
Ada sekitar 5 menit Ariza mengajak Tiara ngobrol sebelum dipanggil temannya kembali. Selama 5 menit pula Tiara menahan rasa bimbang melihat raut James yang tak bersahabat. Bagaimanapun keduanya patut diladeni.
Tapi kenapa James jadi cemburuan gitu. Biasa juga nggak kok kalau Tiara cipika cipiki sama Hans atau Mark. Tiara jadi bingung sendiri.
Ariza pula ngomong tak henti-henti mengharuskan dia merespon dengan baik. Sepupunya loh, gak mungkin di usir kan...
"Kok dieem? cemburu yaa?" pancing Tiara saat sisa mereka berdua di meja itu.
James tetap tak menyahut satu kata pun. Tiara menggaruk dahinya yang tak gatal.
"Emang dia salah apa.. Kamu sama Kenny juga kan sering begitu.." Tiara mencoba berpikir hal yang seimbang. Ini baru pertama kali James mendiamkan dia persoal jeles-jeles-an.
"Aku sama Kenny begitu tapi kami gak pake hati. Jodoh-jodohan," jawab James...
DEG
DEG
DEG
"Gimana dia bisa tau," Tiara bermonolog.
Ariza dan Tiara pernah dijodohkan waktu usia Tiara 17 tahun dan Ariza lebih tua 4 tahun. Tiara sudah menerima dan jatuh hati tapi sayang rencana tinggallah RRRRencana.
Tiara menata hatinya kembali dengan tidak jatuh cinta pada siapapun sampai dia merasa dan tau hatinya harus diberikan kepada suaminya seorang dan Tuhan memberikan kesempatan itu untuk James.
"Tapi kan nikahnya sama kamu juga,"
Gimana ceritanya nih, kan katanya mau makan tapi gak ada yang panggil waiterss..
Sepanjang makan James masih lebih banyak diam. Tiara membiarkan saja, James butuh waktu untuk itu. James tadi sempat cerita jika ibu Tiara yang menceritakan semuanya pada Clarissa saat mereka sama-sama di London ketika temani Tiara terapi beberapa bulan lalu.
Dan Clarissa memberitahu pada James, karena ia merasa anaknya berhak tau masa lalu istrinya agar dimasa akan datang mereka bisa saling memahami. tapi apa jadinya sekarang? duh.
"Makan dulu sayang.. Cemburu butuh energi," bujuk dan ejek menjadi satu wkwk..
Tiara mengucapkannya sambil mengelus lembut lengan James.
Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, mau tidak mau Tiara yang agresif menggandeng James, karena James masih sedikit dingin.
Bukan tanpa sebab, karena dia takut akan rasa yang pernah ada dan hilang akan muncul kembali di dada sang istri.
__ADS_1
Lah, itu kata-kata untuk dirinya atau untuk istrinya. Mantan James juga ada kan? 🤔
"Sayang..." rengek Tiara ketika baru memasuki pintu kamar hotel.
"Mandi dulu baru ngobrol," sahut James singkat.
"Duh, nak nak, papimu kok aneh ya hari ini.. kan ibu cuma ketemu pamanmu aja.." katanya ketika berada di kamar mandi sambil mengelus perutnya.
Mereka sudah berada di sofa hotel. James juga sudah mandi dan berganti pakaian. Namun wajahnya kini sedikit lebih tenang. Mungkin sudah bisa menurunkan kadar kecemburuannya.
"Kamu bisa dengan mudah tau segala tentang aku, kehidupanku, kisah asmaraku, hobiku, apapun. Sedangkan aku masa tau Ariza dari mommy, bahkan mommy yang memperlihatkan fotonya, makanya tadi aku langsung tau itu orangnya,"
"Kenapa kamu tidak terbuka padaku, by?"
"Kalau tentang apa yang kamu mau makan, apa kebiasaan kamu, aku bisa pelajari dan memahami seirng waktu kita bersama. Tapi bagaimana kamu dulu, apa yang kamu lalui, apa yang selalu buat kamu sedih, aku selalu nunggu kamu cerita tapi nyatanya? Kamu setertutup itu padaku," James menumpahkan isi hatinya selama ini. Golden timing setelah bertemu dengan Ariza. Bahkan matanya sampai berkabut.
"Jaa..mess,"
Nah, bukan sayang lagi yang keluar dari mulut Tiara. Ada apa niihh?
Tiara menangis. tersedu-sedu nan terisak-isak. James mendekat dan memeluk sang istri. Mengusap punggung Tiara sambil mentransfer rasa nyaman.
"Maafkan aku," lirihnya.
