
🏹🏹🏹🏹🏹
"Turunkan aku Lian! Kau membuat kita menjadi pusat perhatian!" kesal Alexa. Bahkan ada beberapa orang yang mengacungkan ponselnya kearah mereka. Alexa tidak siap jika lagi-lagi dirinya viral di sosial media. Ia lelah ketika privasi dari kehidupan pribadinya di perhatikan orang.
"Baiklah tuan Puteri." Lian Feng malah berkelakar dan menggoda melihat wajah Alexa sudah merah padam karena malu. Ia menurunkan dengan perlahan kemudian mendudukkan Alexa di kursi tunggu. Setelah nya ia meraih benda pipih dari saku dan mendekatkan telinganya." Bagaikan pun caranya, aku tidak mau mengantri," ucap Lian pada orang diseberang telepon.
"Kamu tunggu sebentar ya," ucapnya lembut seraya duduk di samping Alexa. Kemudian, ia berdiri karena menerima panggilan di ponselnya. "Aku sedang sibuk. Tidak bisakah di undur dulu!" Lian tiba-tiba memijat pelipisnya.
"Pergi saja, aku ada Mey-Mey. Jangan tinggalkan pekerjaanmu. Kau itu harus profesional," usir Alexa, karena ia melihat raut wajah Lian begitu berat meninggalkan nya.
"Maafkan aku ya. Sebentar lagi akan ada perawat yang membawamu. Kabari aku nanti. Ah, tidak. Biar aku saja yang akan menghubungimu," ucap Lian lagi. Pria tampan ini benar-benar cerewet.
"Maaf telah merepotkan. Aku berhutang banyak padamu Lian," lirih Alexa. Ia selalu merasa tak enak hati jika berhutang budi dengan orang lain.
__ADS_1
"Sama sekali tidak. Aku senang jika dapat membantu mu. Kau tidak berhutang pada ku Lex. Bahkan aku yang berhutang padamu," tukas Lian dengan senyum simpul yang menambah aura ketampanannya. Pantas saja ia begitu di gilai oleh para penggemar wanita diluar sana.
"Kenapa jadi kau yang berhutang budi padaku? Aku bahkan hanya sekali menolong mu Lian. Sementara kau, sudah berkali-kali," heran Alexa dengan perhitungan pria mempesona di hadapannya ini. Untung saja Alexa bukan tipikal wanita yang gampang jatuh cinta. Karena, Lian memiliki semua hal untuk membuat wanita klepek-klepek.
"Karena setiap kau tersenyum, semangat dan kepercayaan diriku bangkit. Keyakinan ku bahwa dunia ini kejam seakan luntur perlahan. Kau menyadarkan ku bahwa, di dunia ini ternyata masih ada keindahan yang tersembunyi. Masih ada kebahagiaan yang bisa kau rasakan. Kau membuat jiwaku yang mati segan hidup tak mau ini, memiliki alasan untuk bangkit dari mati suri. Cukup tersenyum padaku Lex, bisa kah?" tutur Lian Feng yang mana membuat Alexa kehabisan kata-kata. Apalagi permintaannya begitu berat. Bagaimana bisa Alexa hanya tersenyum padanya? Lalu dengan orang lain dia merengut begitu?
'Aih, satu lagi pria yang bucin. Kalian membuatku susah bergerak. Bisakah menganggap ku biasa saja. Aku ini bukan milik siapapun!' rutuk Alexa dalam hatinya. Lagi-lagi ada pria yang menetapkan bahwa senyuman darinya ini berarti sesuatu. Apakah Alexa harus mulai bersikap jutek dan dingin pada orang lain. Ini bukanlah dirinya. Kepribadiannya memanglah terkenal ramah sejak dulu. Masa iya harus mendadak berubah hanya karena beberapa pria yang bukan siapa-siapanya.
"Maaf, aku tidak bisa menuruti permintaan mu. Lian. Sudah pembawaan ku begini sejak dulu. Akan tetapi, syukurlah jika aku dapat memberi kekuatan padamu. Bukankah sesama kawan harus memberi dan membantu. Saling menyemangati, begitu kan?" ucap Alexa yang sontak membuat air muka Lian berubah seketika.
"Aku pergi dulu. Itu perawatannya sudah datang," pamit Lian seraya menunjuk ke arah perawat yang membawa kursi roda. Padahal kan Alexa masih bisa berjalan menggunakan kedua kakinya. Kenapa Lian membuatnya seperti pesakitan yang lemah. Bukankah hanya satu tangannya yang terluka? Begitulah yang ada dalam pikiran Alexa saat ini.
" Pergilah. Semangat ya kerjanya!" ucap Alexa memberi semangat dengan senyum dan kepalan tangan yang terangkat di samping kepalanya.
__ADS_1
'Seandainya kau milikku, Lex. Ingin rasanya aku memeluk dan mencium mu sebelum aku pergi. Haihh, hatiku ini sudah tersangkut padamu, entah bagaimana cara untuk membuka simpulannya.' Lagi-lagi, Lian hanya bisa membatin.
Selepas sosok tinggi nan tampan itu pergi, Alexa menoleh ke ,kanan dan kiri mencari keberadaan Mey-Mey sahabatnya. Akan tetapi, ekor matanya justru menangkap sosok gagah nan tegap dengan langkah pasti mendekat padanya. Alexa pura-pura tak tau. Ia enggan menoleh, berharap bahwa dugaannya salah. 'Kenapa aku merasakan kehadiran Bagas ya. Mana mungkin juga dia ada disini kan? Heh, Alexa. Apa kau mulai ada rasa padanya? Gila saja kau!' pekik Alexa dalam hati menyadarkan otaknya agar berpikir secara rasional.
"Kau menikmati sekali ya. Di perlakukan bak Puteri oleh seorang anak boyband!" Suara bariton itu menyadarkan Alexa bahwa apa yang di pikirkan olehnya itu nyata. Ternyata, selepas kepergian pria yang bersikap manis padanya berganti pria yang suka bersikap seenaknya.
'Bisakah aku di buat pingsan saja, Thor. Agar telingaku ini tidak dapat mendengar ocehan tak jelas dari mulut pedas Bagas.' Sekelumit harapan mencuat dalam hati Alexa.
Sebelum Alexa menoleh untuk menjawab dengan berat hati. Perawat yang membawa kursi roda telah sampai di hadapannya. "Nona, mari ikut saya!" ajak sang perawat yang mengenakan seragam hijau muda itu.
"Saya masih bisa berjalan, Sus. Tidak perlu alat bantu benda seperti itu," ucap Alexa. Membuat sang perawat mengerutkan dahinya. Pasalnya ia mendapat perintah untuk mengantar kursi beroda ini bagi pasien.
"Ternyata kau bisa jalan!" pekik dari pemilik suara bariton itu lagi. Membuat sang perawat memegangi dadanya lantaran kaget.
__ADS_1
'Perawat saja sampai kaget begitu, dasar laki-laki tak sadar diri. Seenaknya saja teriak di rumah sakit.'
...Bersambung...