantau keadaannya selama berada di dalam pesawat. Semua pasti bisa ku lakukan, mereka berdua adalah milikku!" seru Bagas, mulai mengeluarkan sikap arogansi nya.
"Milikmu? Yang benar saja? Kau sama sekali tidak berhak sedikitpun pada mereka berdua! Jika menginginkan adikku, maka kau harus mendapatkan ijin dariku!" ucap Azriel tegas. Membuat kening Bagas sontak mengkerut lantaran bingung.
"Adik?"
__ADS_1
...Bersambung ...