Tiara melerai pelukan James, menatap wajah tampan itu dengan seksama dengan matanya yang masih menggenang bebas air-air.
"Maaf," kata Tiara lalu mengecup bibir James cukup lama.
Tiara memutuskan untuk menceritakan kisah-kisahnya selama hidup sebelum bertemu James.
(Mo nulis jadi mewek, ingat masa-masa kuliah diperantauan)
Gimana dulu Tiara ke sekolah hanya diantar ayahnya dengan sepeda, orang tuanya dicibir tetangga karena tidak berada, beruntungnya Tiara memiliki otak yang bisa dipergunakan dengan baik hingga dia bisa mendapatkan beasiswa untuk S-1.
Tidak sampai disitu, pengalamannya saat berkuliah bahkan lebih menyedihkan dibanding dia sekolah dulu. Ada kalanya 2 hari berturut-turut dia cuma makan telur rebus satu hari 1 biji dan air putih untuk menghemat. Uang yang diberikan sponsor beasiswa sangatlah press hingga dia harus berjuang mati-matian bahkan dengan bekerja part time.
Pun kisah asmara tak luput ia beritahu suami.
Sebelum sampai di perusahaan asing yang membuat dia bisa sedikit longgar dalam soal ekonomi, hidupnya memang penuh perjuangan. Tapi Tiara sadar pasti ada pelangi setelah hujan, artinya pasti ada kebahagiaan setelah perjuangannya selama ini.
Temen-temen readers yang sedang memiliki masalah, semoga bisa cepet beres yaa. Percaya ada hari esok yang lebih baik dari hari ini.🤗
__ADS_1
Ternyata James juga sama, dulunya saat kecil dia bukanlah keluarga yang cukup berada sebelum Daddynya mendapat kerjaan yang baik dan Clarissa menikah dengan Ben yang mapan dari dulu. pahitnya hidup yang dirasakan Tiara diapun sama dan mereka sekarang sama-sama berjanji untuk menata masa depan agar anak mereka tidak merasakan apa yang pernah mereka alami.
***
Keesokkan harinya.
"Aman Mom?" tanya James saat Clarissa dan Ben sudaj naik ke mobil di bandara Wellington.
"Aman aman," jawabnya tapi sedikit ngos-ngosan.
"Ke hotel James. Kalau mommy-mu sudah baikan baru kita ke kebunmu," pinta Ben yang kasihan melihat istrinya kelelahan setelah perjalanan panjang. Sudah U sihh wkwk..
Ngeyel pun, udah dilarang James untuk datang tapi dia bersikeras mau ketemu cucunya. Hmmm.. mamak mamak apapun segalanya benar.
"Cari rumah disini James, jadi kalau mau tinggal lama di Wellington kita gak perlu sewa hotel. Nanti aku bantuin bayarnya," cakap Ben.
"Belum kepikiran, Ben.. Nanti saja," fokusnya menyetir menjawab Ben tanpa menoleh..
HPL Tiara masih 2 minggu lagi, sedang bapak ibunya baru datang minggu depan.
"Udah siapin nama belum?" tanya Clarissa.
"Gimana mau siapin nama.. Nih aja belum tau mom baby boy atau baby girl,"
"Siapin untuk dua dua gitu," celetuk Mommy.
Tiara hanya tersenyum tidak menanggapi. Sebenarnya dia sudah memiliki beberapa calon nama. Tapi nanti sajalah dipublikasikan.
Seminggu berlalu, hari ini semuanya akan pergi, Clarissa dan Tiara serta 2 pekerja kebun mereka, ibu-ibu akan singgah di homestay yang James sewa dekat RS Tiara akan bersalin, 30 menit dari desa.
Sedangkan Ben dan James akan ke Wellington menjemput bapak ibu dan Yura yang lagi-lagi akan jadi translater kedua calon kakek nenek rempong itu.
Masih satu jam perjalanan James dan orangtua Tiara sampai di homestay mereka (dari rs ke Wellington butuh 1,5 jam, jadi perjalanan pulang pergi lebih kurang 3 jam), Clarissa menelpon dan mengatakan Tiara sudah berada di ruang bersalin, mungkin 10-15 menit lagi akan lahiran.
James ngerem mendadak dan membuat semua penumpang dalam mobil terhuyung ke depan.
"Wassaaap bro?" tanya Yura.
"Tiara sudah diruang bersalin,"
"WHAAATTT?" teriak Ben dan Yura bersamaan. Karena bapak ibu Tiara tidak paham bahasa Inggris.. wkwkwk..
__ADS_1
BERSAMBUNG....