
Alexa ternyata harus bedrest beberapa hari. Azriel telah berkonsultasi tentang keberangkatan Alexa menuju Mesir apakah boleh. Hasilnya, dokter akan memberikan surat jalan asalkan kandungan Alexa telah menginjak tiga bulan. Sementara keadaan perusahaan Azriel tidak dapat menunggu selama itu. Setelah istirahat satu Minggu Alexa merasa baikan. Tubuhnya sudah kembali bugar dan ia yakin akan baik-baik saja jika di haruskan naik pesawat.
Alexa juga takut jika keberadaannya terlacak. Theo beberapa kali mengigau memanggil Bagas, Daddy-nya. Bagaimanapun mereka harus pergi jauh. Alexa jga tidak mau sampai Bagas dan juga Anggara tau keadaannya yang tengah hamil penerus dari keluarga Gustavano. Alexa tidak ingin, kekuasaan Anggara merebut anak ini darinya. Tidak akan!
Akhirnya, kerena hal tersebut. Maka Azriel pun memutuskan untuk menggunakan pesawat jet pribadi saja. Ia meminjam dari sahabatnya seorang raja minyak dari negara Iran. Anak sultan tentu saja. Karena, meskipun kata tapi Azriel belum sampai kepikiran untuk membeli pesawat jet pribadi. Pria tinggi besar ini lebih suka mengkoleksi mobil mewah dan Yacht. Sebab, Azriel suka laut dan suka balapan.
Azriel meminjam pesawat beserta dengan kru dan juga pilotnya. Sahabatnya itu sangat bahagia dan mendukung ketika tau Azriel membawa seorang wanita cantik ke negara asalnya Mesir. Tak lupa Azriel menyiapkan tim medis lengkap dengan peralatannya demi keselamatan Alexa dan juga bayi yang ada dalam kandungannya.
"Kau tenang saja, aku yang akan bertanggung jawab mulai sekarang. Anggap saja ini uang muka, sebagai pinangan agar kau bekerja di perusahaan ku nanti. Kau mau kan Lex?" Azriel bertanya seraya pada Alexa yang berada di depannya ini. Sementara Theo dan Mey-Mey berada di sebelah Alexa. Dua orang itu telah tertidur, karenanya Azriel berani bertanya hal pribadi. Padahal, sebenarnya Mey-Mey belumlah pulas. Ia ingin bangun, tapi tidak enak takut Azriel merasa malu. Jadi, ia pura-pura tidur sampai akhirnya tidur beneran. Dasar *****! Mey-Mey ajalah segala bilang pura-pura. Padahal, gadis satu ini memang tidak bisa melihat kasur, bantal maupun selimut. Bawaannya pasti menjelajah ke pulau mimpi.
"Aku berjanji, Tuan Azriel. Aku akan mengabdi pada perusahaan mu. Aku, Alexandria. Tidak akan pernah mengingkari janjinya. Asalkan, kau tetap sembunyikan kami dari keluarga Gustavano," pinta Alexa serius.
__ADS_1
"Jangan panggil aku, Tuan. Aku ini belum menjadi bos-mu," ucap Azriel menolak acap kali Alexa memanggilnya seperti itu.
"Lalu, aku harus memanggil bagaimana?"
"Panggil saja, Kakak AZ!" ujar Azriel dengan senyum menawannya. Akan tetapi, Alexa sama sekali tidak terpikat. Dalam hatinya, ia sangatlah kagum dan menghormati Azriel. Menghargai segala kebaikan pria ini padanya. Hingga, ia merasa di lindungi oleh seorang kakak.
"Baiklah, Kak Az. Terimakasih atas segalanya," ucap Alexa tulus dan sungguh-sungguh.
Bahkan, jika ia mau. Anggara akan memberikan setengah asetnya demi keturunan asli Gustavano. Tapi, bukan Alexa jika menghitung segalanya dengan uang. Bahkan ia menolak tawaran Azriel. Meskipun demi kebaikannya dan juga calon bayi yang bersemayam dalam rahimnya kini.
"Kenapa kamu tolak tawarannya Lex? Maksud ku, lamaran tuan Azriel," tanya Mey-Mey ketika mereka telah sampai di apartemen yang telah di persiapkan Azriel untuk mereka bertiga.
__ADS_1
"Aku tidak mau memanfaatkan kebaikannya, Mey. Aku tidak mau di bilang aji mumpung. Bukankah, kita sudah sangat terbantu dengan isi semua?" Alexa menolehkan wajahnya menghadap ke arah Theo yang sudah pulas di atas sofa bed. Tadinya, anak itu masih memainkan puzzle dan gubusnya. Alexa, tidak membiarkan Theo memainkan ponsel lagi. Sebab, bocah itu gampang mencontoh sesuatu. Apalagi kalau game online. Dan, kebanyakan game tersebut tidaklah ramah untuk usia anak-anak di bawah 12 tahun. Banyak profil atau karakter yang tidak ramah otak.
Alexa, ingin mendidik Theo dengan cara yang benar. Ia tidak mau terlalu memanjakannya yang akhirnya nanti kisah Leo akan terulang kembali. Ah, Leo yang malang. Usiamu hanya beberapa episode saja. Padahal, dia cukup tampan dan menawan.
"Bukan karena, kau jatuh cinta pada Bagas kan?" selidik Mey-Mey kepo.
"Kau ini kenapa kepo sekali!" Alexa melempar botol mineral kosong, yang kemudian mendarat tepat di kening mulus Mey-Mey.
"Jahat!" sungut Mey-Mey mencebik sambil mengusap keningnya yang sedikit nyeri.
...Bersambung ...
__ADS_1