Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO Bab 39. Daddy Galak.


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


Bagas seakan menemukan semangat baru ketika putranya, Theo mengatakan ingin menginap di apartemen Alexa. Setidaknya, ia memiliki alasan untuk menemui wanita yang entah kenapa selalu berputar dalam pikirannya sekarang.


Statusnya dengan Yukia tinggal menanti surat resmi. Tanda tangan maka semua akan selesai. Dirinya akan terbebas selamanya dari wanita penghianat yang selama lima tahun ini menjadi istrinya. Selama itu juga, Bagas dengan mudah dibodohi serta dikhianati.


Kekecewaan serta rasa sakit hatinya terhadap Yukia telah mengubah seketika rasa cintanya yang begitu besar, menjadi segunung kebencian. Namun, dirinya memilih abai ketimbang membalas apa yang telah Yukia niat pada hari dan juga jiwanya. Setidaknya, Yukia telah mendapatkan sabab akibat dari kelakuannya sendiri.


Bagas merapikan meja kerjanya dengan cepat, karena hari sudah hampir menunjukkan jam delapan malam. Theo juga sudah merengek tidak sabaran. Tanpa menghubungi Alexa, Bagas membawa kendaraan roda empatnya meluncur tanpa seorang sopir.


"Kau ingin menginap. Apa sudah bawa baju ganti?" tanya Bagas pada putranya Theo yang kini tengah memainkan gadget diatas kursi khusus bayi dalam mobil.


"Di apartemen, aunty. Banyak pakaian juga mainan milik T- Rex, Dad! Kan, T-Rex sering menginap di sana," jawab bocah laki-laki yang tengah serius memainkan benda pipih di tangannya. Sekelas terlihat bocah itu mengerutkan keningnya ketika karakter dalam game miliknya kalah. Bagas terus memperhatikan sang putra yang terdengar menggumamkan sebuah kata.


Bagas tidak ingin putranya ini, berkata-kata kasar seperti kebanyakan anak kecil di luar sana. Sebagian dari mereka begitu luwes mengucapkan kata kasar selayaknya orang dewasa. Meskipun putranya ini tidak berbaur di lingkungannya, ia khawatir jika Theo mendengar dari Vidio para gamers dalam aplikasi merah yang suka ia tonton.


"Theo, matikan ponselnya sekarang!" titah Bagas yang mulai kesal karena sang putra terus fokus dengan gadgetnya.


"No, Dad! T-Rex baru saja mendapat senjata baru!" tolak bocah lelaki itu enggan menghentikan kegiatannya.


"Tapi kau dan Daddy jarang bicara dan bertemu. Haruskah ketika kita bersama kau lebih mementingkan game mu ketimbang Daddy?" sarkas Bagas yang mulai tak dapat menahan emosinya.


"Sebentar Dad!" seru Theo dengan nada tinggi. Bocah laki-laki dengan pipi chubby itu acuh dan tetep memainkan gadgetnya, sampai akhirnya Bagas bertingkat tegas dengan mengambil benda pipih berlayar lebar itu dari tangan sang putra.

__ADS_1


"Huwaaaa ...! Kembalikan ... huwaaa!" Theo pun menangis dan menjerit di atas kursi khusus balita itu.


"Hentikan tangisanmu Theo! Daddy sedang menyetir!" bentak Bagas tanpa sadar. Membuat Theo menghentikan tangisnya seketika. Akan tetapi bentakan tak sengaja dari Bagas membuat Theo kaget sehingga bocah itu menangis tertahan. Hanya terdengar disaat Theo menarik napasnya sesak.


Buru-buru Bagas menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Padahal jarak dengan apartemen Alexa tinggal beberapa meter lagi. Namun, ia tidak mungkin mendiamkan tangis anaknya berlarut dan membahayakan diri putranya itu.


"Theo, maafkan, Daddy. Sungguh, Daddy tidak bermaksud membentak mu. Please, jangan seperti ini," bujuk Bagas mencoba menghentikan tangis tertahan Theo yang bisa membuat bocah ini sesak dan berujung lemas.


"Sayang, T-Rex. Sebentar lagi kita sampai apartemen aunty Alexa. Kau tidak mau kan jika aunty cantik mu itu melihat Theo seperti ini?" ucap Bagas lagi. Ia sungguh bingung jika Theo sudah seperti ini. Putranya itu terisak dengan napas yang tercekat. Tidak ada suara tangis yang keluar hanya Theo yang menarik napas hingga dadanya membusung naik-turun.


"Theo, sayang. Kita beli es krim ya. Atau kamu mau coklat yang mahal dan gak jelas itu. Daddy juga akan belikan. Asalkan, Theo berhenti menangis ya." Bagas masih terus berusaha membujuk Theo, namun hasilnya nihil. Putranya itu tetap saja terisak tanpa suara.


