
Seminggu berlalu, sepulang dari RS semua keluarga dibawa James ke rumahnya di tengah kebun. Ibu Tiara dan Clarissa kerap kali bergantian mengurus cucu mereka tanpa henti.
Bapak, Ben dan Yura setiap pagi ikut James berkebun yang 2 bulan lagi akan panen. Kalau dari cerita Sean, penghasilan per panen, ya paling banyak senilai 10 kali lebih rendah dibanding sekali James manggung dulu.
Atau bisa disamakan dengan satu harga lagu biasa James ciptakan kurang dari satu hari.
Tapi, yaa itu pilihannya. Toh kalau James menikmati kenapa tidak.
"Sayangg.. sini papi gendong," ucapnya sambil mengambil sang putri dari pelukan Tiara. Setiap pulang kebun tengah hari, jam 12 atau jam 1, James langsung mandi sebelum berjumpa anaknya.
Tentu kalian tidak lupa 'kan, peraturan James bahkan untuk Tiara setiap dari luar rumah wajib mandi sebagai antisipasi agar bakteri atau kuman dari luar rumah kembali steril. Sama istri aja segitu disiplinnya pakabar sama Jasmine...
"Aku ambilin kamu minum hangat dulu ya," Tiara hendak beranjak dari kasur. Biarpun waktunya lebih tersita ke Jasmine, tapi kalau masih ada waktu longgar ia tetap memperhatikan kebutuhan James.
Ah untung saja dapur menyapur sudah ditangani ibu dengan baik.
Saat makan malam, Clarissa berniat membangun atau membeli rumah didekat-dekat rumah James. Dia pun suka dengan suasana di perkebunan James yang asri dan segar, jauh dari polusi.
"Ah mom bisa aja, kasihan Tom kalau mom disini. Sendirian dong dia," kata James.
"Biarin. Ngapain peduliin kakak kamu. Atau di kota sebelah juga gak apa-apa di sekitar RS kemarin," Clarissa mencoba berbicara dengan Ben. Bujuk-bujuk manja.
"Iyaa nanti kita cari ya honey," Ben mengiyakan. Soal duit, sudah dijelaskan jika Ben berangkat dari keluarga cukup berada. Jadi masih aman.
Sedang ibu bapak Tiara memilih kembali nanti, setelah Jasmine berusia 40 hari atau paling lama 2 bulan lagi lah. Yaa atau setelah panen đź¤...
Jam berlalu, hari berganti pun bulan sudah maju. Perkembangan baby Jasmine sangat baik. Ia selalu dikontrol ke dokter dekat rumah mereka untuk diberikan vitamin dan imunisasi.
Hubungan James dan Tiara semakin harmonis. Apalagi, no gadget gadget team untuk situasi yang tidak memungkinkan mereka memakai alat elektronik yang butuh jaringan. Ibu bapak dan Yura sudah kembali ke Jakarta 3 hari lalu. Clarissa dan Ben masih screening rumah yang mau mereka beli.
Sebenarnya, tanpa diketahui banyak orang, James sudah menyimpan lebih dari 10 lagu yang selalu dia buat ketika semua orang tidur, atau ketika lagi istirahat di kebun.
Sebagai apa?
Tentu sebagai investasi..
Bagaimana bisa?
__ADS_1
Bayangin kalau satu lagu berdurasi 3-4 menit ditawar produser untuk standar internasional bisa Rp 5 Miliar diluar loyalty, misalkan booming, dipakai manggung, dan keuntungan lainnya. Paling sedikit James bisa mengantongi Rp 15-20 Miliar.
Dan, atas kerendahan hati James dalam bermusik, percaya atau tidak, sebenarnya sudah ada 3 label besar selalu menghubungi James untuk memintanya menulis lagu. Tapi James selalu menolak dengan alasan ada kesibukan lain..
Tapi setelah dipertimbangkan kembali, apalagi ada yang menawar lagu James sampai harga 2 kali lipat, karena lagu ciptaannya riskan jadi booming maka label-label besar berani ambil dengan harga tinggi, James tampak tergiur dengan tawaran mereka.
Dalam sebulan paling tidak income kasaran James bisa Rp 40 Miliaran diluar loyalty setiap manggung dari artis yang memakai lagunya. Yang setidaknya Rp 100 Miliar bolehlah. Apalagi dia mau buat something new buat keluarga kecilnya...
ah dari pada mikir lagu, mending James mempersiapkan panen besok lusa. Panen pertamanya, gimana gak gugup tuh..
"Sayang, mommy udah dapat rumah belum?" Tiara bertanya pada James saat mereka sedang dikamar dan bersiap tidur. Tentu dengan Jasmine ditengah-tengah mereka.
Bayi chubby itu lebih di emong sama papinya daripada ibunya. Wkwk.. Jadi tiap malam yang meluk Jasmine kalau bobo ya si James.
