
Malam hari, mereka bersiap untuk tidur. Kesunyian dan suara hewan malam yang menemani mereka berdua di dalam kamar yang sangat luas untuk diisi berdua itu.
Furniture pun sudah disempurnakan James untuk kenyamanan istrinya agar bisa bertahan disana. Meski sebagai pemula dalam bidang pertanian tapi James kuat tekadnya untuk menekuni dan meninggalkan kehidupan di kota sana yang sudah memberikan dia pundi-pundi berlimpah yang lebih dari cukup.
"Kamu serius gak apa-apa kan?" tanya James saat mereka baru selesai memasukkan baju ke lemari dan hendak tidur.
"Tanya terus deh," malas Tiara.
"Aku takut kamu keberatan lalu menyimpannya sendiri honey," James memeluk Tiara dari belakang.
"Sudah jangan mikir aneh-aneh. Telpon mommy dulu yuk ucapin selamat tidur," ajaknya.
"Disana siang kali,"
"Hehe... maksudnya kita yang mau tidur sayang. Sensitif bener deh,"
"Iyaa.. iyaa..." James mengeluarkan ponselnya. Mencoba mengaktifkan data untuk bisa VC sang mommy. But...
Jaringan internet tidak sampai di kamarnya. Tapi seingatnya waktu observasi ke kebun dapat aja kok sinyalnya.
"Honey gak ada sinyal. aku SMS mommy aja ya... Besok di kebun baru kita VC," kata James.
"Okeyy," Tiara naik ke ranjang dan mengecup kening serta bibir James sekilas baru rebahan disampingnya. Mereka berdua benar-benar terlelap karena kelelahan berkemas.
Keesokkan paginya, mereka terbangun bersama. Tiara segera ke kamar mandi untuk mencuci muka dan membuat sarapan. Cuaca disana sangat dingin hingga menusuk tulang belulang. Tiara memutuskan memakai coat meski di dalam rumah.
Tidak lupa dia merebus herbal yang bisa menghangatkan badan, jahe dan serai. Juga untuk imun mereka berdua untuk memulai kehidupan baru.
James pun menyusul istrinya ke dapur dan tampak di meja makan sudah ada secangkir herbal.
"Sayang minum dulu biar hangat," ucap Tiara sambil tidak memindahkan matanya dari sarapan yang sedang diaduknya.
"Aku masak untuk sekalian makan siang gak nih? atau ntar kita balik kalau siang?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Bawa aja untuk sampai siang, buat jaga-jaga."
Tiara menyiapkan oat yang diiriskan strawberry dan kacang almond sebagai sarapan. Untuk makan siang dia cukup merebus kentang, sawi putih, wortel, telur rebus serta steam udang.
"Makan oat aja gak apa-apa kan sayang.."
"Gak apa-apa. maaf aku telat bangun jadi gak bisa masakin kamu.. Biar aku aja yang siapin makan kita mulai besok ya, kamu lagi hamil gitu pasti susah bergerak,"
"Gak ada kolam renang, gak ada senam hamil, kalau- kamu larang aku ini itu yang ada aku cuma diem aja 24 jam gitu. kamu gak kasihan sama aku kalau aku nanti susah bersalin karena kurang gerak selama hamil.. Aku juga butuh aktivitas sayang," protes Tiara.
"Yaudah.. Masak aja ya, yang cuci piring tetep aku," James menjawab sekenanya karena apa yang diucapkan Tiara sepenuhnya benar.
Pemilik kebun yang lama, Sean, mengumpulkan pekerja di satu titik untuk memperkenalkan mereka dengan tuan yang baru karena dia sudah menjual lahannya. Sekitar 30an pekerja mulai dari mandor, pemberi pupuk, pemberantas hama, QC hasil panen, tukang timbang, pembersih daun kering yang gugur semua hadir untuk berkenalan dengan James.
Jarak antara rumah mereka dengan lokasi kebun sekitar 5 menit dengan mobil Jeep yang baru. Sepanjang perjalanan kebun, cuma ada kebun buah lain yang terus menghiasi mata Tiara sedari tadi.
Blueberry, apel hijau, melon, anggur, strawberry, semuanya ada disana. Mau makan pun tinggal bilang dengan sesama pekerja disana. Sudah aturan dari semua pemilik kebun buah lain jika tetangga mereka ingin meminta untuk dimakan, maka boleh diberikan tanpa meminta izin lebih dulu.
