
"Jadi kita pacaran beneran nih?" pesan dari Bella untuk James..
Sayang si tujuan tidak merespon, dia sungguh kesal dengan situasi sekarang. Tidak ada satupun yang bisa ditegaskannya. Karir, keluarga, istri atau bahkan agensi.
Setelah dua jam, dia tidak mengiyakan pertanyaan Bella atau menolak, tapiiiii dia segera mengirim lagu yang diminta Bella untuk filmnya.
"Kirim aja udah daripada dia kebanyakan ganggu," gumam James sambil memainkan ponselnya.
Tanpa diselipkan kata-kata apapun. Sungguh James muyak dengan Bella. Kenapa wanita itu tidak mau sabaran, padahal dia sayang sama Bella asal mau mengikuti kata-katanya yang menunggu enam bulan lagi.
James sudah terlanjur kecewa dengan sikap Bella. Bagaimanapun, dia seorang suami dari gadis yang belum disentuhnya sama sekali bahkan cuma bergandeng tangan secara paksa dari mobil ke kamar dan pelukan perpisahan mereka.
Dia benar-benar akan menjalin hubungan dengan Bella kalau hubungannya dengan Tiara sudah jelas. Dia pikir juga pasti sang istri punya pacar jadi mungkin akan segera dilamar dan melepaskan dia. Enam bulan juga waktu yang lama, masih ada waktu untuk berpikir.
Sementara asyik memainkan ponsel, James teringat sesuatu. Kenapa pagi ini istri rasa gadisnya belum mengucapkannya selamat pagi?
Padahal itu selalu diterimanya selama seminggu ini.
"Apa dia kecewa ya? Tapi gak mungkin kayaknya," lirih James lagi.
Daripada mikirin istri, mending telpon Mommy aja dulu yang akan menjadi ledakan gunung berapi untuk kesekian kali.
tuutt...tuut...
tutt..tuuttt....
"Jangan katakan apapun," sahut Clarissa dari sebrang sana.
"Percaya sama aku Mom, bukan aku yang melakukannya," bujuk James.
"Mommy udah lelah sama kamu," Clarissa langsung menutup telpon...
Mata James berkaca-kaca.. Ini kali pertama dirinya berantem dengan Clarissa perkara wanita. James memilih mengalah sejenak untuk fokus pada albumnya.
Bukan karena ia durhaka, tetapi karena waktu dan jarak yang memisahkan mereka sehingga James mencari jalan paling baik, simpel dan tidak memakan waktu yaitu selesaikan jatah 3 lagu untuk diserahkan ke album baru..
Diantara mereka berempat, selalu dapat bagian menulis bagi masing-masing anggota, minimal dua lagu untuk setiap albumnya.
***
__ADS_1
Di sebuah rumah kontrakan sederhana, Tiara segera menggeliat saat bangun karena mendengar seruan ibadah dari masjid dekat rumahnya. Tapi saat membuka mata, kepalanya terasa pusing karena sudah banyak menangis.
Kasihan kamu gadis baik! Ceraikan aja udah suamimu... loh authornya sesat ...
"Aku harus gimana James?" ucap Tiara sambil menatap langit-langit kamarnya dan membiarkan kristal cair terlepas dari ujung matanya.
Tapi ia sadar, di dunia ini tidak ada yang instant kecuali indomie goreng yang langsung dimakan bagaikan mie remezzz snack waktu kecil (upss) ...
Segera ia duduk dan memantapkan hatinya. Ia tetap akan menghubungi suaminya seperti kemarin tetapi intensitasnya dikurangi.. Sesuai dengan kesibukannya dihari tersebut.
Kalau kemarin-kemarin 'kan jelas bantuan alarm. Sekarang tidak lagi. Cukup kapan dia ingat, maka saat itu juga dia kirimkan pesan pada James.
"Baiklahh... ayo mandi , malam ini bakal lembuurr gaes," ajaknya pada dirinya sendiri.
Gimanapun sedihnya kita, bukankah waktu terus berjalan? Hari akan berganti dan semuanya pasti terlalui?
"Sedih terus nanti hidup gue stuck dong...," gumamnya sambil beerjalan ke kamar mandi.
All okey. Segala persiapan dan perjalanan ke kantor sangat-sangat lancar. Syukur semesta membantu Tiara melancarkan semua aktivitasnya pagi ini jadi sedikit berkurang bebannya tentang sang suami.