Yang mandikan pagi hari juga James, Tiara lebih cenderung menyiapkan baju Jasmine dan James, kebutuhan perut James, menyiapkan bekal sebelum ke kebun, hal semacam itulah.
"Kayaknya udah nemu deh yang cocok deh, cuma gak tau deal atau nggak? Semoga-lah. Kasihan udah hampir sebulan nyari belum-belum juga dapet," sahut James yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Masa panen pun tiba. Baby Jasmine dibawa ke kebun dengan James dan Tiara memakai jeep mereka. Ben dan Clarissa sudah lebih pagi menuju kebun dengan berjalan kaki.
Semua pekerja duduk bersusun rapi diatas terpal yang dihampar di lantai luas untuk mencabut daun kotor yang masih menempel di jeruk hasil panen hari ini.
Sepanjang proses panen, Tiara, Clarissa dan Jasmine hanya berada di pondok memantau dari jauh. Tiara merasa sangat bersyukur dengan kehidupannya sekarang. Lebih kekeluargaan dan tidak banyak pihak yang mengusik.
Hari sudah hampir sore ketika hasil panen hari pertama selesai. Semua sudah kembali kerumah masing masing.
Kalau ikut prediksi maka panen akan terus berlanjut hingga 3 hari kedepan.
Dengan ditemani Ben, James menjual hasil panennya di sebuah pabrik minuman jus buah kemasan. Yah, memang langganan dari pemilik sebelumnya. Hasil kotornya sekitar Rp 4 Miliaran, tapi belum dipotong biaya perawatan, beli bibit baru, dan membayar upah para pekerja. Mungkin James bisa mengantongi secara bersih Rp 3 Miliar saja.
Tiara jelas tidak mempermasalahkan hal itu.
***
Waktu terus berlalu, baby Jasmine kini sudah menginjak 15 bulan dan Tiara sedang hamil anak kedua selama 4 minggu. Mereka sudah panen 3 kali dan Clarissa beneran tinggal di kota sebelah dekat rumah sakit Tiara melahirkan waktu itu. Setidaknya seminggu atau dua minggu sekali mereka saling berkunjung.
Tiara dan James sudah 2 kali pulang ke Indonesia, pertama untuk acara akikah Jasmine dan kedua sekedar jalan jalan. Hadiah pernikahan untuk Erina juga sudah Tiara berikan berupa jam tangan couple mewah seharga 3 unit motor baru.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan seorang pun, ternyata James sudah menjual lagunya sebanyak 15 judul ke beberapa label. Tentu diterima dengan antusias oleh para pemburu pundi pundi dalam bidang musik.
“Baiklah, aku rasa sudah saatnya,” gumamnya.
Hingga suatu hari James mengajak Jasmine, Tiara, Clarissa dan Ben, bapak ibu pun datang dari Indonesia karena ada informasi penting yang akan dia umumkan.
Seluruh pekerja disuruh mendatangi sebuah pabrik baru dengan luas lokasi 2 hektar, 15 menit dari kebun mereka.
Setelah semua berkumpul, James menurunkan kain penutup besar yang sengaja ia pasang untuk membuat semua yang hadir penasaran.
BUUSSSHHHHH !!
Begitu kain diturunkan, semua tercengang dengan apa yang ada di depan mata mereka.
JeJeLa Fruity, brand dengan papan baleho besar terpasang sempurna. Singkatan dari James Jasmine dan Maheela yang merupakan nama belakang Tiara.
“Sayang,” Tiara teriak terkejut.James hanya mengangguk membenarkan.
“Ini pabrik minuman jus kemasan yang sengaja aku buat untuk anak anakku, sebagai investasi dan agar temen temen yang memiliki kebun didekat sini bisa mendayagunakan hasil panennya tidak terlalu jauh,” kata James dalam sambutannya di depan semua orang.
Hadirin pun dipersilahkan masuk, Mike terlihat hadir disana karena selama beberapa bulan ini James membutuhkan dirinya untuk mengurus izin, kontrak dan dokumen legalitas lainnya. Bukan Mike yang menandatangani karena izin wilayah kerjanya bukan Selandia Baru, tapi Mike yang menyiapkan segalanya sedetail mungkin karena dia orang hukum.
“Terima kasih sayang,” Tiara berbisik lalu mengecup bibir James ketika mereka mengelilingi pabrik.
Alat alat yang James gunakan sangat kekinian dengan kapasitas hasil produksi 3.000 botol perhari…
“Ada lagi hal lain yang harus aku katakan dengan kamu …..,” sebut James.
“Tentang?”
.
“Ada deehhh….” Usilnya sambil meremas sebelah bola dada Tiara yang membuat sang istri membulatkan matanya tak percaya. Ratusan mata melihat mereka pasti Tiara risih dan malu...
"Pulang dari sini, Jasmine titip mommy aja ya," sambung James dengan senyum penuh artinya Apalagi kalau bukan tralala trilili di siang bolong..
Bersambung …..
__ADS_1