Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 73. Sebuah Kenyataan.


__ADS_3

"Bunda, pengasuh? Jadi--"


Klek!


Pintu kamar apartemen Alexa terbuka lebar dan nampaklah sosok tegap dari Azriel berdiri dengan raut wajah yang sulit di tebak. Antara senang, kesal, benci, marah dan sedih semua menjadi satu dalam dadanya. Entah, bagaimana nanti perasaan sang mommy setelah melihat hasil tes DNA yang kini berada dalam genggamannya.


Mey-Mey, seakan tau jika ada urusan keluarga diantara mereka. Sebab itu ia membawa Theo menyingkir dari sana. " Ayo, ikut Aunty ke balkon saja. Kita merangkai puzzle di sana pasti lebih asik!" ajak Mey-Mey yang langsung ditanggapi antusias oleh Theo.


"Asekk, Theo bisa sambil denger suara angin!" sorak bocah Lima tahun itu. Ia menyimpan sedihnya, sebab di ulang tahunnya tiga bulan yang lalu sang Daddy tidak ada di sisinya. Bahkan, Theo menyimpan beberapa gambar seorang anak kecil yang dituntun oleh pria dewasa. Ia menyimpannya di dalam tas mainan. Agar Alexa ataupun Mey-Mey tidak dapat menemukan rahasianya. Sungguh, Theo mampu menyembunyikan perasaan selayaknya orang dewasa.


"Kak, AZ." Alexa menatap pria itu aneh. Ia cukup peka, jika ada yang ingin di ungkapkan oleh malaikat penolongnya itu.


"Lex, sebenarnya ... hari ini ada yang ingin ku ungkapkan padamu. Tentang hubungan kita sebenarnya. Aku --"


"Aku menerima lamaran mu, Kak," potong Alexa. "Di depan, Mommy ... aku menjawab permintaanmu. Apa, Kakak senang sekarang?" tanya Alexa yang semakin heran karena raut dua orang di hadapannya ini kaget bersamaan.


"Kalian, mana mungkin bisa menikah!" pekik Sofie seraya langsung berdiri. Ia memegangi dadanya yang berdentum kencang. Lalu, merampas kertas yang dipegang erat oleh Azriel. Pria itu masih mematung karena ungkapan dari Alexa barusan. Jika saja, dan seandainya ... itulah yang kemungkinan besar ada dalam pikiran seorang Azriel.


"Ya Tuhan!" Sofie menutup mulut dengan tangannya. Matanya bergerak-gerak cepat tak percaya terhadap bukti yang ada ditangannya saat ini. Tungkainya lunglai seketika. Sofie limbung, tapi Azriel segera menangkap tubuhnya.

__ADS_1


"Mom!" pekik Azriel panik seraya mengangkat sang mommy, lalu meletakkannya ke atas sofa.


"Mommy, ada apa? Kak?" Alexa heran sekaligus bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dihadapannya saat ini? Begitulah pikirnya.


"Kak? Apa aku salah bicara?" tanya Alexa penuh sesal dan rasa takut. Azriel segera memanggil perawat yang bertugas mengurus Alexa untuk memantau keadaan Sofie hingga siuman nanti.


"Lex, sebenarnya yang ingin ku katakan padamu adalah mengenai hubungan kita yang sesungguhnya. Tapi, bukan masalah lamaran yang ku ajukan padamu. Namun, ini ..." Azriel menyerahkan secarik kertas berisi informasi hasil DNA antara ... " Alexandria dan Navier Bawazier? Si–siapa pria ini? Kenapa hubungan kami 99% positif memiliki hubungan darah? Siapa pria ini, Kak!" cecar Alexa memekik histeris. Bahkan, nama pria yang tertulis di atas kertas satu marga dengan pria di hadapannya. "Apakah ini, yang membuat, mommy pingsan? Jelaskan padaku, Kak!" kali ini Alexa berteriak lantaran Azriel masih bungkam.


