Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO Bab 41. Obrolan Di Balkon 1


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


"Ini coklat hangat untukmu." Alexa menyodorkan mug ukuran sedang yang berisikan coklat panas dengan taburan krim di atasnya. Bagas, menerima gelas itu dengan tatapan sedikit heran. Terlihat dari pelipisnya yang diangkat sebelah.


'Sejak kapan panggilan untukku berubah?' batin Bagas dengan senyum tipis yang takkan disadari oleh siapapun kecuali oleh para readers.


"Terima kasih," ucap Bagas berusaha tetap mempertahankan gaya bicaranya. Meskipun dalam hatinya ia begitu ingin mengutarakan perasaanya saat ini. Akan tetapi semua di tahan demi gengsi. Padahal, Bagas sangat membutuhkan tempat untuk berbagi gundahnya sekarang.


"Theo, aku sangat menyayangi nya. Aku bahkan rela mengorbankan apapun untuknya." Bagas berkata setelah ia menyeruput coklat panas. Arah tatapannya menerawang ke depan, membelah pekat langit kota. Meski di bawah sana bangunan pencakar langit itu bagai menabur lampu berwarna-warni. Akan tetapi, Bagas seakan mencari ketenangan dengan menatap luas dan gelapnya langit malam tanpa satupun bintang.


"Sudah seharusnya begitu, Anda kan, Daddy-nya," ucap Alexa enteng. Meskipun ia telah tau bahwa Theo bukanlah anak kandung dari Bagas. Secara tidak langsung, Alexa mendukung Bagas untuk terus mempertahankan Theo. Ia pun tak rela jika Theo di ambil oleh orang tua yang tidak lah bertanggung jawab.

__ADS_1


"Kau tau kan jika aku dan Theo --" Bagas tak meneruskan kalimatnya, karena Alexa mengangguk pelan seraya tersenyum. Sontak, Bagas terpana sesaat. Sebab, temaram lampu balkon yang sedikit redup dengan tiupan angin malam yang semilir itu menerbangkan surai Alexa hingga menutupi sebagian wajahnya.


Bagas secara spontan mengulurkan tangannya ke depan, untuk menyibak rambut yang sebagian menutupi mata indah milik Alexa. Bagas menyingkirkan surai itu dengan jarinya yang besar. Menyelipkannya ke celah telinga Alexa.


Mendapat perlakuan spontan seperti itu, membuat Alexa menahan napas. Ia bahkan tak berani untuk mengedipkan kedua matanya walau sedetik pun. 'Demi apa ini! Apa yang biang es Antartika ini lakukan? Oh, jantungku! Berdebarlah biasa saja, ku mohon.' batin Alexa, yang bingung mendapat perlakuan tak biasa dari Bagas.


"Maaf," lirih Bagas seraya menarik tangannya dari wajah Alexa. Bagas terpana sesaat ketika raut wajah cantik natural dihadapannya ini seakan menghipnotis dirinya. Bagas menyadari apa yang telah ia lakukan terhadap Alexa beberapa waktu lalu. Ia merasa perlu mempertanggungjawabkan itu. Namun, lidahnya beku. Tanggungjawab seperti apa yang akan ia lakukan kepada Alexa. Bagas bingung.


"Aku ... akan bertanggungjawab padamu. Setelah, urusanku dengan Yukia selesai," ucap Bagas dengan satu napas.


"Apa semua demi Theo? Kalau demi aku, itu tidak mungkin kurasa," sindir Alexa. Ia merasa jika Bagas hanya akan memperalatnya untuk dapat mempertahankan kedudukan Theo.

__ADS_1


"Bukan. Tolong jangan salah paham. Aku tidak berniat sedikitpun untuk memanfaatkan kedekatan mu dengan Theo. Meski sekarang ini hanya kaulah tempat Theo kembali. Dimana anak itu kini menemukan muaranya untuk mendapat ketenangan dan kenyamanan." Bagas menengok sedikit ke dalam lewat pintu kaca yang memisahkan antara balkon dan kamar. "Aku ... hanya merasa perlu mempertanggungjawabkan perbuatan ku padamu." Bagas berkata dengan tulus, bahkan Alexa tak menemukan rekayasa di dalam mata yang biasanya menyorot menatapnya dengan tatapan menghunus. Kini, iris pekat itu terasa teduh dan penuh penyesalan.


"Tidak!" Alexa sontak memalingkan wajahnya. Bahkan ia seketika berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pagar besi.


"Dalam perjanjian ku dengan Anggara. Aku, telah menandatangani dan menyetujui. Jika misi ku telah selesai, maka aku akan pergi jauh dari lingkungan keluarga Gustavano. Kau, tidak perlu bertanggung jawab." Alexa berkata seraya menahan sesak yang menghimpit diafragmanya. Ia merasakan perih yang teramat ketika mengembangkan paru-parunya. Udara di sekitar seakan mencekik lehernya. Hingga tanpa sadar, buliran kristal menetes di pipi tirus Alexa. Entah, kenapa hanya dengan membayangkan perpisahan ternyata bisa begitu menekan hatinya.


'Kenapa aku menangis? Apa hatiku telah tertinggal pada keluarga yang telah menghancurkan hidup dan juga masa depanku ini. Tidak! Aku harus pergi jauh sesuai perjanjian. Lagipula, siapa aku.' batin Alexa tertawa sumbang. Menertawakan isi pikiran dan juga rasa yang tak tau malu singgah di hatinya. Ia pun mengusap sudut matanya kasar.


"Tidurlah disini dengan Theo. Biar aku ke kamar Mey-Mey." Alexa hendak berbalik dan melangkah, akan tetapi Bagas meraih lengannya kemudian menarik. Hingga Alexa yang kaget kehilangan keseimbangan pada kakinya. Lantas ia pun terjatuh, menghantam dada bidang nan kekar milik Bagas.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2