
15 menit sebelumnya masih didalam kamar Tiara, entah mengapa James mendadak ingin berada didekat istrinya terus. Padahal kemarin-kemarin sensi loh. Apalagi sampai meminta Tiara akting didepan Clarissa untuk bilang kalau mereka harus berpisah selama 6 bulan.
Udah dituruti sama Tiara eh sekarang dia mepetin terus. Kan author bingung..
“Kamu mau balik Jakarta ngapain dalam selimut doang? Yuk susul Hans dan Erina. Mereka diatas,” ajak James.
Tiara tidak menjawab, lebih tepatnya malas karena benar-benar lelah dan menyiapkan tenaga lagi untuk perjalanan panjang besok pagi.
“Pura-pura aja kamu. Apa mau juga aku susul ke dalam selimut?” ejek James yang membuat Tiara auto mendudukkan dirinya.
“Ngomong apa kamu?” Tanya Tiara sambil menatap James tajam.
“Emang salah kalau aku minta hak aku sebagai suami, yeee. Dosa tau,”
“Diem. Tunggu disini aku ganti baju dulu,”
Melihat wajah Tiara yang panik barusan membuat hati James bahagia tiada duanya. Tak biasanya juga dia seperti itu.
“Aku harus percaya sama dia secara perlahan sekarang. Sejauh ini juga gak ada tanda-tanda aneh dan dia tetap setia meski aku sudah show off dengan Bella,” batin James.
“Kemana kita?” ujar Tiara yang sudah keluar dari kamar mandi usai berganti baju.. cukup sweater dan celana kain panjang aja, biar nggak rempong.
“Ke café diatas aja ya, susul Erina dan Hans. Hati-hati loh sepertinya Hans tertarik sama Erina,” ujar James membuat Tiara menahan langkahnya.
“Lah diem aja disitu. Ayok jalan,” kini James menarik siku istrinya.
Tiara terus kepikiran dengan rinrin dan Hans. Pasalnya popularitas Hans sungguh luar biasa. Dia juga tidak mengenal Hans dengan baik, tentu hal itu membuat kekhawatiran muncul, jangan sampai Erina jatuh hati pada Hans.
Segera ia melangkahkan kaki ke lift untuk naik ke lantai 20 hotel mereka.
Sesampainya di café, mereka langsung menuju meja Hans. Dan secara tidak sengaja mereka mendengar kebocoran mulut Erina yang berbisa meski ia hanyalah seorang manusia, bukan binatang melata.
“Kamu gak tau hubungan Tiara dan James?” ya ampun rinrin. Udah dibilang jangan kasih tau siapapunn.. huhu
Hans menggeleng pelan…
“Mereka..”
“Erina” suara James dan Tiara memenuhi gendang telinga Erina saat ia hampir membuka status James dan Tiara pada Hans. Entah sejak kapan kedua sejoli itu berada di belakang mereka.
“Cie pasangan abal-abal,” ejek Hans.
“Pasangan dari mana. Ini nih sok ngajakin aku perpisahan. Kapan lagi gitu ‘kan ketemu aku.. palingan besok-besok udah sibuk dengan Bella,” beber Tiara.
“Cemburu yaaa?” goda rinrin.
“Enak aja,”
__ADS_1
“Sudah-sudah pesan makan dulu,” usul Hans.
Usai semua makanan datang, Hans yang memang memiliki tingkat kedewasaan sedikit lebih baik dibanding James memilih untuk bertanya mengenai penusukan Clarissa bulan lalu.
“Kok kamu berani menolong Clarissa yang sudah dipenuhi darah? Gak serem apa?” Tanya Hans.
“Namanya waktu itu aku lagi panik, ya mungkin karena jiwa kemanusiaanku yang tinggi makanya aku langsung lari untuk menangkap Clarissa,” jawab Tiara tenang.
“Terus kamu tahu kalau itu mommy-nya James?” sambung Hans.
Deg
Deg
Deg
Bukan Cuma Tiara yang gugup, James pun terdiam dan berdebar. Menanti kata apa yang akan terucap dari bibir Tiara…
Namun, semua berubah ketika Bas menelpon James. Salah sendiri HP gak dikasih mode silent atau volume kecil. Berasa nonton konser kan.. uppss …. Mereka kan artisnyaa .. wkwk
James dilema mau menjawab telpon dari Bas atau mau mendengar jawaban Tiara. Dan sang istri solehah yang menyadari keingintahuan suaminya mengalah dan menyuruh James angkat telpon dulu.
Pertanyaan Hans akan dia jawab setelah telepon berakhir.
“Kenapa Bas?”
“Kok lama banget Bas? Yaudah hati-hati ya disana,”
“Gak mau salam sama Bella?” dasar asisten gak tahu diri.
“Berisik,” ketus James.
Cie ketus-ketus bahas Bella karena ada istri disamping ya James.
