Terpaksa Menikah Dengan Artis

Terpaksa Menikah Dengan Artis
Bas Naik Jabatan


__ADS_3

Saat bekerja tadi, telpon Tiara tidak berhenti bordering. Tiara tahu siapa pelakunya, yaitu Hans. Lebih lima kali dia mencoba menghubungi Tiara, namun hanya dibalas pesan singkat yang mengatakan dirinya kini sedang sibuk dan akan menghubungi kembali kalau sudah sedikit renggang.


Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, Tiara masih berada di kursi kerjanya dan sedang membereskan barang-barangnya untuk dibawa pulang. Sepanjang perjalanan menuju parkiran mobil, ia mencoba menghubungi Erina. Dia tahu betul pasti yang menjadi pemicu Hans menelponnya karena telah terjadi sesuatu. Makanya dia mau cari tahu dulu melalui Erina.


📱 “Apa lagi nih. Kenapa elu sama Hans. Bikin repot gue aja,” sambat Tiara langsung.


📲 “Tau dari mana elu,” kaget rinrin.


📱 “Seem f*ck elu. Mana gue tahu kalian kenapa. Makanya gue nanya. Napa elu bilang sini. Kasihan anak orang galau disana gara-gara elu sampe nelpon gue berkali-kali. Dia nyakitin elu?” sembarang Tiara menduga-duga.


📲 “Iya iya gue percaya. Hubungan kami makin dekat tir, tapi gue nggak maulah langsung percaya. Siapa gue?” Erina jadi gak PD sekarang padahal biasanya PD-nya diatas normal.


📱 “Bicara yang bener. Masalahnya dimana? Terus mau elu apa sekarang? Nggak mau lagi dia deketin. Bilang bangkokkk jadi gue bisa jelasin ke dia..” Tiara mulai lelah.


📲 “Ingat ingat woy mulut.. Dia nyuruh gue nyusul ke Sydney bulan depan. Sampe mau kirimin uang tiket lagi. Katanya ‘kan deket sini sama Aussie. Tapi ya mana gue mau nanti kesasar. Mana mau diajakin satu hotel bareng mereka pula.” Jelasnya.


“Tuhan, apa lagi sekarang. Kalau aku jadi pergi haruskah aku bertemu bersama hama satu ini lagi. Mamvuz!!” gugup Tiara dalam hati.


📱 “Ooohh jadi elu galau mau kesana apa nggak? Kalau gue jadi elu sih gue pergi-pergi aja. Jadi orang jangan terlalu naif. Heeeyyy yaudah sih kalau dia baik sama elu. Pintaku jangan pakai hati aja intinya sekarang. Elu kesana, nikmati Sydney, udah deh pulang.” Saran Tiara.


📲 “Nggak siap gue,”


📱 “Tapi elu balas dong pesan Hans ke elu. Nolak juga ngak apa-apa. Kasihan loh galau jadi gak konsen rekaman,” ledek tirtir.


📲 “Sialan.. iya iya gue balas,”


.


.


📨 "Dia Cuma butuh waktu. Bisa menerima atau bisa menolak. Jangan dipaksa Hans. Kami dari budaya timur tidak segamblang itu menerima tawaran kebaikan orang yang baru dikenal apalagi pertemanan lawan jenis dan bersangkut paut dengan materi. Dia tidak mau terkesan memanfaatkan popularitas kamu. Maaf ya,” isi pesan Tiara pada Hans sebelum dia melajukan mobilnya untuk kembali pulang kerumah kontrakan.


***

__ADS_1


Semalam Bas tidur dengan sangat nyenyak. Meski ada beban yang dia pikirkan tentang James sekarang namun tidak mengurangi kenikmatan deluxe room yang sedang ditempatinya sejak awal berada di benua Amerika itu. Pagi ini dia belum memikirkan cara untuk menindaklanjuti hasil usahanya dua hari lalu selain menunggu kabar dari penguntit bayaran.


Para penguntit yang memang bekerja secara professional hingga bisa diacungi jempol pun kembali memasuki area rumah Darren dan Bella untuk mengikuti aktivitas mereka hari ini.


📲 “Bella sepertinya ke kantor Bas. Kami sedang mengikutinya dan tujuan perjalannya tidak berada jauh dari kantor. Kami akan cari cara untuk bisa masuk kesana,” ucap salah satu penguntit setelah teleponnya dijawab oleh Bas.


📱 “Baiklah aku juga akan segera kesana,” jawab Bas dan segera bergegas ke kamar mandi.


Dalam taksi selama perjalanan, Bas menghubungi Monica dan mengatakan ingin bertemu sekarang untuk menawarkan sesuatu pekerjaan. Harus sekarang karena siang nanti Bas masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya menjelang kepulangannya kembali ke London.


Monica menyetujui hal itu dan mereka sudah berada di ruangan Monica lagi.


“Mon, aku mungkin akan di promosikan sebagai manajer dari James. Sehingga kami akan membutuhkan asisten lagi satu orang. Bergabunglah bersama kami Mon,” jelas James yang sudah mempertimbangkan hal ini. Track record Monica dalam menangani artis tidak tanggung-tanggung hingga begitu Bas diminta untuk mencari penggantinya, maka Monica-lah yang ada di pikirannya.


