
Usai menenangkan Erina, Tiara mengajak sahabatnya pergi ke kamar Hans. Namun Erina menolak dan berniat ikut ke rumah Ben sekaligus melepas rindu dengan Tiara.
"Semingguan aku disini belum ada Q time sama situ loohh," kata Erina.
"Eehiya,, elu sih sibuk banget juga perhatian sama Hans. Anyway, dia gak pernah telponan gitu sama cewek lain? Info beredar katanya mantannya yang penyanyi 3 besar dunia itu masih ngejar-ngejar dia.. kepo sih aku, dari dulu mau nanya sama James.. Tau sendiri elu privasi orang lain mana mereka peduli," panjang lebar Tiara.
"Kalau telponan sih nggak. Beberapa kali ada chat, gue juga penasaran, cuma mau nanya juga nggak mungkinlah, siapa guee... hahaha.. gue ada hot news juga ni buat elu.."
Tiara menaikkan alisnya sebelah..
"Paan ? awas macam macam elu," sewotnya..
"Bangkok elu emosian terus. bumil bumil... eh elu ngidam nggak?"
"Jangan melewati rundown acara. buru woy hot news apaan?" Tiara mulai nggak sabar.
"Ada yang mau sama gue loh. Temennya temen gue kerja, terus kami pernah ketemu sekali, dia bilang sama temen kerja gue kalo dia mau kenal lebih dekat..,"
"Bagus dong.. yang penting semuanya seirama sama elu, terima aja... nikah juga nggak sekejam cerita-cerita orang kok,"
"Yaa elu dapatnya James,"
Hmm... Erina tidak dibertahu Tiara gimana kehidupannya dengan James awal-awal nikah. Time flies so fast....
"Gak amnesia kan elu? Ingat gue dulu di kos elu nangis sampe bengkak mata gara-gara kena bohong sama sepupu elu yang mau dijodohin sama elu dari SMP... Asli bodohh banget elu dulu secinta itu sama dia, taunya pas kita kuliah dia nikah.... penasaran gue reaksi James kalau tau soal ini," Erina mengingatkan masa memalukan Tiara dulu sambil tertawa ngakak.
"Diem nggak elu.. kalau sampai James tau, gak ada orang lain yang bakal gue tuduh..." ancam Tiara.
"Iya iyaa, kejam banget si bumil. Yuk ke rumah mommy Clarissa," ajak Erina.
Berasa Erina pemilik rumah disana... wkwk
"Elu dandan gini mau kemana emang?"
"Cari makan di sekitar hotel," sahut Erina yang dibalas OOO saja oleh Tiara.
Tiara menghubungi James dan meminta di jemput di kamar Erina. Gak mau dia turun sendiri ke lobi... Takut moodnya berantakan di usia hamil muda..
__ADS_1
***
Hingga malam hari Erina tidak juga kunjung kembali ke hotel. Dia asyik ngobrol dan minta di creambath sama Tiara, kebiasaan mereka dulu di kos.. Mereka berada di kamar tamu rumah Ben yang lumayan besar itu.
Saat menjelang makan malam, Hans juga datang ke rumah Ben diantar pengawal. Dia merindukan Erina seharian ini tidak bertemu. Hmm. Entahlah, mungkin Erina lagi mengumpulkan keberanian untuk mengajak Hans berbicara empat mata..
"Hans kemari-lah. Makan sama-sama dulu," ajak Ben dan segera Hans berjalan ke meja makan dan meletakkan bookongnya di kursi samping Erina.
Setelah makan, Erina mengajak Hans untuk ke taman belakang rumah untuk berbicara yang cukup serius. Hatinya sudah tetap. Berpisah bukanlah jalan yang buruk, apalagi dengan kata-kata indah dari Tiara siang tadi, jika berpisah hanya hati Erina yang sakit sedang anggota tubuh lainnya tetap sehat, artinya cuma butuh waktu untuk menyembuhkannya apalagi kalau sakit itu diterima dengan dada yang lapang..
"Kenapa rin? kenapa wajahmu serius sekali?" tanya Hans karena sudah 10 menit Erina tak kunjung bicara.
Erina sengaja memilih rumah Ben karena kalau setelah berbicara dengan Hans dan akhirnya dia terluka dan bersedih maka ada Tiara yang siap menghiburnya.
"Hans, menurutmu apa itu cinta?"
"Cinta adalah kelengkapan dari kekosongan jiwa, bagi apa yang pergi sampai ia kembali, apa yang sakit sampai ia sembuh dan bagi apa yang ia butuhkan sampai bisa memenuhinya," jawab Hans, ambigu sih, tapi Erina mengerti.
Yang dimaksud Hans, cinta hadir untuk melengkapi, menyempurnakan dan mengisi kekosongan jiwa. Seandainya cinta itu pergi, maka suatu saat dia akan kembali meski dengan cara berbeda, misal karena cinta seseorang jadi sakit, maka ada kalanya rasa sakit akan sembuh dan ketika kita membutuhkan cinta tapi belum bisa raih, suatu saat cinta datang untuk memenuhi kebutuhan itu.
