
🏹🏹🏹🏹🏹
"Seharusnya, Daddy berusaha," sungut Theo. Susah payah ia kabur dari dekapan sang Daddy. Bagas, kalau sudah bercanda dengan Theo pasti akan sangat seru sekali. Seperti pagi ini, wajah imut berpipi chubby Theo sampai memerah karena terus menerus diciumi bahkan terkadang Bagas akan menggigit pelan pipi tembem itu.
"Berusaha? Maksudmu?" tanya Bagas tak mengerti. Bahkan ia memasang wajah polos yang membuat Theo memukul keningnya sendiri.
"Di sini yang orang dewasanya itu siapa sih? Aku atau Daddy?" sungut Theo dengan bibir yang dimajukan ke depan.
"Eh, iya." Bagas hanya memasang cengiran polosnya. Sambil menggaruk kepala tak gatal ia memikirkan saran dari Theo. "Bagaimana, cara mendekatinya?" gumam Bagas pelan.
'Aduh! Sepertinya harus super Dino nih yang turun tangan juga.' batin Theo seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang Daddy yang kebingungan.
"Ayo kita sarapan!" Tiba-tiba Alexa sudah keluar dari kamar dan berpakaian rapi. Meskipun hanya stelan rumahan saja. Setidaknya, Alexa mengenakan yang sopan. Sebab ada dua tamu pria asing di dalam apartemennya.
__ADS_1
"Theo mau," ucap anak itu begitu manja. Bahkan, ia mengambil lebih dulu kursi yang berada di sebelah Alexa. Mendahului sang Daddy yang berniat ingin disana lebih dulu. Hal tersebut membuat Bagas serta merta mencolek bahu sang putra. Sementara, Alexa tengah sibuk menata topping dari bubur di atas mangkuk.
Dengan kode gerakan mata dan bibir, Bagas berniat memerintahkan Theo untuk pindah tempat duduk. Akan tetapi anak itu tetap tak mau bergerak. Bahkan Theo menolak permintaan sang Daddy dengan menggeleng cepat.
'Apa-apaan anak ini? Tadi katanya mau membantuku. Bahkan menyuruh Daddy-nya ini mendekati aunty cantiknya. Kenapa sekarang dia seakan tidak mau mengalah untuk memberiku akses itu?' batin Bagas tak mengerti. Sementara itu di depan mereka bertiga, Mey-Mey yang menyadari kericuhan Bagas dengan putranya hanya bisa mengulum senyumnya. Ingin sekali dirinya tertawa geli, ketika ayah dan anak ini berebut dekat dengan Alexa.
' Kau memang seperti magnet Lex. Siapapun, pasti menyukaimu. Selalu ingin dekat dan berharap perhatian darimu. Kau adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan. Bahkan, aku yang wanita saja selalu merasa kenyamanan itu bila berada dekat denganmu. Apalagi paras dan sempurnanya lekuk tubuhmu. Pria manapun pasti akan tergila-gila.' batin Mey-Mey memuji sahabatnya itu.
"Kau itu kenapa Mey?" tanya Alexa bingung seraya menyodorkan bubur racikannya untuk sahabat nya itu. Sebab, Mey-Mey hanya bisa memasaknya saja. Untuk bagian menyajikannya itu tugas Alexa.
"Kalian sedang apa?" heran Alexa yang merasa aneh pada keduanya.
"Tau tuh, Daddy! Masa, Theo di usir dari samping Aunty," ucap Theo mengadu. Membuat kedua mata Bagas membelalak seketika. Sementara di depan mereka, Mey Mey tak dapat lagi menahan gelak tawanya.
__ADS_1
"Haihh, ayah dan anak yang tidak mau mengalah. Sungguh hiburan di pagi hari," gumam Mey-Mey masih dengan kekehan pelan.
"Duduk kan bisa di mana saja," ucap Alexa tenang dan biasa saja. Sambil kembali meracik bubur ayam untuk dirinya. Sebab, yang untuk Theo dan Bagas sudah siap di santap.
Bagas yang telanjur di buat malu oleh putranya itu, mau tak mau mengambil kursi di sebelah Mey-Mey. Ternyata tak buruk juga. Ia jadi bisa memperhatikan dengan seksama ketika Alexa tenaga makan. Bergantian, sambil menyuapi putranya yang tiba-tiba manja itu. Yah, Theo akan selalu manja jika berasa di sisi Alexa. Bagaimana, ia bisa berusaha mengambil hati Alexa jika Theo selalu memonopoli waktu. Merampas perhatian dari Alexa untuk dirinya seorang.
Haduuhh, ini ceritanya saingan sama anak dong. Berat ya ampun! Berat! Apalagi, Theo itu lebih imut di bandingkan dengan mu, Bagas. Wkwk.
"Theo, bisa kan makan sendiri. Lagipula kau sudah sarapan oat dan susu tadi. Biarkan Aunty cantikmu itu sarapan!" ucap Bagas tegas yang mana Theo terus saja merengek agar Alexa menyuapinya terus.
"Apa, Daddy sedang iri padaku?" sindir Theo.
"Hei, kau!"
__ADS_1
...Bersambung ...