
Bella yang mendengar permintaan James menunduk dan langsung menampakkan kesedihan diwajahnya.
“Sial. Aku gak boleh sampai lepas dari dia. Kami harus tampil bersama di acara launching film baruku. Sepasang kekasih, yang cewek sebagai bintang film dan pacarnya menjadi pengisi soundtrack,” batin Bella geram.
“Apa kita tidak bisa terus bersama sambil memperbaiki hubungan kita?” Tanya Bella.
“Kita bukan berbicara tentang hubungan. Kita sekarang berbicara tentang hati. Apa-lah arti sebuah hubungan jika hati kita tidak mengiringi jalannya hubungan tersebut?” lantang James.
SKAKMAT..
“James..” panggil Bella lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Jangan menangis. Aku tidak pergi dari sisimu. Aku akan tetap ada dan kita tetap bisa berhubungan. Tetapi kita putuskan untuk tidak berpacaran lagi,” sambung James.
“Aku tidak mauu,” Bella menggeleng kuat.
Melihat keras kepala Bella, James malas untuk mengajak ribut. Pikirannya belakangan benar-benar kacau sejak perpisahannya dengan Tiara dari Italia beberapa hari lalu. Hingga kalau dia menjawab Bella maka emosi yang akan timbul dan tidak menemukan titik akhir.
“Sudahlah. Ayok kita pulang. Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu. Sudah ada supir yang menunggumu di bawah,” ajaknya.
James benar-benar trauma dengan jebakan Bella beberapa waktu lalu yang menciumnya di parkiran depan pintu masuk hotel dan diabadikan oleh beberapa papparazi.
James segera kembali ke rumah dan langsung memasuki kamarnya untuk beribadah dulu. Meminta ketetapan hati. Sebenarnya udah lumayan menetap ke istrinya sih, tetapi masih ada sedikit keraguan dan masih dalam status berpacaran dengan Bella.
Sungguh menunggu bukanlah sesuatu yang mengenakkan dan itu yang sedang dirasakan James kini. Hingga membuat dirinya menurukan ego dan menghubungi Tiara lebih dulu.
Sedangkan di Jakarta, sang istri sedang rebahan di kamar sambil chatting dengan teman-teman grupnya untuk merumpi. Entah apa yang dibahas mereka sampai jauh malam seperti sekarang ini.
...“Aku sudah memutuskan hubungan dengan Bella tapi dia keberatan. Sekarang belum ada kesepakatan apa hubungan kami. Hanya saja aku mau memberitahumu kalau aku sedang bimbang dengan perasaanku terhadapnya kini,” isi pesan James pada Tiara....
Mendapat perhatian baik dari James, Tiara jadi merasa iba. Dia sudah mengacuhkan James beberapa hari ini karena benar-benar kesal atas perkataan James saat malam sebelum kepulangannya dari Italia.
“Ahh, sudahlah. Biarkan aku videocall saja,” gumamnya.
“Why?” Tanya Tiara.
__ADS_1
“Lagi dimana?” James tidak menjawab pertanyaan Tiara tapi malah kembali bertanya keberadaan sang istri.
Akhirnya mereka ngobrol seperti teman biasa diisi dengan Tiara yang sedikit sudah mau terbuka dengannya. Ia becerita sepanjang hari ini melakukan hal apa saja, meski tidak ada yang menarik sih.
Setelah 10 menit videocall, mereka mengakhirinya. James sedikit lega setelah mendengar istrinya mau bercerita sebebas itu padanya, tapi tidak dengan Tiara yang merutuki dirinya kenapa dia merasa berbahagia setelah videocall dengan James.
Berbeda James, berbeda pula Bella.
Sesampainya di hotel ia segera menghubungi tim manajemennya yang memang sengaja menjebak James dalam permainan mereka. Tim manajemen memaki Bella karena mereka tidak bisa mencapai tujuan dengan mengirimkan Bella ke London.
Yap. Mengajak James jalan di tengah pusat perbelanjaan agar bisa ditangkap papparazi. But sorry, James menolak semuanya sekarang.
“Pertemuan kalian tadi pun kau tidak mengambil foto berdua? Kenapa kau bodoh sekali.” Entahlah berapa kali sudah kata bodoh keluar dari mulut atasannya yang berada di Amerika itu.