Not always about pasangan, boleh keluarga, orang tua ataupun teman...
Tidak ada pilihan lain. Hans lelaki tesempurna yang mengisi hidupnya selama ini. Jauh lebih sempurna dibanding mantan-mantannya yang lain. Covernya playboy tapi percayalah, Hans paling mengerti isi hati Erina sekalipun hanya melihat raut wajah atau matanya saja.
Hans menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar. Memang ia pun sadar betul tidak bisa bersatu dengan Erina, selama ini dia selalu mencoba merayu tapi Erina dengan pengalaman masa lalu yang tidak bermutu makin mendewasakan dirinya untuk menilai mana yang baik dan buruk..
"Aku tahu.. ini akan sulit Rin.. tapi aku percaya kau orang yang kuat," lirih Hans...
"Memang seharusnya kita tidak pernah memulainya agar kau tidak tersakiti.. tapi, nggak masalah.. percayalah aku tidak pernah menyesal mencintaimu dan akan ku biarkan rasa ini sampai dia menemukan kesembuhannya sendiri," ucap Hans dan menarik Erina dalam dekapannya.
Erina tidak menangis, mungkin dia masih mencerna perasaannya sekarang. Mau nangis, tapi hatinya lega, tidak nangis, tapi untuk apa buang-buang air mata.
"Ayok ke hotel. Besok kau akan berangkat pakai penerbangan pagi 'kan.. Kasihan Tiara kita disini sampai malam, dia mau istirahat," ajak Hans sambil menuju ke ruang tamu untuk kembali ke hotel.
Tiara yang melihat ketegaran Erina merasa bangga, karena dirinya yang dari dulu selalu memberikan nasihat jika Erina sedang terpuruk karena hanya kepada dirinya saja satu-satunya manusia tempat Erina mengadu kesusahannya. Dia menyaksikan semuanya dari balkon kamarnya dengan James.
"Mereka akan bahagia dengan caranya masing-masing. Kita hanya mendoakan mereka," ujar James sambil memeluk istrinya dari belakang...
__ADS_1
...
Keesokkan paginya...
"Mom, bolehkah Tiara ikut menemaniku konser di Amerika?" James membuka percakapan di meja makan..
Clarissa menampakkan wajah tidak suka.
"Ya dewa amorrr, plis jangan dramain mereka berdua," batinnya mengingat hormon hamil Tiara yang bisa membuatnya seketika down.
"Emang kalau mommy melarang, Tiara mau dengerin? Kenny bolehin nggak? Mommy ikut Kenny aja kalau dia bolehin ya mommy izinkan," katanya dengan nada suara berat.
"Boleh mom, tapi nyusul nanti, kalau kehamilan masuk trisemester 2," jawab Tiara sambil senyum...
"Apa mommy resign dari kantor aja ya, buat temenin Tiara?" mommy meminta pendapat pada Ben dan James.
"Apa bedanya honey.. Tinggal 4 bulan lagi," saran Ben.
"Huh... tapi kamu di backstage aja ya selama disana, atau di hotel aja?" pinta Clarissa..
"Jangan di backstage, banyak polusi kurang baik untuk janin, crew banyak yang merokok, ada juga yang vape," tolak James..
"Yaudah bicarain nanti yaa. Sekarang makan dulu,"
Di sisi lain pun Erina sudah dalam perjalanan menuju bandara Arlanda, Stockholm. Hans mengantarnya meski tidak sampai ikut turun..
"Kabari aku kalau sudah sampai," ucap Hans.. Erina hanya mengangguk.. Tidak ada lagi rasa sesak dihati mereka berdua.. Sama-sama saling ikhlas...
Sesampainya di hotel, ponsel Erina yang biasa dia pakai untuk komunikasi dengan rekan kerjanya tertinggal di mobil, tapi Hans tidak melihat itu, syukur aja tiket ada di ponsel satunya, ponsel yang dia pakai untuk komunikasi sama keluarganya.
Ketika malam hari kamar Hans diketuk pengawalnya yang memberikan ponsel Erina yang ketinggalan di mobil.
Entah apa yang mendorong Hans membuka ponsel Erina yang tidak terkunci itu dan .....
Pesan pertama yang Hans baca adalah, chat Erina dengan temannya yang mengatakan ada yang mau serius dengannya sejak pertama kali ketemu (yang dia ceritakan dengan Tiara kemarin)..
dengan susah payah Hans men-translate percakapan Erina dan temannya yang seketika membuat hatinya terasa nyeri...
__ADS_1
"Sabar sabarrr... memang ini pilihan bersama untuk mengakhiri semuanya. tapi kenapa sesakit ini? kenapa begitu berat ujian perasaan ini untukku Tuhan..." batin Hans sambil merebahkan dirinya ke ranjang...
BERSAMBUNG .....