Bagas menggaruk kasar rambutnya. Ia yang selama ini memang tidak menguasai cara bagaimana membujuk ketika sang anak merajuk. Ia yang tak bisa berkata dengan tegas, cenderung galak sehingga membuat putranya itu takut seperti ini. Biasanya, akan ada sang kakek atau Anggara yang mampu menangani Theo. Bagas benar-benar kehabisan akal untuk membuat suasana hati Theo berubah, sementara putranya itu sudah semakin pucat, lantaran pasokan oksigennya tidak tersuplai dengan baik.


Theo menangis semakin kencang dengan tatapan mata kearah depan. Bagas pun mau tak mau mengikuti arah pandangan putranya itu. "Alexa? Ngapain malam-malam begini ada di luar!" geram Bagas yang seakan tengah menangkap basah kelakuan salah dari asistennya tersebut.


"Itu aunty Alexa, sekarang Theo berhenti nangis ya. Malu nanti kalau di lihat aunty cantik," ucap Bagas yang justru mendapat tepisan ketika tangannya hendak mengusap kepala Theo.


"Aih, masih marah rupanya sama Daddy." Bagas tersenyum getir. Di karenakan tak mampu mengontrol emosi, kini dirinya di benci oleh putra satu-satunya. Meskipun, pada kenyataan Theo bukanlah berasal dari benih miliknya. Tetap saja, Bagas sedih dan menyesal telah memperlakukan Theo seperti tadi. Ia merasa gagal menjadi orang tua. Dia yang memberikan gadget tersebut untuk putranya, namun dia juga yang lepas kontrol pada akhirnya.


"Huwwaaaa ...! Aunty ...!" teriak Theo dalam tangisan. Ia bahkan meronta dari kursinya.


"Iya tunggu sebentar." Bagas pun membuka kunci pada pintu mobil tersebut sambil menekan klakson. Membuat Alexa dan Mey-Mey menoleh seketika ketika melewati mobil Bagas.

__ADS_1


"Eh, Bagas," gumam Alexa. " Ngapain ada disini malam-malam begini?" gumamnya lagi. Alexa yang sengaja berhenti ketika ia menyadari bahwa mobil yang menepi itu adalah mobil Bagas. Maka ia sontak menghentikan langkahnya.


Bagas keluar dari mobil, lalu beralih membuka pintu sebelah dimana Theo tengah tergugu diatas kursinya.


"Tuan! Apa yang anda laku--" pertanyaan Alexa mengapung di udara ketika sepasang matanya menangkap sosok menggemaskan yang ia rindu.


"Theo!" panggil Alexa yang setengah tak percaya. Sebab hari sudah sangat gelap. Bagas pasti sengaja mengantar Theo ke tempatnya. Berarti, bocah laki-laki berpipi chubby itu juga merindukannya. Pikir Alexa dengan senang.


"Seandainya wajah senang itu untukku?" gumam Bagas. Ia kini tengah membuka seat belt di kursi Theo. Kemudian menurunkan segera putranya,yang mana Theo langsung berlari menghampiri Alexa.


"Aunty! Huwaaaa ...!" Lagi-lagi Theo menangis dengan kencang. Bahkan ia mendekap Alexa dengan erat ketika ketika wanita itu memeluknya.


Sekarang mereka berempat berada di taman tak jauh dari apartemen, tempat dimana Alexa tinggal untuk sementara. Sebelum perjanjian dengan Anggara berakhir, sehingga pria tua menyebalkan itu mengambil kembali fasilitas yang di berikan kepada Alexa.


"Enak ya makan es krim sambil main ayunan?" goda Alexa pada Theo yang telah kembali tersenyum ceria. Ia mendorong perlahan ayunan yang di duduki mereka berdua dengan kakinya. Bagas tidak peka memang. Dia hanya duduk di depan kap mobil memperhatikan keduanya. Sementara, Mey-Mey telah kembali ke apartemen menyiapkan kamar juga baju ganti untuk Theo, sesuai apa yang diperintahkan oleh Alexa.


"Kenapa tadi Theo menangis?" tanya Alexa pelan, ia berharap bahwa suasana hati Theo telah membaik, sehingga bocah tampan itu akan menjawab pertanyaan darinya.


"T-Rex, Aunt!" protes Theo terhadap panggilan yang disematkan untuknya.


"Oke, T-Rex. Boleh ceritakan kejadian tadi, itu ada apa?" tanya Alexa sekali lagi. Theo yang tengah menjilati es krimnya, sontak mendongak keatas. Hingga wajah aunty cantiknya itu dapat ia lihat dengan puas. Kemudian, Theo melirik ke arah Bagas sekilas.


"Sebel sama daddy! Dia mengambil tablet milik ku."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2