"Nah itu bos baru kalian sudah datang," ucap Sean. Semua mata tertuju pada James dan Tiara. Apalagi kini James membantu Tiara turun dari Jeep dengan perut buncit.
Sean memberikan James skema pertumbuhan jeruk mulai dari pembibitan hingga pembuahan, berapa tahun sekali pohon harus ditebang. Sejenis kalender gitulah. Sean menjelaskan secara rinci dan detail. James pun mendengar seksama secara antusias.
Mereka berkeliling sambil menelusuri lokasi. Sean pribadi yang baik hati memberikan rincian dan standar gaji bagi pekerja agar kedepannya James tidak memberikan upah kurang dari yang diberikan Sean.
"Gimana dengan makan siang mereka?" tanya Tiara.
"Mereka membawa makanan masing-masing. Jangan khawatir soal itu. Mereka banyak bekerja jika proses pembuahan dan pembibitan saja, selain itu mereka hanya mengontrol dan membersihkan area kebun," sambung Sean.
Sementara berkeliling, baik ponsel James dan ponsel Tiara tak henti berbunyi..
"Astaga... Banyaknya," James kaget melihat notif di ponselnya bagaikan hujan deras terus masuk secara tidak sabar.
"Hehehe.." Sean terkekeh.
"Cuma di bagian barat kebun sini yang kuat jaringannya untuk internet. jadi kalau mau buka sosmed yaa berdiri disekitar sini. di tempat lain jangan harap, apalagi di rumah kalian,"
__ADS_1
"Pantas sayang," lirih Tiara mengingat semalam mau VC Clarissa tidak bisa.
Ketika makan siang, Sean undur diri karena sudah ditunggu istrinya dirumah. James dan Tiara menuju gazebo di depan gerbang pondok untuk menikmati makan siang yang tadi dimasak Tiara.
Bayanginnya aja romantis yaa...😍
"Belum bisa makan ayam atau daging nih?" tanya James lembut karena sejak awal kehamilan kedua bahan makanan itu tidak pernah disentuh istrinya.
Tiara menggeleng.
"Jangan-jangan anak papi atlit renang lagi atau tentara maritim," James menunduk agar wajahnya kedekat perut Tiara untuk mengajak anaknya bicara. Pasalnya selama hamil Tiara hanya mau makan seafood, makanya James ajak anaknya bercanda.
"Aw... gerak sayang.. Ooh jadi anak ibu beneran mau jadi atlit renang," kini Tiara yang mulai ajak anaknya bicara sambil mengelus perutnya..
"Weekend kita lihat baby fruity ke kota sebelah ya (yang diatas tadi RS jaraknya 30 menit dari kebun), sekalian belanja bahan makanan sama perlengkapan baby.. sama sekali kita belum belikan apa-apa loh by,"
"Iya yaa, kita terlalu sibuk sih. Kamu konser lalu ngundurin diri, eh kita udah disini aja," Tiara sepakat untuk belanja di weekend mendatang.
Hari H yang mereka janjikan tiba, kini James dan Tiara sedang memilih bahan makanan untuk 2 minggu bahkan sebulan kedepan. Lalu lanjut ke toko perlengkapan bayi dan mulai membeli hampir semua yang dibutuhkan. Maklum anak pertama.
Puluhan juta habis!
James nggak masalah, untuk anaknya juga.
Kini mereka berada di sebuah cafe untuk mengisi perut sebelum bertemu dokter kandungan. James membawa sepasang pasutri yang bekerja di kebun mereka untuk menyetirkan mereka karena James belum hafal jalan disana..
Seorang lelaki tiba-tiba menghampiri mereka dan James merasa pernah orang itu meski tidak pernah bertegur sapa.
"James...." tegurnya.
Mereka berempat bingung namun James berusaha menyapa kembali. Lelaki itu meminta James duduk bersamanya di kursi berbeda. Ada hal penting yang akan dia sampaikan pada James.
"Maaf anda siapa?" James bertanya saat mereka sudah berdua di meja lain.
"Kenalkan aku Luke, Director agensi SuperStar (agensi terbesar di Sydney).. Aku hanya refreshing kesini untuk cari udara segar, tapi ternyata aku bertemu denganmu.. Kebetulan James, sekarang kami menaungi artis baru dan membutuhkan 3 lagu tambahan.. Apa kau masih mau menerima tawaran menulis lagu dengan kerjasama royalty?" tanyanya...
__ADS_1
BERSAMBUNG ......