
🏹🏹🏹🏹🏹
Baru saja Alexa membayangkan, ternyata sebuah tangan kekar dengan jari yang belepotan bumbu rica-rica tengah menyodorkan potongan ayam dan nasi ke depan mulut Alexa. Bukannya membuka, bibir Alexa justru rapat dengan kedua mata yang membola ke arah Bagas.
"Buka mulutmu, bukan malah matamu!" seru Bagas karena niat menyuapi tapi justru kena di pelototi untung saja matanya indah. Sehingga dalam sekejap Bagas sempat terpukau dibuatnya.
Alexa menelan ludahnya kasar, ia pun menurut saja untuk membuka mulut. Bukankah ini yang diinginkan, dan saat ini semua menjadi nyata. Ketika jari-jari besar Bagas masuk kedalam mulutnya, kemudian bertemu dengan lidah milik Alexa. Sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan mengalir memenuhi rongga dadanya.
Pertama kali menyuapi wanita, membuatnya berdebar tak karuan. Bahkan dengan Yukia istrinya pun tidak pernah. Apalagi dengan anaknya Theo. Bagas bukanlah tipe pria yang romantis. Namun, entah kenapa melihat kesulitan Alexa yang hendak makan menggunakan sebelah tangannya, sudah begitu kiri pula. Membuat Bagas reflek melakukan hal ini.
Sementara, itu Mey-Mey yang berada di sebelah Alexa hanya dapat mematung melihat aksi heroik nan romantis barusan. Bagaimana Bagas dengan raut wajah dinginnya mengambil piring Alexa kemudian suwir-suwir daging ayam dengan tangan kosong. Adegan itu berakhir ******* ketika Bagas menyodorkan tangan berisi nasi dan suwiran ayam plus bumbu ke dalam mulut Alexa sahabatnya. Mey-Mey tak melewatkan sedikitpun adegan barusan, semua terekam sempurna dala. otaknya. Membuatnya membenarkan kesimpulan akan perasaan Bagas, pria dingin yang telah menjadi bos-nya juga mulai besok.
Alexa meraih segelas air dan langsung menenggaknya dengan cepat. Ia butuh membasahi kerongkongan agar makanan barusan cepat turun ke lambungnya tanpa di kunyah. Sebab Alexa tak memiliki daya untuk menghaluskan makanan tersebut dengan gigi gerahamnya. Tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga, mendapat kejutan dari tindakan Bagas yang tak terduga barusan.
"Jangan terlalu banyak minum ketika sedang makan. Nanti lambung mu keburu penuh, kau akan merasa kenyang sebelum nutrisimu terpenuhi." Bagas menyingkirkan gelas yang tengah menempel di bibir Alexa.
Melihat gelagat Bagas, maka Mey-Mey pun menyingkir lebih dulu dari meja makan, dengan cara mengakhiri makan malamnya dengan secepat kilat. Bukannya tidak mau mengganggu dengan kehadirannya disitu. Mey-Mey juga tidak mau jadi nyamuk karena menyaksikan keromantisan dari keduanya. Entah disadari atau tidak oleh Bagas, bahwa sikapnya barusan telah menunjukkan betapa posesif dirinya kepada Alexa.
"Buka mulutmu!" titah Bagas tanpa ada lembut-lembutnya. Alexa sudah seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Ia pun menurut saja sampai semua isi piring di hadapan Bagas berpindah kedalam perutnya. "Sekarang kau minumlah, lalu bersihkan mulutmu!" seru Bagas kemudian. Membuat Alexa macam anak kecil saja yang harus di beri tau apa tindakan selanjutnya. Akan tetapi Alexa menurut pada setiap perintah Bagas.
__ADS_1
"Anda mau apa lagi!" Alexa memundurkan wajahnya ketika Bagas mengulurkan ibu jarinya yang besar itu. " Mengambil ini!" Bagas mengusap sudut bibir Alexa karena ada bumbu di sana. Kembali, rasa aneh itu berdesir dalam hati Alexa. Di saat jemari Bagas menyentuh bibirnya, seakan ada aliran listrik yang menyengat permukaan kulit Alexa.
