Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO Bab 38. Kenyataan Theo si T-rex kecil.


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


Petang ini terlihat Bagas keluar dari ruangan Presdir utama Vi-Gen Tech. Wajahnya begitu kusut entah apa yang baru saja terjadi di dalam. CEO berwajah tampan tapi kaku itu berjalan dengan tegap memasuki lift. Ia ingin turun ke lantai dimana ruangannya berada. Meski hanya selisih satu lantai, tetap saja menggunakan lift. Sebab, tak ada istilah seorang pemimpin perusahaan yang menuruni tangga kecuali darurat.


"Virni cepat buatkan aku kopi. Gelas besar, dan tanpa gula!" pesan Bagas kepada sekretaris nya itu. Membuat wanita bertubuh tinggi besar itu bangun dari duduknya.


"Apakah, Tuan akan lembur malam ini?" tanya Virni Sebelum ia berlalu ke pantry.


"Ya, mungkin sampai pagi." Bagas pun hendak berlalu, akan tetapi panggilan Virni menghentikannya.


"Apa lagi yang anda perlukan selain kopi. Makanan kecil misalnya. Biar saya perintahkan kepada OB sebelum mereka pulang," tanya Virni lagi. Ia tak kaget lagi jika Bagas tiba-tiba memutuskan untuk lembur. Sebab, bos-nya itu sangatlah perfeksionis dan teliti ketika menangani proyek, atau disaat perusahaan mengalami masalah.


"Untuk sekarang hanya itu. Kalau kau ingin pulang tak apa." Setelah mengatakan pesan terakhir, Bagas pun membuka pintu dan masuk kedalam kantornya. Ia segera melepas jas kemudian memutar kursi dan langsung mendudukinya. Bagas juga melepas dasi, membuka dua kancing atas serta menggulung lengan baju hingga sebatas siku.


Kini, calon duda beranak satu itu telah siap di depan laptopnya. Ia menatap serius layar yang menunjukkan diagram angka yang membuat pusing kepala. Apalagi ketika deretan angka itu berjalan seiring dengan pupil mata Bagas yang bergerak-gerak.

__ADS_1


Tak berapa lama Virni masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. " Tuan, ini kopi dan juga ada kue pancong tanpa gula. Tadi saya berinisiatif menyuruh OB membelinya. Kebetulan pedagangnya memang berjualan di depan perusahaan," jelas Virni sebelum mendapat protes dari bos-nya itu.


"Terimakasih." Mau tak mau Bagas menerima apa yang telah di sajikan oleh sekretarisnya itu. Virni pun menunduk sekilas sebelum ia keluar dari dalam ruangan tersebut. Bagas tak pernah mengajaknya lembur untuk menemani, sebab bos-nya itu tau jika dirinya telah berumah tangga dan memiliki seorang anak yang menunggunya pulang.


Beberapa jam kemudian.


"Daddy!" panggil seorang bocah berusia sekitar hampir lima tahun. Kulitnya berwarna putih bersih dengan kedua pipi yang chubby. Tubuhnya lumayan berisi dengan kedua hazel-nya yang pekat. "Kenapa kau kesini?" Meski bertanya, Bagas tetap meraih sang putra untuk duduk keatas pangkuannya. seperti biasa, ia akan menciumi kedua pipi gembul milik Theo. Meskipun bukti itu telah menunjukkan dengan tingkat akurasinya hingga delapan puluh sembilan persen. Bagas tak mungkin menghempaskan begitu saja perasaan sayangnya pada putra yang menggemaskan itu.


Theo adalah salah satu penyemangatnya untuk mempertahankan perasaan juga rumah tangganya dengan Yukia. Kini, setelah semua terungkap tak ada lagi alasan baginya untuk bertahan macam orang bodoh tak berakal. Bagas mengeluarkan satu-persatu ganjaran yang akan diterima oleh Yukia. Kembali ia teringat obrolannya dengan Anggara sejak siang tadi. Meskipun ia tak menyetujui sikap kejam nan sadis yang memang menjadi tabiat dari sang papa. Sehingga, Bagas pun menolak untuk mengikuti jalan kemarahan yang tengah Anggara limpahkan pada orang-orang andalannya.


