
🏹🏹🏹🏹🏹
Alexa tak mampu meredam rasa yang juga bergejolak di hatinya. Ia tak kuasa menolak apa yang tengah Bagas lakukan padanya. Bukannya pasrah saja, akan tetapi Alexa sudah mencoba menolaknya. Namun, sikap lembut yang Bagas berikan baru kali ini padanya. Serangan Bagas begitu mesra dan penuh perasaan. Berbeda dengan serangan yang pernah Bagas luncurkan beberapa waktu lalu. Semua ini membuat Alexa lupa, ia terbuai. Entah, mungkin di hatinya kini Bagas memang telah menempati salah satu sudut kosong.
Kesekian kali, Alexa mencoba mendorong dada Bagas. Menyudahi ciuman hangat yang lamban laun menjadi semakin memanas. Alexa telah merasa merinding di sekujur tubuhnya. Begitupun dengan Bagas. Namun, dirinya berusaha menahan. Apa yang ia lakukan saat ini benar-benar ungkapan isi hatinya. Ia tidak rela kalimat perpisahan itu terucap dari bibir Alexa.
Mau tidak mau, Alexa pun menggigit kecil bibir Bagas. Agar pria itu tersadar dan melepaskannya. Lagipula, dirinya sudah kehabisan oksigen juga. Ia butuh oksigen untuk membuat waras otaknya juga.
__ADS_1
"Sshhh ...," desis Bagas. Ketika Alexa menggigit bibirnya. Namun, ujung bibirnya tertarik keatas hingga sebuah senyum penuh arti tercetak jelas. "Maafkan aku, tapi--"
"Jangan berikan aku harapan yang tidak pasti. Jangan berikan aku kedudukan yang mungkin tidak bisa ku gapai. Jangan berikan aku mimpi yang tidak pantas aku impikan sekalipun." Alexa mendorong dada Bagas dengan kuat. Sebab laki-laki di hadapannya ini masih tetap tidak mau melepaskannya. Apalagi ketika Alexa mengucapkan kalimat ambigu barusan.
"Aku berjanji akan membuatnya pasti. Aku telah memisahkan Theo dari ibu kandungnya. Maka, aku tidak akan memisahkan dia darimu," ucap Bagas. Namun tetap tidak merubah keputusan Alexa. Asisten cantiknya itu menggeleng pelan, dengan senyum getir.
"Bagaimanapun, kasta adalah yang utama di nilai. Aku hanya ingin kehidupan tentangku kembali. Aku tidak pernah berani untuk memimpikan hal yang terlalu tinggi. Sesuatu yang tidak mungkin bisa ku gapai. Hati ini sudah cukup tersakiti hingga hancur berkeping. Aku harus kembali merawatnya agar pulih. Meski ia tidak akan kembali utuh seperti semula," tutur Alexa dengan nada sumbang.
__ADS_1
"Tapi papa-mu peduli!" balas Alexa. Napasnya naik turun menahan rasa yang bergejolak di dalam dadanya. Sorot mata teduh Bagas memang belom pernah ia lihat dan ia terima sebelumnya. Akan tetapi itu semua belum cukup untuk meyakinkan dirinya, bahwa Bagas sungguh memiliki rasa. Alexa berusaha tau dan sadar diri. Hatinya, tidak kuat jika harus di sakiti lagi. Luka yang di berikan oleh Anggara juga Leo, telah mengobrak-abrik harga dirinya. Hatinya telah luluh lantak. Sekelumit rayuan tidak akan mampu menggodanya. Alexa melepaskan tangan Bagas yang memegangi pinggangnya dengan kencang kemudian menepisnya untuk melepaskan diri.
"Tolong, lepaskan aku. Ini tidaklah benar. Sekejap, kau pasti akan melupakan hal yang pernah terjadi diantara kita. Aku hanya sekelumit kisah yang buruk dalam hidupmu." Alexa berlalu dengan cepat kedalam, mendorong pintu pemisah antara balkon dan kamar. Meninggalkan Bagas melongo sendirian dengan terpaan angin yang mulai menusuk kulit.
Alexa meninggalkan kamarnya, agar Bagas dan Theo menempatinya. Ia tidak mungkin sekamar dengan pria yang membuatnya sesak napas itu. Bisa-bisa bukan hanya hatinya yang hancur, akan tetapi jantungnya juga ikut meledak. Bahkan, paru-paru nya bisa saja berhenti mengembang.
Sungguh, berada di dekat batu es Antartika itu akan membuat Alexa mati perlahan. Lebih baik ia menghindarinya demi umur panjang. Apalagi jika Alexa ingat ultimatum dari Anggara. Bahkan hal itu tertulis jelas dalam surat perjanjian. Ia tidak boleh menggunakan hati. Lebih baik pikirkan masa depannya dan misi yang sebentar lagi akan selesai. "Nek Lilu. Alexa sebentar lagi akan menemui mu." gumam Alexa sebelum ia memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
"Daddy ... hiks!"
...bersambung ...