
🏹🏹🏹🏹🏹
DOR!
DOR!
DOR!
Puluhan peluru melesat menghujani sebuah kamar apartemen yang cukup mewah. Apartemen yang di huni oleh kebanyakan warga negara asing itu terletak di tengah kota yang ramai. Melihat ada segerombolan orang yang tengah melakukan penyergapan. Para penghuni lain yang kebetulan berada di hunian mereka, memilih acuh dan tidak berniat ikut campur.
Mereka justru mengunci pintu rapat-rapat. Membiarkan para penyergap yang berpakaian serba hitam itu melakukan apapun terhadap penghuni yang memang tidak terlalu mereka kenal itu. Sehingga mereka berpikir para pria berpakaian laksana anggota itu adalah tim dari kepolisian.
Pintu apartemen yang sengaja ditembaki agar terbuka secara paksa itu telah rusak. Salah satu penyergap menendang pintu tersebut.
BANGG!
Pintu besi yang telah lepas dari engselnya itu terpental sehingga menimbulkan suara dentuman yang keras dan nyaring.
"Cepat periksa setiap ruangan dan sudut!"titah ketua mereka. Jumlah pasukan ini sekitar enam orang. Mereka bersenjata semua. Sebab, penghuni apartemen ini memiliki kemampuan khusus. Sehingga tim yang di kerahkan untuk menangkap juga harus mumpuni.
Mereka semua bergerak masuk dan berpencar. Apartemen mewah ini cukup luas dan memiliki beberapa ruang kamar serta ruang yang lainnya.
DOR! DOR! DORR!
__ADS_1
Lagi-lagi suara letusan dari beberapa selongsong peluru yang ditembakkan senjata api menggema dalam ruangan yang nampak kosong itu. Tiba-tiba ...
Sreekkkk!
Blupp!
Semua tirai menutup secara otomatis, kemudian setelahnya lampu pun padam. Membuat unit apartemen tersebut gelap gulita. Hanya terdapat cahaya yang berasal dari aquarium kecil di pojok ruang tamu saja.
"Pasukan, hati-hati! Nyalakan sistem ultra dari lensa kontak kalian!" ucap kapten pemimpin dari operasi penyergapan itu pelan melalui earphone yang terpasang di telinga mereka masing-masing.
Serentak seluruh anak buah melakukan perintah yang di katakan oleh kapten. Mereka yang kini berpencar nampak lebih waspada dengan senjata yang siap diacungkan ke depan.
"Sial!" terdengar suara umpatan dari salah satu ruangan yang berisikan berbagai macam senjata api. "Jumlah mereka cukup banyak. Apakah aku akan mampu keluar hidup-hidup? Anggara, memang dasar kau tua bangka! Si tua itu memang tak bisa di anggap remeh. Padahal aku sudah bermain epik selama hampir lima tahun ini. " Pria berwajah oriental itu berdecak kesal. Lantaran aksinya selama ini tercium juga. Sejatinya, benar apa kata pepatah. Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya kepeleset juga. Inilah yang saat ini terjadi padanya. Di sebabkan satu kesalahan kecil, membuat pria pengidap Hypervigilance seperti Anggara dapat melihat satu titik kelalaian kecil yang telah ia perbuat. Semua itu di sebabkan, sikap waspada berlebihan yang cenderung membuat Anggara mencurigai setiap hal.
Sontak ia langsung menyelinap kebelakang lemari penyimpanan di area dapur. Ketika ia merasakan pergerakan dari seseorang. Ternyata, orang itu juga menyadari keberadaan Lou. Segera ia mengirim kode pada kawan-kawannya yang lain.
"Damn it!" Lou mendengus, ia menggerakkan gerahamnya. Kemudian menggenggam erat senjata api di tangannya dan ...
DOR! DOR! DORR!
DOORRR!
TRAANKKK!
__ADS_1
Tembakan demi tembakan menggema dalam ruangan yang gelap gulita itu. Lou nekat kelia4 dan menembaki sosok pria yang terlihat melalui kacamata khusus yang bertengger di depan matanya.
Lou berguling, bermaksud menghindari tembakan balasan dari dua penyerang. " Shitt! Akh!" Lou meringis, ia terlihat memegangi lengannya yang terserempet timah panas. Lou bersembunyi di belakang meja dapur. Berkali-kali mengumpat karena posisinya saat ini benar-benar tidak menguntungkan. Jika ia terus melawan kemungkinan nyawanya akan melayang dengan murah meriah.
"Aku tidak ingin mati dengan cara seperti ini." Lou bergumam dengan dada turun naik dan napas yang memburu. Ia benar-benar salah langkah dan Anggara tau kelemahannya. Menanti dia sendirian tanpa satupun kawan yang tau keadaannya saat ini. Lou, hanya berharap dari wanita yang semalam tidur dengannya selamat dari persembunyian lalu meminta bantuan.
"Aku berharap padamu, Xia. Laporkan keadaan ku pada anggota yang lain segera. Setidaknya, aku ingin keluar dengan selamat dari tempat ini." Lou masih terus berharap dalam hatinya. Ia menggumamkan banyak kata. Sengaja untuk menghilangkan rasa stress akibat tekanan. Dimana pada saat ini ia tengah di buru oleh sekelompok anggota militer bayaran yang hebat.
_______
"Pengejaran sudah tahap penyergapan. Kau lihatlah sendiri!" Anggara membalik layar laptopnya hingga mengarah pada Bagas sang putra semata wayang. Membuat pria tampan dengan buku halus yang menghiasi rahang tegasnya. Suasana gelap menghiasi layar gadget tersebut namun, layar kamera yang di gunakan khusus oleh tim menangkap gambar bergerak menggunakan sinar infra red.
Bagas hampir terlonjak dari tempat duduknya, saat suara tembakan terdengar jelas disertai teriakan kencang. Seorang pria nekat maju keluar dari persembunyiannya, lantaran posisinya sudah sangat terpojok sehingga ...
_______
"Aaaaa ... rasakan ini!!" Karena terpojok dan pasti kalah jumlah serta senjata. Lou yang dalam tekanan nekat keluar sambil berteriak. Ia mengacungkan senjata yang tinggal satu peluru saja. Namun, peluru itu berhasil menembus kening salah satu anggota penyergap. Akan tetapi ...
TRATATATATATA! Sebuah tembakan bertubi-tubi berhasil menumbangkan Lou.
____
"Pria ini, meski tak jelas terlihat. Tapi--" Bagas menoleh dan tatapannya menangkap sebuah kekecewaan yang teramat dari sang papa.
__ADS_1
...Bersambung ...