Terpaksa Menikah Dengan Artis

Terpaksa Menikah Dengan Artis
Salmon


__ADS_3

Semua orang masih menangis terharu mendengar kabar kehamilan Tiara namun detik itu juga Tom sadar akan sesuatu.


"Gimana dengan luka di dahinya uncle? Tadi darahnya bercucuran.." tanyanya.


"Oh itu, aku sudah mengobatinya, ada luka robek sekitar 2 cm. sepertinya dia terkena ujung besi yang tajam. Ditambah kondisinya sangat lemas? Apa dia selama hamil makan tidak teratur, boy?" tanya Ryan sambil mengalihkan pandangannya ke James.


"Bukannya tidak teratur, tapi dia tidak mau makan bahan-bahan hewani. Selama tour sesekali makan salmon, itu pun baru sekali atau dua kali. Biasanya dia cuma konsumsi buah, baik dimakan langsung atau di buat jus, es krim sama cake yang manis." Ryan mendengarkan dengan baik kata demi kata dari mulut keponakannya.


"Yang uncle tau ibu hamil tidak boleh makan manis berlebihan. Besok kau tanyakan pada kakakmu Kenny, dia yang lebih paham. Uncle hanya dokter tanpa spesialis, hehe," jelasnya sambil bercanda lalu pamit untuk kembali.


Clarissa, Ben, Denada sedikit mengalami lecet-lecet di bagian siku dan lengannya. Bisa untuk diobati sendiri dengan antiseptik dan hansaplast. Karena mereka sempat merunduk ketika ledakan pertama.


Semua kembali ke kamar masing-masing dan James kini sudah membersihkan diri hendak tidur disamping Tiara.


Ponselnya berbunyi bersamaan dengan bel rumahnya. James hendak keluar namun dia sudah mendengar pintu terbuka artinya Ben atau Tom yang menerima tamu tersebut, akhirnya James memilih membuka ponselnya.


"OMAYGAD" teriaknya ketika membaca pesan.


📩 "Bawa seluruh keluargamu mengungsi ke tempat lain. Sindikat yang membawa bom berawal dari rumahmu, mereka mengetahui alamat orangtuamu,"


Pesan dari penyelenggara acara yang sedang berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan.


Segera ia keluar kamar dan melihat Ben sedang menerima 3 orang berpakaian polisi lengkap.


"Ben," panggilnya.


"Apa kau sudah tau?" tanya Ben yang juga terlihat gugup.


James menganggukkan kepala.


Ternyata didepan rumah Clarissa sudah ada satu kompi polisi dengan senjata lengkap dan dua ekor anjing pelacak bom. Takut di area rumah masih ada bom yang disembunyikan.


Ben membangunkan Clarissa begitu juga dengan Tom yang bergegas memberitahu Denada. Sedangkan James memilih tidak membangunkan Tiara.


Mereka pindah ke rumah Ben yang masih berada di sekitar kota namun disembunyikan dari publik. Mereka pun diantar menggunakan mobil seorang intel dan disupiri langsung oleh intel.


Sedangkan Tom dan Denada memilih naik taksi saja karena mereka tidak terlalu mencurigakan bagi para pelaku.


"Berarti incarannya James ya?" tanya Ben pada intel yang mengantar mereka. Sengaja intel yang mempunyai beberapa keahlian seperti bela diri, penggunaan senjata tajam dan kemahiran menyetir untuk menjaga James dan orang tuanya dari kejaran para pelaku.


"Tidak juga. Besar dugaan ini mengarah ke rasa iri dengan band James," duga si intel.


"Tapi kenapa bomnya di dekat tribun VVIP, tidak di dekat panggung? Dari kalian berempat cuma Hans yang terluka ya?" sambung Ben yang masih penasaran.


"Masih dalam proses penyelidikan. Bersabarlah," sahut pak intel. Ampun bang jago.


...

__ADS_1


Waktu baru menunjukkan pukul 4 subuh tapi kesadaran Tiara mulai kembali. Dia merasakan cenat cenut di area kepalanya, entahlah apa itu namun yang pasti dia ingin sekali menangis dan mengeluh tapi terlalu lemas.


"James," panggil Tiara karena tau James tidur disebelahnya.


James samar-samar mendengar panggilan Tiara padahal dia baru tertidur 2 jam, harus bangun lagi.


"James, sakit," rintihnya.


James mulai sadar sepenuhnya langsung terduduk mendengar suara rintihan Tiara.


"YaTuhan honey.. kamu sakit? dimana, perut atau kepala kamu?" khawatir James dan sedikit panik.


"Kepalaku James," keluhnya.


James menarik nafas, mengerti kondisi Tiara.


"Honey, kamu tadi terkena besi sampai pingsan, dahimu sedikit robek dan sudah diobati uncle Ryan. Sakitmu itu karena reaksi obatmu sudah habis waktunya. Kalau kamu mau makan obat lagi, kamu harus isi perut kamu dulu..." James mencoba memberi Tiara pengertian. James tahu betul kalau tiba-tiba Tiara disuruh makan, dia akan menolak.


