
James yang paham arah pembicaraan Hans langsung memasukkan ponselnya ke kantong dan keluar ruangan tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Makanya kalau ada yang lebih baik jangan disia-siakan,” perkataan Hans menghentikan langkah James dan dia langsung menoleh.
“Maksudnya? Lebih baik? James punya wanita lain selain Bella?” Mark dan Matthew langsung mencerca Hans sambil menatap heran…
Hans langsung membulatkan matanya dan menutup mulutnya karena omongannya menjadi perhatian Mark dan Matthew. James yang tadi berbalik pun ikut melirik James dengan tatapan heran. Dia hendak mengomeli Hans sekaran juga, tapi apa mau dikata, kondisinya tidak memungkinkan lagi sekarang.
“Eeehh, mmm… ituu….” Hans berpikir mencari jawaban.
“Apa? Siapa cewek baru James? Ternyata James kalem-kalem juga pintar main serong ya,” ejek Mark.
James semakin menajamkan tatapannya pada Hans pertanda agar segera menjelaskan kepada mereka dengan tidak membenarkan kalau James memiliki hubungan spesial dengan wanita lain. Huuuuu, kemana-mana masih tinggian status Tiara kali.
“Yang lebih baik maksudnya itu James mau beli rumah baru di Italia. Kemarin waktu kami ke Italia, sepupunya nawarin rumahnya yang mau di jual. Akhirnya Clarissa meminta James beli deh. Tapi dia masih bingung karena kemarin sempat mau beli kebun strawberry juga di Selandia Baru,” kilah Hans.
Mark dan Matthew menatap Hans penuh curiga sedangkan James kembali berbalik badan untuk benar-benar meninggalkan ruangan itu. Kalau berada disana terus bisa-bisa terbuka rahasianya.
“Ah Hans selalu saja. Syukur dia belum tahu aku dan Tiara sudah menikah,” batin James.
“Yaudah kalau nggak percaya. Aku ngomong kenyataannya,” ucap Hans sambil berlalu keluar ruangan juga.
Sesampainya di rumah, James menelpon Tiara. Duhduhduh. Terus Bella nggak dikabarin gitu ya sekarang?
Sambungan ketiga baru Tiara menjawab dengan suara khas orang bangun tidur. Maklum, di London masih jam 8 tapi di Jakarta sudah jam 3 subuh.
📲“Ya James,” jawab Tiara dari seberang yang matanya masih terpejam karena mengantuk.
📱“Sorry baru bisa menghubungimu sekarang. Aku baru pulang dari studio,” ucap James lembut.
Tiara yang masih setengah tersadar menjawab dengan senyum saja. Tidak mengerti harus mengucapkan apa karena dia benar-benar ngantuk.
📲 “Iya James. Sudah dulu ya,” sahutnya yang kesadarannya sudah diambang batas.
📱 “Terima kasih sudah perhatian dengan aku tadi siang,”
__ADS_1
Tiara samar-samar mendengar ucapan James dan memilih benar-benar meninggalkan dunia nyata untuk beralih ke dunia mimpi. Sedangkan James yang paham istrinya tertidur langsung mematikan telpon sambl geleng-geleng kepala.
James kini sudah mulai mau menerima Tiara. Perhatian kecil yang kerap Tiara berikan dalam sehari yang bisa mencapai 5 kali selama sebulan lebih pernikahan mereka nyatanya mampu memasuki relung ‘tidak mudah percaya orang baru’ di hati James.
Tiara selalu memintanya untuk tetap sehat, menjaga pola makan, menyemangati James yang sedang sibuk mempersiapkan album baru. Sedikit banyak Tiara mengenalkan pada James tentang Indonesia, beberapa tempat bersejarah wisata yang dia sambangi atau makanan khas Indonesia selalu dia kirimkan pada James melalui pesan gambar.
Sepenuh hati Tiara memperlakukan James layaknya suami kesayangannya sampai rela menolak Ditto dan Refal yang bisa menjanjikan kehidupan dan memenuhi nafkah batin Tiara. Apa James ada membalas satupun pesan Tiara? Tentu tidak.
Apa dia merasa terganggu? Jawabannya masih sama, sama sekali tidak, bahkan terkesan menikmati. Kerasnya hati James di awal pernikahan kini sedikit memudar sampai mereka bertemu kembali di Italia. Tetapi, karena Hans mengungkit kembali kenangan pahit James saat double date mereka di malam sebelum Tiara berangkat, ia kembali emosi.