Sebenarnya pria itu ingin menjawab, apa yang tengah Alexa risau kan. Akan. tetapi lidahnya mendadak Kelu saat ini. Begitu sulit baginya mengatakan bahwa, Alexa adalah adik kandungnya. Darah yang sama dengannya mengalir juga di dalam darah Alexa. Pantas saja, sejak awal bertemu hatinya langsung terpaut. Ia pikir selama ini, ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Alexa. Ternyata, rasa ini adalah tautan antara seorang kakak dengan adik perempuannya. 'Untung, saja aku belum menikahimu, Alexa ... ' batin Azriel, berusaha menerima kenyataan meskipun nampak di luar nalar baginya.


"Kenapa ... kenapa harus kamu? Kenapa harus kamu yang menjadi anak dari, daddy-ku," racun Azriel yang kini telah terduduk di samping tempat tidur Alexa dengan memangku kepalanya menggunakan kedua tangan.


"Kau adikku, Alexa. Adik kandungku." Pria itu, adalah daddy-ku. Suami dari Mommy Sofie." Azriel menatap Alexa dengan wajah bingung sekaligus senang, tapi tak ayal ia pun meremas rambutnya kuat. Bukannya ia tak menerima kenyataan, hanya saja ia tak sanggup bila melihat kekecewaan di wajah Sofie.


"Maksudmu, bunda adalah--"


"Aku akan menanyakan pada, daddy. Aku akan membuatnya menebus segala kesalahannya pada aunty Ivanna, juga padamu," ucap Azriel berjanji.


Ia menatap Alexa lekat lalu pandangannya beralih pada perut Alexa yang sudah terlihat sedikit membuncit itu. "Aku tidak akan membiarkan, nasib anak itu tanpa ayah. Aku harus mempertemukan mu dengan Bagas. Jangan sampai, apa yang kau alami terjadi juga padanya. Aku, berjanji Lex. Aku akan membuat, Bagas bertanggungjawab pada kalian berdua!" seru Azriel serius, sungguh-sungguh serius.

__ADS_1


"Itu ... aku--" Alexa bingung harus menjelaskannya dari mana. Ia sengaja kabur bukan karena Bagas tak akan mengakui anak yang ada dalam kandungannya saat ini. Ia justru ingin melindungi Theo dan juga bayinya dari Anggara.


"Ada kemungkinan, Daddy menekan aunty Ivanna lalu memaksanya. Aku yakin, Ivanna adalah wanita yang baik dan tulus. Ia adalah pribadi yang selalu rela mengorbankan dirinya untuk orang lain, sama sepertimu, Alexandria. Kau, bahkan merelakan kebahagiaan dan juga perasaan mu demi Theo," tutur Azriel yang mana hal itu sontak membuat Alexa terkesiap. Pria di hadapannya ini tentu saja akan menyelidikinya. Kenapa Alexa bisa lupa akan kemampuan dan kekuasaan seorang pengusaha minyak bumi seperti Azriel.


"Anggara, tidak akan menerimaku. Kami berbeda kasta. Aku hanya ingin menyelamatkan keberadaan anak ini," jelas Alexa seraya memeluk perutnya.


"Itu tidak akan terjadi, setelah Daddy mengakuimu sebagai darah dagingnya. Aku akan memastikan itu. Dan tentu saja, kau akan memiliki saham dari perusahaan minyak dunia milik Daddy. Yaitu, Bawazier Corporation," terang Azriel dengan senyum demi meyakinkan Alexa.


"Benarkah? Aku ... hanya ingin terus bersama dengan bayiku. Aku tidak mau ada yang memisahkan kami. Aku tidak perduli dengan perasaan ku. Aku tidak peduli, Kak. Meskipun aku mencintainya, dan setiap detik merindukannya ...," lirih Alexa yang kemudian di susul dengan suara isakan kecil.


"Hei, kenapa kau menangis? Alexa, ya ampun." Azriel pun, menarik raga rapuh wanita yang di ketahui adalah adik kandungnya yang terpisah karena keadaan itu. Alexa pun akhirnya dapat menangis dengan puas. Inilah yang ia butuhkan selama ini. Namun, ia hanya mampu menahannya sendirian.


"Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri, Lex. Kenapa kau tidak jujur saja sejak awal pada ku," ucap Azriel memeluk erat raga yang tengah berguncang kuat itu. Azriel mengusap lembut bahu dan punggung Alexa hingga tangisnya mulai mereda.


Brakkk!!


"Keterlaluan kau, Azriel!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2