
πΉπΉπΉπΉπΉ
"Cukup Tuan!" Alexa mendorong Bagas sekali lagi dengan sekuat tenaga. Barulah dia menghirup udara banyak-banyak.
Sementara itu, Bagas nampaknya tak rela jika pagutannya terlepas begitu saja. Terlihat dari sorot matanya yang sendu, karenanya ia kembali maju, lalu menarik tengkuk Alexa dan mendekatkan wajahnya.
"Tunggu! Bibirku sudah keb--" Alexa tak dapat meneruskan kalimatnya karena bibir Bagas kembali menyesapnya. Menggigit kecil bibir bawahnya sampai Alexa kaget lalu membuka mulutnya. Pada saat itulah Bagas membelit apa yang dapat di belit dan mengabsen apapun yang dapat diraih oleh lidahnya. Hingga pertukaran saliva pun terjadi diantara keduanya.
Ciuman panas itu ternyata mampu membakar keduanya. Hingga Alexa tak menolak ketika Bagas menurunkan ciumannya ke leher depan dan juga samping. Hingga stempel yang bukan berasal dari divisi manapun itu tercetak dengan warna merah keunguan.
"Tuan, hentikan ...," lirih Alexa berusaha menahan dirinya agar ia tidak mengeluarkan suara jahanam itu. Akan tetapi, aliran yang menyengat setiap sendinya. Membuat Alexa terbuai rasa yang belum pernah ia nikmati sebelumnya. Kelembutan di padu dengan permainan yang mahir membuat Alexa sekejap melayang-layang tak karuan.
Seketika akal sehatnya menyadarkan. Alexa menggigit kencang bibir Bagas yang tengah memberi pagutan panas padanya.
PLAKK!!
Bagas terhuyung kesamping merasakan pukulan yang lumayan keras pada rahangnya. Sementara itu, Alexa juga merasakan hawa panas di telapak tangannya. Belum pernah ia memukul orang sebelumnya.
Merasakan pukulan yang kencang pada wajahnya tak membuat Bagas sadar dari pengaruh serbuk halusinasi. Alexa justru berpikir jika Bagas teramat rindu hingga jiwanya terganggu.
"Kenapa kau menolak ku Yukia? Aku sangat menginginkanmu kau tau? Aku bahkan merasakan sesak saking rindunya padamu. Kemarilah sayang, kita lebur kerinduan yang telah mengurung kewarasanku." Bagas kembali mendekati Alexa, hingga membuatnya berjalan mundur dan berakhir terbentur lemari berkas.
"Yukia sayang ...,"
BYUURR!
Segelas cairan bening dari botol air mineral disiramkan Alexa ke wajah Bagas. Hingga pria itu terkesiap, bahkan Bagas buru-buru menarik tangannya dari dada Alexa yang tanpa sadar tengah di remas olehnya.
__ADS_1
"AβAlexa ... aβaku ...," kaget Bagas sampai membuatnya terbata. Lidahnya mendadak kelu. Pria itu memberi cengkraman pada kepala dengan kedua tangannya.
"Saβsaya. Memakluminya, Tuan. Saya paham, anda tengah haus akan belaian dan kehangatan seorang wanita. Karenanya saya memaafkan anda." Alexa memasang senyumnya, dengan bibir yang bergetar. Karena apa yang baru saja terlontar dari kedua bibirnya bukanlah kata yang berasal dari hatinya. Sungguh saat ini hati terdalamnya tengah mengumpat Bagas habis-habisan.
Karena tuntutan dari misinya lah Alexa bersikap demikian. Bukankah memang sudah menjadi tugasnya untuk menggoda. semuanya terpaksa Alexa lakukan dan jalani demi kebebasannya dari tuntutan penjara seumur hidup. Satu hal yang aneh bagi Alexa, karena Bagas terus memanggil nama istrinya Yukia. Meskipun tadi ia tengah mencumbu Alexa dengan ganas.