Monica tampang merenung memirkirkan tawaran Bas. Dan Bas paham kemana arah isi otak teman didepannya itu.


“Tinggi ditempatku sedikit Mon. Sekitar 5-10 persen ada-laahh,” beber Bas yang menyinggung soal gaji.


Yap. Bas sudah tau penghasilan rata-rata asisten artis besar dari agensi besar juga. Sehingga dia dengan mudah menebak yang menjadi pertimbangan Monica.


“Kalau pembicaraan awalnya sih setelah album band James keluar 4 bulan lagi. Tapi mungkin sebulanan ini kau sudah bisa kesana untuk adaptasi,” jelas Bas.


Setelah kesepakatan Monica setuju. Bas mendapatkan kabar dari penguntit kalau mereka berada di lantai 16, tepatnya 10 lantai dari ruangan yang diduduki Bas sekarang. Akhirnya Bas pamit pergi dari hadapan Monica untuk segera menyusul para penguntit setelah melihat SMS mereka.


Langkah demi langkah, tarikan demi tarikan katrol lift membuat debaran area dada Bas semakin tidak karuan. Fakta apa yang akan diterimanya kini. Apakah ia siap? Apakah James siap? Bahkan apakah nanti Arnold dan Evans bisa menerima hasil yang sudah dikerjakannya sekarang.


Bas aja gugup, palagi author… wkwk


Bas melihat salah satu penguntit yang menyamar menjadi cleaning service di toilet laki-laki lantai 16 memegang mop dan satu ponsel di tangannya. Segera ia menyodorkan tangannya untuk meminta ponsel tersebut dan si penguntit mencabut airpods yang ia pakai untuk diberikan kepada Bas.


“Selamat Bas. Pekerjaan kita tidak sia-sia,” hanya itu kata yang diucapkan penguntit pada Bas sebelum memberikan airpodsnya.


Bagaimana tidak, mereka sekarang sedang menerbangkan ‘lalat’ ke ruangan yang diduduki Bella dan para manajemen disamping toilet. Makanya masih bisa dikontrol dari sebelah.

__ADS_1


“Jangan putuskan James sampai launching film-mu yaa. Eksistensinya setelah kau berpacaran makin naik. Kau harus bisa terus kontrol dia agar dia sering tampil di public bersamamu,” sebut seseorang yang perkataan dan rupa-nya sudah terekam dari ponsel yang ada di tangan Bas.


“Aku punya satu kendala,” ucap Bella.


“Dia belum bisa menjanjikan akan hadir di launching filmku. Bukankah itu tujuan kita? Menggunakan dia sebagai pengisi soundtrack agar bayarannya murah karena dia temanku dan menerobos industry perfilm-an sekaligus musik. Ceweknya main film dan pacarnya yang mengisi soundtracknya??” gamblang Bella.


“Akan aku atur dengan agensinya agar mengosongkan waktu di tanggal acara kita,” ucap seseorang lagi yang ada disana.


“Bel, tapi kau sekarang berhati-hatilah. Jangan terlalu sering berduaan dengan Darren. Bahaya papparazi sekarang apalagi menjelang film kita rilis. Jaga-jaga dulu, toh bukannya kami menyuruhmu untuk berpisah ‘kan,” pinta manajer agensi Bella.


“Soal itu jangan dipermasalahkan. Aku memang sering bersama dia. Tapi ditempat yang hanya kami berdua yang tahu,” sombong Bella.


Bas seketika lemas mendengar keterangan mereka secara nyata. Dia tidak tega orang serapuh James akan menerima berita ini.


Dia 1000 persen paham permainan apa yang kini dilakukan oleh timnya Bella. Mereka benar-benar keterlaluan. Kalau Cuma untuk mendapat soundtrack film free cukup katakan pada James, dia akan memberikannya kok. Jangan salah, stok lagu James sangatlah banyak dan fokusnya bukanlah kekayaan. Cukup berkarir dan banyak orang menikmatinya. Enough.


Bas memberikan ponsel yang ia pegang pada penguntit di sampingnya dan meminta ‘lalat’ segera di terbangkan kembali ke toilet mereka berada.


Bahkan ia segera beranjak dan kembali ke hotel sesaat setelah berjanji dengan penguntit untuk langsung menyusulnya saat itu juga. Bas melangkahkan kakinya keluar kantor Pillow Tosca dengan lemas. Ia tidak percaya semua ini terjadi pada orang terdekatnya.


Bukan persoalan bohong dan curang saja. Bahkan hati manusia pun sudah dipermainkan sekarang. Apalagi starring-nya wanita. Duh miris.


“Siap atau tidak siap keadaan James sekarang. Bahkan kalau ini sampai menganggu kenyamanannya selama rekaman. Aku tetap akan memberitahunya,” ucap Bas sambil mengepalkan erat tangannya menghadap jendela kamarnya yang berada di lantai 20.


BERSAMBUNG ……….


tuh yang suka pensaran .... biang masalahnya udah ketahuan kannn..


Reaksi James gimana ya? Author galau kalau pemeran laki-lakinya dibuat lembut dan mudah menangis. tapi gak bisa juga terlalu mikir yang kejam-kejam nan ekstrim….😔


.


.

__ADS_1


Makasih banyak yang udah mengikuti kisah ini…


Selamat sahur, lup u


__ADS_2