Kerjaan cukup pelik hingga sampai sore hari dia tidak mengirimkan pesan pada James sekalipun. Bahkan hingga malam ia kelelahan dan segera tidur setelah mandi pun lagi-lagi tidak menjalankah rutinitas yang beberapa hari ini dia lakukan.
Keesokkannya pagi-pagi sekali Bella datang datang ke hotel untuk bertemu James. Mereka memilih duduk di pojokan restoran hotel. Tenang, status mereka sekarang jelas dan hotel mereka berada hotel elite berbintang yang keamanan privasinya terjaga.
"Ayo jalani hubungan yang baik. Kenapa kamu beda sekarang? Dulu kamu sangat hangat denganku?" Bella mulai berbicara dengan pelan pada James.
James yang mendapati Bella tertunduk sedih kini merasa bersalah. Bagaimanapun yang dikatakan Bella benar. Dia dulu sangat memanjakan Bella, mengirim bunga, coklat, memberi perhatian kecil tapi semenjak Bella bersikap 'over' padanya di London, ditambah tekanan dari Clarissa plus pernikahan dadakannya, ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Kasihan James.
"Maafkan aku selama ini berubah. Aku lagi banyak pikiran," ucap James sambil mengusap punggung tangan Bella lembut.
"Jangan cuekkin aku lagi ya," pinta Bella
James hanya mengangguk...
Beberapa menit bercengkrama, Arnold mengirimkan pesan pada James.
📩 "Selamat ya sudah jadian sama Bella (emoji wink)"
James membaca saja tapi tidak merespon sama sekali. Usai sarapan berakhir, Bella kembali ke rumah dan James lanjut untuk mengurus lagu baru.
__ADS_1
.
.
sepuluh hari berlalu, keadaan tidak banyak berubah. Tiara baru tiga kali mengirimkan pesan pada James. Bella dan James pun terlihat beberapa kali keluar untuk sekedar lunch atau belanja.
Tiga lagu jatah dari agensi sudah diselesaikan James. Kini giliran saat tengah makan siang, Bella meminta James mencari nada untuk lagu yang sudah diberikan Bella liriknya.
Akhirnya, disebuah toko eskrim ternama mereka mencari nada hingga tiga jam lamanya. Saat sore hari mereka kembali ke tempatnya masing-masing.
Meskipun hubungannya dengan Bella sudah membaik, nyatanya sesekali James memikirkan istrinya yang sekarang terlihat acuh. Mau menghubungi langsung pun dia malu karena sadar kesalahannya.
Akhirnya semua tim diberikan kebebasan waktu dua hari sebelum masuk ke proses rekaman, kemarin-kemarin hanya proses penulisan lagu sambil menetapkan musik dan nada.
James segera terbang ke Swedia mendengar kabar baik tersebut. Hubungannya dengan Clarissa tidak bisa dibiarkan. James sungguh menjunjung hormat kepada orangtuanya.
......................
Diamnya Tiara ternyata bukan tanpa alasan, di hari kelima setelah James dan Bella meresmikan hubungan mereka, ternyata Ditto menyatakan perasaannya pada Tiara.
WHAT! Tiara sungguh terkejut. Ditto emang baik tapi Tiara bisa apa. James dan Tiara sebenarnya sama-sama memiliki empati serupa tapi karena terbatasnya komunikasi, jadi satu sama lain tidak mengetahui hal itu.
Empati Tiara berbentuk tidak ingin menodai pernikahannya. Sebenarnya James juga sih cuma sekarang benar-benar tidak ada pilihan lain.
James saja sempat berpikir, kalau Tiara orang yang jahat bukan berarti dia harus kembali menjahati istrinya itu...
"Aku boleh lamar kamu kapan?" Ditto langsung bertanya tanpa basa-basi..
"Gila elu," sahut Tiara. Dia jadi bimbang sekarang. Ditto orang yang baik selama ini. Kalau bisa memilih dia juga mau memilih Ditto.
Waktu itu Refal, sekarang Ditto. "Selamatkan aku Tuhan" batinnya.
"Aku serius. Kamu gak percaya banget sama aku. Akhir pekan aku ke rumah kamu ya," sambung Ditto.
"Plis jangan ya Dit," Tiara memelas
"Kenapa? Kamu sudah ada yang pinang?" Ditto mengernyitkan dahi.
"Mmm.. aku... akuu...." Tiara tidak memiliki alasan .....
__ADS_1
BERSAMBUNG......