"Tidak! Aβaku mengira bahwa kau adalah Yukia, istriku. Mana mungkin, aku bisa melakukannya padamu ...," racau Bagas masih berusaha menyangkal kelakuan yang baru saja ia perbuat kepada asistennya.
CEKREKK ... CEKREKK ....!
Alexa memfoto beberapa bagian pada wajah dan juga lehernya. Sebagai bukti visum jika memang Bagas mengelak kejadian barusan.
"Apa yang hendak kau lakukan dengan foto-foto itu Alexa?" heran Bagas.
ππ±π’βπ’π±π’π’π― π¬π’πΆ ππ’π¨π’π΄!
ππ±π’ πΊπ’π―π¨ π£π’π³πΆ π΄π’π«π’ π¬π’πΆ ππ’π¬πΆπ¬π’π― π±π’π₯π’π―πΊπ’!
ππ’πΆ π¨πͺππ’ ππ’π¨π’π΄!
Bagas terus merutuki dirinya sendiri. Menyalahi kebodohannya yang telah bertindak asusila terhadap asisten pribadinya. Jika Alexa menuntutnya ia harus bagaimana. Itulah kebingungan yang kini menyelimuti benak Bagas.
"Aku ingin menyimpannya."
"Apakah ini berarti anda bukanlah suami yang setia?"
_______
__ADS_1
"Selesai juga, fiuuhh!" Alexa secara diam-diam mengutak-atik laptop milik Bagas. Karena dirinya hendak mengcopy rekaman yang sengaja ia buat kemarin.
"Setidaknya, dengan adanya bukti ini, aku jadi tidak terlalu merugi. Karena tindakan asusila dari Bagas kemarin. Pria itu telah membuatku bagaikan mengeram di dalam kamar mandi selama 3 jam. Malangnya bibirku yang sudah tidak lagi perawan ini." Alexa terus bergumam setengah menggerutu. Setelah beres ia pun segera merapikan pekerjaannya segera. Sebelum Bagas datang ke kantor dan mencurigainya.
Malam harinya.
"Good job my girl!"
"Tidak ku sangka setelah empat minggu, projek kita ini ada hasilnya juga. Ku kira putraku tidak akan tergoda denganmu," tukas Anggara kemudian terkekeh senang. Kemudian pria paruh baya itu kembali menghisap cerutunya. Hingga asapnya mengepul di udara.
"Laporan saya sudah selesai, Tuan. Maka saya mohon pamit undur diri." Alexa pun segera berlalu dari ruangan kerja Anggara. Namun baru beberapa langkah, kalimat dari mulut Anggara menghentikan langkahnya.
"Setelah video ini sampai ke tangan Yukia, maka pada saat itulah inti daripada misi ini yang sebenarnya. Kau akan menghadapi tantangan yang lebih berat. Persiapkan dirimu dan langkah-langkah solusi penyelesaiannya dengan cara Smart." Anggara memberikan peringatan pada Alexa. Karena, pria paruh baya itu paham bagaimana tabiat dari menantu nya itu.
"Tenang saja, Tuan. Saya telah mempersiapkan diri saya untuk menerima Apapun yang terjadi kedepannya. Satu hal yang pasti saya akan memenangkan posisi terbaik. Anda akan mendapatkan apa yang diinginkan." Alexa berkata tanpa menoleh sedikitpun. Ketenangannya sungguh mampu dapat menutupi kerisauan hati yang sesungguhnya. Betapa ia sebenarnya gamang dan juga riskan terhadap posisinya yang mana akan dicap jelek oleh setiap tatapan mata yang melihat video tersebut.
_____
"Shittt!"
"Beraninya kau bermain di belakangku. Bagaass!"
"Aku harus segera kembali ke tanah air. Posisiku tidak boleh bergeser dari keluarga Gustavano."
Yukia segera memesan penerbangan malam itu juga. Ia tak peduli dengan schedule yang akan ia jalani esok.
Bersambung>>>>
__ADS_1