Bagas menarik tangan itu dari wajah asisten cantik yang entah kenapa telah menyedot setiap perhatian dan pikiran Bagas akhir-akhir ini. Sebelum pikirannya beralih kemana-mana karena daya tarik Alexa yang baginya sangat luar biasa. Sebab Alexa adalah satu-satunya wanita yang mempu mengalihkan dunia Bagas. Menggoyahkan iman dan prinsip yang selama ini ia junjung begitu tinggi. Bagas segera mengusap jemarinya menggunakan tissue demi menutupi kegugupannya.
Begitu juga dengan Alexa, ia pun terkesiap dan hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali. Hingga bulu mata lentik itu bergerak naik turun dengan lucu dan menggemaskan. Senyum tipis tercipta dengan samar di wajah kaku itu. Kemudian Bagas kembali meneruskan makan siang yang tertunda dengan perlahan, sedikit kikuk karena Alexa terus memperhatikannya. Padahal wanita di hadapannya ini tengah menelaah akan apa yang baru saja terjadi tadi. Apakah yang sedang makan di depannya ini adalah Bagas si bos kaku dan beku yang terkenal sedingin es kutub Utara.
"Tuan, besok ... saya--"
"Aku akan mengurus cuti mu selama satu pekan. Istirahat saja, aku masih bisa menghandle semuanya sendiri," potong Bagas membuat kata-kata Alexa menguap di udara.
"Itu terlalu lama, Tuan. Cukup istirahat tiga hari, saya pasti bisa kembali bekerja," tolak Alexa tegas. Sontak kelakuannya itu membuat Bagas mendongak dan menatap tajam kearahnya.
"Bukan begitu, saya pasti akan merasa bosan bila tidak melakukan apapun. Otak saya akan turun level jika tidak digunakan untuk berpikir," jelas Alexa.
"Baiklah, setelah tiga hari kau tetap akan ku berikan tugas. Sebab pada saat itu mungkin perban mu sudah di lepas," ucap Bagas setuju, Alexa akan bekerja dari rumah setelah cuti tiga hari.
_______
"Bagas telah menaruh curiga akan kebenaran tentang Theo. Bahkan pria bodoh itu telah mengajukan gugatan ke pengadilan. Dia sudah mengetahui kebusukan yang ku tutupi darinya selama bertahun-tahun. Maka, lambat laun ia pasti akan menemukan jejak mu, Lou!" ujar Yukia cepat dan penuh emosi.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Anggara tidak ada memerintahkan orang untuk kembali mengawasi mu semenjak ia memasukkan Alexa ke perusahaan," ucap Lou Han pelan, namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh Alexa.
"Apa katamu Lou?" kaget Yukia.
"Kau tidak sepintar yang ku kira Yukia. Berhubung kita bukan lagi partner bisnis, maka aku akan mengatakan semuanya padamu." Lou Han, pun berbalik dan mulai menceritakan kejadian di restoran hingga perjanjian Anggara dengan Alexa.
"Bapak mertua sialan! Seharusnya sejak awal aku meracuninya saja!" pekik Yukia seraya memegangi wajahnya. Di karenakan ia berteriak maka kulit wajahnya seakan di tarik dan itu terasa sangat sakit.
" Bantu aku untuk operasi wajahku ini Lou! Aku harus membalaskan dendam ku pada mereka semua!" teriak Yukia penuh emosi.
"Aku tidak akan membuang uang banyak untuk mu Yukia! Aku telah memiliki rencana cadangan." Lou Han terlihat menyunggingkan senyum miringnya. Menandakan sebuah rencana licik yang akan segera di eksekusi olehnya. Anggara tak menyadari jika dirinya telah merawat seorang penghianat.
"Tega kau Lou! Kau lupakan jasa-jasa ku selama ini. Bahkan aku juga telah menjadi selimut penghangat tidurmu!" teriak Yukia berusaha turun dari atas hospital bed. Akan tetapi kepalanya mendadak pusing dan ia pun tak sadarkan diri setelahnya.
"Haih, menyusahkan saja. Kau sudah tidak berguna lagi, lalu buat apa aku mengurus mu!" ketus Lou Han kepada raga Yukia yang terkulai lemas.
"Perubahan rencana. Berikan ramuan yang akan merusak pita suaranya." Lou Han berkata dengan tatapan tajam ke arah kedua anak buahnya.
...Bersambung...
__ADS_1