Seketika otak Tiara menimbulkan gambaran-gambaran aneh untuk ukuran orang Eropa. Terang bulan dan tahu campur menjadi pilihannya.


"Dimana harus dicari di Swedia sini by," ucap James frustasi.


"Kalau gitu buatkan aku roti dikasih coklat parut dan pisang diiris-iris.. sama buatkan aku oat pakai raspberry dan blueberry," perintah Tiara yang membuat James menggaruk kepalanya seakan-akan menyanggupi permintaan Tiara.


15 menit, semua yang Tiara mau sudah tersaji. James sendiri yang membuat, toh gak susah juga kan, gak harus memakai kompor.


Tiara makan sambil tersenyum bahagia dirinya semangat untuk makan karena memang perutnya sangatlah kosong, untung aja semua bahan yang dia mau ada di dapur Clarissa. Huft.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanyanya di sela-sela makan mengingat kejadian bom beberapa jam lalu.


"Gak apa-apa. Hans sepertinya agak parah. Aku sempat lihat tangannya berdarah tadi." jelas James.


Tiara hanya mengangguk, yang penting James aman saja.


"Kamu gak menyadri sesuatu?" James membuka pembicaraan soal kehamilan Tiara.


"Maksudnya?" balas Tiara sambil memberikan James botol berisi air mineral yang diminumnya usai menelan 2 pil obat pereda nyeri.


"Kapan kamu terakhir datang bulan?"


"Lupa," jawabnya cuek.


Duh duh... Nih orang ngapa yaakkk...


Tiara kurang peduli soal itu. Dia yakin dia akan hamil. Soon.


mau cepat atau lambat, fokusnya hanya mau jadi jstri berbakti dulu. Kalaupun hamil pan dia sudah nikah. Masalahnya dimana???

__ADS_1


"Kamu hamil by... besok kita cek ke sepupuku yang spesialis obgyn ya,"


ckckck.. dua pasangan ini gak ada romantis-romantisnya menerima calon anak mereka.


"Syukurlah... Diolah tiap saat gimana gak berhasil. Gak sia-sia dong usaha bulan ini. Anak ibu kuat yaa, semalam jagain ibunya," balasnya sambil mengusap perutnya lalu beralih memeluk James.


James kembali memeluk Tiara dan mengajaknya tidur kembali.


"Ibu??" heran James.


"Indonesia sayang, artinya mommy. Aku nanti tetap menyisipkan ke indo indo-an untuk anakku. Enak aja kamu mau ambil semuanya, mulai dari bahasa, norma, perilaku, beberapa tetap harus pakai budayaku ya," sewot Tiara.


"Hahahaha. Sabar by... lahir aja dulu," goda James.


Dimeja makan saat sarapan, semua hanya membahas hal hal ringan saja tanpa membahas bom dan kehamilan karena yang mereka tahu Tiara belum diberitahu James soal kehamilan itu.


"Setelah ini kami ke Kenny ya mom, karena jam 11 mau jemput orang di bandara," pamit James.


"Kalian harus diantar polisi untuk keselamatanmu. Supir dan polisi sudah standby di depan. Itu permintaan kepala polisi langsung," sahut Ben.


James nggak bisa menolak.


***


"Waah lucu banget calon niece aunty.. sehat terus yaa," ucap Kenny sambil memperhatikan layar komputer USG Tiara.


"Udah berapa minggu Ken?" James berantusias.


"8 minggu. Kalian nggak sadar yaa? bisanya... Bagus deh nih anaknya gak cerewet yaa, pinter banget nggak gangguin mommy ini ituu.. emang niece aunty terbaik," lanjut Ken masih mengajak calon keponakannya ngobrol.


James mengecup kening Tiara lalu mengingatkan untuk segera menelpon bapak/ibu untuk memberitakan kabar baik ini..


"Jaga makanmu Tir. Usahakan makan yang bergizi, buah boleh tapi hewani tetap jalan yah biar sedikit gak apa-apa. Untuk anakmu juga, apalagi kata James kamu suka salmon yaa... Kalo bisa konsumsi banyak lebih baik lagi untuk DHA anakmu," saran Kenny.


Mereka bicara non formal saja, bukan seperti dokter dan pasien, toh Kenny juga hadir waktu acara resepsi di kampung Tiara.


"Ke bandara pak," pinta James pada supirnya setelah keluar dari klinik Kenny.


***


"Hans, are you oke? Aku mengkhawatirkanmu.. Tolong bangun Hans... aku akan melakukan apapun asal kau mau bangun.." histeris Erina sambil memeluk Hans yang terbaring lemah.


"Termasuk menikah denganku?" sahut Hans dengan senyum jahilnya...


Lah, ternyata udah sadar? wkwk


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2