Terpaksa Menikah Dengan Artis

Terpaksa Menikah Dengan Artis
Jasmine


__ADS_3

James ngerem mendadak dan membuat semua penumpang dalam mobil terhuyung ke depan.


"Wassaaap bro?" tanya Yura.


"Tiara sudah diruang bersalin,"


"WHAAATTT?" teriak Ben dan Yura bersamaan. Karena bapak ibu Tiara tidak paham bahasa Inggris..


*Flashback on


Satu jam setelah mobil James melaju ke bandara Wellington untuk menjemput bapak-ibu serta Yura, Tiara yang sedang rebahan di homestay bersama Clarissa dan seorang pekerja kebunnya ibu-ibu yang sengaja dibawa James untuk menemani mereka selama di homestay nanti, sedang asyik bermain ponsel. Baca-baca persiapan untuk proses persalinan secara normal.


Maklum, baru dapat sinyal yang banyak. Selama tinggal di desa, Tiara hanya belajar dari buku-buku bersalin yang dibelinya ketika dia sedang belanja bersama James setiap 2 minggu sekali.


Tiba-tiba ada rasa lembab di area intimmnya secara tiba-tiba yang membuat dia segera bangun dan berjalan secara perlahan ke kamar mandi. Sudah mulai merasakan mules di sekitar perutnya.


“Baby kamu kenapa?” Clarissa bertanya ketika melihat Tiara berjalan menuju ke kamar mandi dengan wajah yang cukup mencemaskan.


“Gak tau mom, ini kayaknya ada yang keluar dari V aku, masih mau cek,”


“Kamu gak merasa sakit?


“Agak mules mom,” jawabnya.


Dengan sangat memaksa Clarissa ikut ke kamar mandi dan melihat cairan yang dimaksud Tiara keluar dari V-nya.


“Astagaaaa..” pekik Clarissa langsung keluar setelah melihat flek becampur air yang agak banyak di CD sang menantu. Dia memanggil Diana, sang pekerja atau disingkatnya menjadi Din. Bukan tanpa sebab, karena air ketuban menantu sudah pecah.


“Panggilkan taksi segera,” suruhnya lalu kembali ke kamar mandi untuk menemui Tiara.


“Cepet baby, kita kerumah sakit. Kamu mulai pembukaan itu. Diana sudah memesan taksi buat kita,” waah panik dongg si mommy heboh.

__ADS_1


“Dianaaa ambilkan tas perlengkapan baby dan Tiara dikamar. Tas warna ungu dan biru dekat ranjang,” suruh Clarissa lagi sambil teriak-teriak.


“Jangan panik, Mom,” kata Tiara sambil tersenyum tapi wajahnya sudah pucat.


Ketika sampai di RS, Tiara segera dibaringkan di brankar UGD. Dokter jaga memanggil bidan untuk mengecek persiapan sebelum pindah ke ruang bersalin. Nanti dokter obgyn akan datang jika persiapan sudah mencapai 80 persen.


“Permisi, missis,” lembut sang bidan sambil memasukkan jarinya untuk mecari tahu pembukaan sang baby fruity.


“Tarik nafas ya, agak nyeri sedikit,” katanya lagi.


“Wah, ini sudah pembukaan 6, kita pindah ke ruang tunggu untuk bersalin ya,” saran bidannya.


Saking paniknya, Clarissa lupa menelpon sang anak untuk memberitahu kabar panas ini. Saat airmuka Tiara sudah menunjukkan dia tidak tahan akan kesakitan yang dia rasakan saat ini, hanya ditemani Clarissa dan Diana, tidak ada tempat untuk dia bermanja-manja terutama kepada James.


“Mom, telponkan James,” pintanya yang membuat Clarissa menepuk dahinya akibat kelalaiannya sendiri.


“Maafkan mommy baby,” katanya sambil menekan kontak James.


*Flash back off


Ben meminta tukaran membawa mobil agar tidak berbahaya James nyetir sambil telponan.


📱 "Honey bertahanlah," James berusaha membuat istrinya tenang. Wajah Tiara seperti tidak aliran darah saking pucatnya. Belum lagi perjalanan masih cukup jauh.


Beruntung Ben diusianya yang tak lagi muda masih cekatan dalam mengemudi mobil. Kecepatan 100 km/jam yang dipilih Ben untuk bisa segera sampai ke RS.


Bidan yang menangani Tiara mengira 15 menit lagi Tiara akan lahiran nyatanya perkiraannya meleset karena pembukaan masih diangka 7.. tampaknya baby fruity emang mau ketemu papi dan ibunya saat lahiran. Tau aja pilih-pilih.


Yang seharusnya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke RS, namun bisa disisihkan Ben menjadi 40 menit.


BRAKKKK !!!

__ADS_1


James membuka kasar pintu bersalin sang istri..


"Honey," teriaknya langsung lari dan menciumi seluruh wajah Tiara.


"How can?" bingungnya pasal Tiara diprediksi lahiran 5 hari sampai seminggu lagi.


"Tiara," ibu Tiara menyusul dibelakang James menuju brankar anaknya.


"Ibuuuu," airmatanya bertumpahan ketika dipeluk ibunya.. "maafin aku,hu..hu..huu..." tangisnya sendu memikirkan dosanya selama ini sama ibunya.


"Sudah sayang.. sudah.. ayok siapin lahiran kamu. Ibu sudah maafkan kamu.. fokus yaa," jawab ibu Tiara. Walaupun tubuhnya dalam kondisi lelah setelah perjalanan udara yang panjang tapi ibu Tiara harus tetap kuat demi melihat cucu pertamanya.


"Sakit buu," rintihnya sambil menangis. Sudah 2 jam lebih dia merasakan sakit, awal-awal ketika bersama mertuanya dia lebih menahan. Ada rasa segan, lagipun sakitnya tidak sebanding dengan sekarang yang rasanya seluruh urat tubuh hampir putus.


Satu jam kemudian, bidan kembali datang untuk mengecek dan TARAAAAA ubun-ubun sang bayi sudah nyaris terlihat.


Dokter obgyn pun langsung datang sembar menyiapkan segala alat kesehatan berupa beberapa macam gunting (salon kali), pinset, obat merah, alkohol danlainlain.


Dua kali mengeden dengan penuh perjuangan antara hidup dan mati.. Baby fruity berjenis kelamin perempuan pun lahir ke dunia..


Masih dengan selaputnya, langsung ditengkurapkan ke dada Tiara untuk ia mencari sumber makanannya sendiri. Beruntungnya Tiara tidak memiliki robekan di missV..


Baby sehat yang 80 persen kulit dan wajahnya sepeti James. Bola matanya pun berwarna biru seperti sang papi, yang diambil dari Tiara hanya warna rambut. Tok ! gak ada tawaran lain!


Kini semua sudah berada di ruang rawat VVIP yang sederhana. Maklum disana adalah kota kecil saja, jado tidak ada RS mewah seperti di ibukota negara besar. Yang pasti semua lengkap lah.


"Siapa namanya?" tanya Ben..


"Jasmine," kata James. Sengaja mengawali dengan huruf J sesuai namanya.


"Jasmine Nadeera Homkins," celetuk Tiara yang sedang duduk sambil mengASI baby Jasmine.

__ADS_1


"Wah nama yang indah," sahut semuanya serempak...


BERSAMBUNG ....


__ADS_2