"Selain bertindak cepat, kau juga harus bertindak tegas. Bagas Gustavano! Semua yang berkhianat harus menemui malaikat maut dengan cara yang tak biasa!" ucap Anggara kala itu dengan wajah kaku serta geraham yang keras, karena ada kemarahan dan emosi tertahan disana.


"Setidaknya kerahkan beberapa orang untuk melindungi mu. Karena, Papa juga telah mengirim orang untuk menjaga Alexa." Begitu kata Anggara.


"Untuk apa para pengawal itu, aku tidak memerlukannya!" tolak Bagas dengan tegas. Ia berpikir bahwa selama ini baik-baik saja. Ia pun tak pernah yang namanya mendapat ancama atau kekerasan dari kejahatan. Bagas tidak memiliki musuh dari lingkungan pekerjaannya.

__ADS_1


"Kau selalu membantah kata-kataku, kapan kau mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi? pikirkan, jika sejak awal Kau mendengarkan pendapatku tentang wanita yang bernama Yukia itu. Tentunya kau tidak akan mengalami hal se pahit ini,"tutur Anggara.


"Aku tetap akan mengirim para pengawal untuk mengawasi keadaan Alexa di apartemennya. Kita tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang hendak memanfaatkan, kejadian serta prahara yang terjadi di keluarga kita. Ada orang licik yang bekerja di belakang layar sengaja ingin mendulang emas di dalam air yang keruh," tutur Anggara dengan nada tegas.


"Aku mengerti maksudmu, Pa. Lalu, apa hubungan Alexa dengan semua ini? Apa yang dimaksud dengan misi?" cecar Bagas sekalian mencari tau kata yang pernah tak sengaja diucapkan oleh Alexa. Kemudian, jakunnya turun naik seiring dadanya yang kembang kempis menahan emosi. Entah kesal, marah ataukah kecewa yang tengah dirasakan oleh Bagas saat ini. Sebab itu, ia menutup telinganya ketika Anggara menyebut siapa kemungkinan Daddy biologisnya Theo.


"T-rex, tidak boleh lama-lama di kantor. Ini sudah malam, sudah saatnya Dino kecil Daddy ini untuk tidur di atas kasur yang empuk," ucap Bagas sambil menciumi tengkuk sang putra yang wangi khas bayi. Sebab, Theo memang masih menggunakan minyak telon dan bedak bayi. Bagas pun menyusupkan kepalanya di antara tengkuk putra tampannya itu, sementara Theo tengah mengotak-atik rubik ditangannya.


Bagas menarik napasnya dalam. Ia menghirup aroma khas dari tubuh sang putra. Memberi ketenangan dalam hatinya menerima kenyataan bahwa, anak yang selama ini sayangi sepenuh jiwa dan raga bukanlah darah dagingnya sendiri. Ia sama sekali tidak membenci, Theo. Justru, Bagas takut jika orang tua biologis dari putranya ini akan mengambil Theo darinya.


Ingin rasanya ia menuruti emosi yang membakar dada serta akal sehatnya sesaat, untuk menghabisi saja orang tua kandung Theo yang telah menipu mereka. Bukankah hal itu wajar, sebab apa yang telah mereka lakukan itu sangatlah menyakitkan. Theo dan dirinya adalah korban.


"Kenapa Daddy lembur? Apakah pekerjaan di kantor sebanyak itu? Sehingga, Theo selalu tidak kebagian waktunya Daddy?" cecar bocah laki-laki itu polos. Ia terdiam dalam dekapan pria yang tengah memeluknya dengan erat. Sebenarnya bukan pekerjaan tidak bisa ditinggal, akan tetapi inilah caranya Bagas untuk melupakan masalahnya. Ia selalu melampiaskan emosi dan tekanan dalam jiwanya dengan bekerja. Menghabiskan malam di dalam ruang kerjanya ditemani bercangkir-cangkir kopi hitam tanpa gula. Minuman andalan Bagas di saat ia pikirannya dilanda stress.


"Theo mau menginap saja dirumah aunty Alexa!"

__ADS_1


"Baiklah, Daddy ikut!"


...Bersambung ...


__ADS_2