Usai menutup telpon, James kembali ke mode serius untuk mendengarkan jawaban Tiara. Sedangkan yang ditunggu untuk berbicara pun hanya tertunduk.
“Jawab pertanyaan Hans.” Perintah James.
“mmm…. Waktu itu… maksudnya saat yang penikaman itu aku nggak tahu kalau itu mommy-nya James. Saat di ambulans juga aku gak tau. Tapi aku baru sadar saat Clarissa di bawa ke ruang operasi dan perawat bilang anaknya akan datang 3 jam lagi. Saat itu aku baru ingat,” lirihnya sambil tetap menunduk.
“Kau sengaja mau bertemu denganku maka dari itu kau menunggu sampai Tom dan aku datang?” pertanyaan James mengagetkan mereka bertiga yang ada disana.
“James.” Hans menahan James agar tidak semena-mena bertanya kepada orang yang melakukan kebaikan kepada keluarganya. Apalagi disana ada Erina. Entah apa yang dipikirkan James sehingga dia menyimpulkan sendiri tindakan Tiara saat itu.
"Kalian pacaran atau nggak sih? Kok jadi tegang gini situasinya?" tanta Erina membuat Hans terkejut.
James langsung meninggalkan mereka bertiga dan kembali ke kamar. Sedangkan air mata Tiara terjun bebas tanpa pelampung di tangannya.
__ADS_1
"Tir elu utang penjelasan sama gue, gak mau tau pokoknya itu akan gue tagih tapi nggak sekarang karena elu kondisinya hancur banget ini," rinrin membuat janji sepihak pada tirtir. Kali ini dia berbicara bahasa Indonesia.
“Its okey. Aku tahu kamu orang yang baik. Kalau tidak, tidak mungkin Clarissa mengundangmu ke acara pernikahan keponakannya,” kata Hans sambil mengusap lembut lengan Tiara. Dia memberikan kode pakai matanya pada Erina agar menenangkan Tiara.
“Kalau saja aku mau pergi segera saat itu, sangat bisa. Tapi aku memilih untuk menunggu operasinya selesai dan keluarganya datang. Aku nggak peduli apakah yang akan datang James atau bukan, yang penting aku nggak meninggalkan Clarissa sendirian pada saat itu,” Tiara sesegukkan menjelaskan pada Hans dan Erina.
“Iya kami tahu.. sudah jangan nangis lagi yaa. Sekarang kembali lah ke kamar dengan Erina,” pintanya dengan hati-hati.
***
James masuk ke kamarnya dan langsung membanting pintu.
Pikirannya kacau, mengapa dia bisa lepas kontrol lagi kepada Tiara. Padahal seharian ini ia mampu bersikap baik-baik saja tapi malam ini ia langsung ketus.
“Apa efek rasa kurang percayaku pada orang lain sekarang makin besar ya? Astaga kenapa aku bisa seperti tadi? Gimana kalau niatnya memang baik? Tidak-tidak dia pasti sengaja mau tunggu aku datang,” James frustasi sampai mengacak rambutnya sendiri dengan kasar.
“Kenapa kau begitu dengan Tiara? James bersikaplah dewasa. Tidak semua orang jahat, memang benar orang jahat itu nyata, tapi apa kau tidak bisa menilai? Pakai otakmu sebelum berucap. James, ingat, jangan biarkan keterpurukanmu akan masa lalu menyakiti orang-orang sekitarmu,” omel Hans saat masuk ke kamar mereka.
Kini Hans yang sering terlihat tenang sedang berang dengan sahabat satu band-nya yang berada didepannya kini. Air mata Tiara tadi masih terbayang-bayang olehnya. Apalagi penyebabnya menangis adalah sahabatnya sendiri.
James yang menyadari kata-kata Hans seketika sadar bahwa ia sangat salah melakukan hal barusan kepada istrinya. Hingga ia segera menuju ke kamar Tiara dan meminta Erina keluar sejenak. Erina sih gak masalah, kan tau mereka sudah resmi berpacaran. Sedangkan Tiara masih duduk di tepi ranjang sambil terus menangis. Sang suami bingung bagaimana mengucapkan maaf pada istrinya kini, ditengah kegalauannya untuk meminta maaf terbesit akal usil di otaknyaa.
Dia memilih duduk di sisi istrinya lalu memberanikan diri memegang kedua pipi Tiara dan diarahkannya untuk bertatapan dengan matanya lalu ….
.
.
.
CUP
.
.
James menempelkan bibirnya di bibir istrinya tanpa permisi ….
BERSAMBUNG …..
Sebelumnya mau jelasin, karena ini latar belakangnya di Italia dan James, Hans menganut budaya barat maka menyebut Clarissa tanpa embel-embel Mommy atau Aunty hal yang biasa.
Jangan dikira author yang gak sopan yaa, hehe...
jangan lupa LIKEEE
aciiwww
__ADS_1