“Tenanglah. Besok aku akan berusaha menemuinya lagi,” janji Bella dan langsung mematikan sambungan telponnya.
Esok hari, Tiara yang di Jakarta tetap menjalani kehidupannya seperti biasa namun pagi ini dia tetap tidak mengucapkan selamat pagi pada James seperti yang biasa dilakukannya di awal-awal pernikahan.
“Nanti aja deh ucapin makan siang untuk dia,” pikir Tiara.
Sesuai harapan, banyak papparazi yang mengambil gambar mereka berdua. Bella masih dengan aktingnya yang merangkul lengan James saat turun dari mobil dan memasuki tempat makan, mencium pipi James curi-curi bahkan menyuapi James makanan.
“Mati aku sebentar berita akan heboh lagi,” batin James yang malas akan pemberitaan dirinya dengan Bella.
“Cepatlah makan. Aku buru-buru harus segera kembali ke studio,” perintah James.
“Baiklah. Mmm James, sepertinya dua bulan kemudian kita tidak bisa bertemu ya karena aku akan sibuk dengan promosi film baruku. Tapi, saat launching aku harap kau bisa menyempatkan waktu untuk hadir menemaniku,”
“Aku tidak janji untuk bisa hadir. Semangat bekerja dan semoga sukses.” Jawabnya datar.
“Terus gimana pembayaran lagu soundtrack yang kau berikan untukku? Apa kau mau aku menservismu diatas ranjang?” tawar Bella sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Apa kau sudah selesai makan? Ayok kita pergi,” sahut James tidak menimpali sedikitpun tawaran Bella.
“Siall. Awas saja kau sudah berani menolakku,” batin Bella geram.
__ADS_1
***
Saat memasuki lobby kantor agensi yang menjadi tempat rekaman James, ia berselisihan dengan Arnold yang langsung tersenyum sumringah padanya. Apalagi kalau bukan karena berita ‘sarapan bersama’ James dan Bella.
“Makin serius nih hubungan kalian,” godanya.
“Apa urusanmu boss?” sinis James.
Sekalipun Arnold atasan tapi jika bicara bukan soal pekerjaan maka jangan harap James mau memperlakukan Arnold layaknya atasan. Karena James dan Hans jenuh dengan sikap keserakahan mereka termasuk memojokkan James untuk pacaran dengan Bella beberapa waktu lalu.
“Tersenyumlah sekarang. Sebentar lagi aku akan menghentikan senyummu. Ya, dengan mengakhiri hubunganku dengan Bella. Ah, semoga segera ada cara,” ucap James dalam hati.
Usai rekaman yang memasuki malam hari James segera mengecek ponselnya dan tersenyum senang. Saat jam makan siang tadi dia menerima pesan dari Tiara.
“Sudah mulai rekaman belum? Jangan terlalu sibuk James dan jangan lupakan pola makanmu ya. Bekerja secukupnya,”
Astaga diperhatikan begitu saja James langsung tersenyum malu-malu sendiri dan tidak menghiraukan sekitarnya.
“Sejak bersama Bella kau jadi sering senyum-senyum sendiri kalau melihat ponsel,” sindir Mark teman satu band-nya.
'BBHHUUUKKK' Hans yang disamping Mark langsung menyemburkan minumannya dan menahan tawa. Ingin sekali Hans memberi tahu Matthew dan Mark kalau bukan Bella yang bisa membuat James seperti itu.
“Salah sendiri kemarin gak ikut ke Italia. Ada pemandangan menarik disana.” Ejek Hans sambil melirik James. Yang dimaksud Hans adalah pemandangan James yang selama berada di sisi Tiara sedikit berubah menjadi konyol kecuali menuduh Tiara di makan malam mereka saat di rooftop.
James yang paham arah pembicaraan Hans langsung memasukkan ponselnya ke kantong dan keluar ruangan tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Makanya kalau ada yang lebih baik jangan disia-siakan,” perkataan Hans menghentikan langkah James dan dia langsung menoleh.
“Maksudnya? Lebih baik? James punya wanita lain selain Bella?” Mark dan Matthew langsung mencerca Hans sambil menatap heran…
BERSAMBUNG……
Gak Erina gak si Hans bocor kabeh !!
Nyesal dah James bawa Hans ke Italia…
__ADS_1