Untung sang istri orangnya baik dan bisa berpikir rasional. Jadi tidak memecah keheningan dinginnya langit yang mereka nikmati dari rooftop lantai 20 hotel berbintang yang mereka tempati malam itu. Mendengar James yang gundah karena perasaannya terhadap Bella, Tiara sedikit luluh dan kini kembali berpaling pada suaminya setelah hampir seminggu bersikap acuh.
Lalu mengapa dengan Bella si James tidak merasa jatuh cinta lagi. Padahal sepanjang sejarah mereka kenal sejak James menjadi artis papan atas, James sering memanjakan Bella layaknya ‘wanitanya’.
Kalian pernah merasakan penasaran yang teramat sangat ‘kan? Sekalinya mendapatkannya ternyata hasilnya tidak sesuai ekspetasi.
Contoh paling ringan, kalian melihat endorse makanan hits dan ternama yang disajikan menggiurkan selera dan kalian pesan karena berharap makanan itu sesuai iklannya. Tapi saat datang dan kalian sudah rasa malah berpikir ‘lebih enak di warung satunya’ atau ‘lebih enak masakan mama aku’ atau ‘kok nggak sesuai sama perkataan temanku ya’.
Nah ibarat contoh diataslah hubungan Bella dan James sekarang. Bertahun-tahun dia menunggu untuk menjadi kekasih Bella dan mencoba segala cara untuk memikat hatinya. Nyatanya tidak sekalipun Bella terkesima, hingga akhirnya Bella sendiri yang datang pada dia dan menawarkan diri menjadi pacarnya. Tentu James senang.
Kini pagi menjelang. Dan Tiara sudah berada di kantor untuk memulai aktivitasnya. Sekarang dia masih membatasi diri untuk menghubungi James terlalu sering sehingga pagi ini no morning honey bertaut di notifikasi ponsel James. Wkwk
Usai makan siang Tiara di telpon bapaknya yang mengabari bapaknya berada di lobby kantornya. Kebetulan Tiara masih berada di kantin yang satu lantai dengan lobby segera keluar menemui bapaknya dan langsung memeluk mencurahkan rindunya pada sang bapak yang merawatnya dari kecil.
“Kok dadakan pak?” tanyanya kaget.
“Nggak seneng kamu bapak kesini buat ketemu sama kamu?”
“Nggak gitu juga kali, pak.. aku baru bisa keluar dua jam lagi. Bapak mau aku pesanin ojek online nggak buat istirahat dirumah? Atau mau ke mall di samping kantor, ntar balik kerja aku nyusul,” tawar Tiara.
“Ke mall aja kali ya,”
Tiara segera memesankan ojek online untuk mengantarkan bapaknya pergi ke mall tersebut dan berjanji segera menyusul.
.
__ADS_1
.
.
“Nak, ada yang bapak mau sampaikan sama kamu,” kini Tiara dan bapaknya sudah berada di salah satu restoran yang berada di dalam mall tersebut.
“Ya pak, ada apa? Kok serius banget?”
“Ini soal Ditto,”
DEG
“Oh temen aku itu.. kenapa dia, pak?” Tiara berusaha santai.
“Mari akhiri hubunganmu dengan James, nak,” terlihat ini sebuah permohonan, raut wajah bapak Tiara juga menampakkan kesedihan mendalam.
Pipi Tiara kini sudah tergenang air, air mata bukan air hujan apalagi air sungai.
“Pak,” lirihnya memanggil pria kesayangannya.
“Nak, berpikirlah dengan baik. Pernikahan apa yang kamu jalani dengan James sekarang. Bapak Cuma mau bilang nggak baik kita menolak pinangan orang baik dengan alasan yang tidak menentu seperti ini. Apalagi ini sudah dua orang. Kamu sadar ‘kan kesalahan kita sudah membohongi orang banyak,” kata-kata bapak Tiara melesat bagai anak panah yang tepat sasaran.
“Bapak tidak melarang kamu bertahan dengan James kalau kamu bisa menjalani hubungan suami-istri sungguh-sungguh dengan dia. Tapi apa yang bapak lihat sekarang, ini akan sangat menyiksa, jangankan kamu, bapak dan ibu juga tersiksa melihat kamu sekarang,” kini bapak Tiara sudah ikutan menangis.
“Kenapa bapak bisa tahu dengan Ditto?” selidik Tiara. Karena yang dia tahu Ditto temannya di Jakarta sedangkan bapak Tiara di suatu kota kecil yang berada di pulau Indonesia bagian tengah.
“Saat kamu di Italia, Ditto datang dengan orangtuanya untuk melamar kamu..”
.
.
BERSAMBUNG….
Aahhhh lega bisa update lagiii…..
__ADS_1