
James terduduk akan perkataan yang didengarnya dari mulut Tiara beberapa detik lalu. Seketika ia lemas dan kembali merebahkan dirinya ke ranjang empuk milik hotel. Bayangan kata-katanya diawal pernikahan mereka kembali menari-nari dipikirannya. Sekarang ia menyesal sudah selalu menomor satukan traumanya yang mengakibatkan perginya orang baik dari sisinya.
Apa lagi yang harus dilakukannya sekarang. Memang tampaknya berpisah akan lebih baik untuk keduanya agar sama-sama tidak merasa saling terikat dengan ruang gerak yang terbatas. Setelah mengirim sebuah pesan kepada Bas, ia kembali meninggalkan alam nyata untuk kembali kea lam mimpi.
Sedang Tiara kini sudah berada di kamar kecilnya. Ia langsung berangsur terduduk dengan bersandar dibelakang pintu. Hatinya pilu. Dia sedikit menyesal tidak memberikan kesempatan pada James yang sudah mau terbuka padanya. Padahal bukankan selama ini juga doanya sendiri James mau menerima dirinya sebagai istri?
“Kenapa aku bisa se-emosi tadi? Apa aku minta maaf aja padanya. Tapi kalau aku minta maaf nanti kami berbaikan dan tidak jadi berpisah? Lalu gimana dengan karirnya?” Tiara berkelana sendiri dengan pikirannya yang tak pasti. Pikiran buruk lebih tepatnya, padahal kalaupun memang semua terjadi, bukankah masalah datang dari Tuhan beserta dengan jalan keluarnya. Duh, Tiara kali ini sudah buntu.
***
Pagi kembali hadir, James sudah berada di Bandara Internasional Soetta untuk kembali ke London. Semalam setelah tidur dia mengirimkan pesan pada Bas untuk membeli tiket kembali ke London segera mungkin dan ia matikan ponselnya untuk menghindari ribuan telpon dari segala pihak untuk menanyakan kebenaran dari foto yang baru saja dipostingnya.
“Kasih aku bonus karena kau sudah merepotkan aku dengan urusan pribadimu seperti ini. Dasar, nggak bisa membedakan mana masalah kerjaan dan masalah pribadi,” omel Bas kesal. Bukan tanpa sebab, Bas menjadi buronan dari agensi, media, para fans, teman-teman artis James lain yang terus menghubunginya untuk bertanya perihal pernikahan James.
“Jangan khawatir Bas. 10 persen pendapatan dari album baru aku serahkan padamu,” ucap James datar.
Maklum, dia juga sadar sudah mempekerjakan Bas diluar jam kegiatan keartisannya yang artinya dia harus membayar Bas dari kantong pribadinya. Begitulah beharganya jasa bagi orang-orang yang hidup di Negara maju.
James pergi meninggalkan ibukota Indonesia tanpa memberikan kabar tanpa Tiara. Untuk apalagi. Ia merasa semuanya akan berakhir, melepaskan Tiara dari statusnya dan membiarkan dia hidup bahagia adalah titik puncak dari perjuangannya. Bukan perjuangan secara fisik, tetapi secara hati.
.
Ponsel Tiara tidak berhenti berdering. Sekarang sudah jam 7 pagi. Telpon dari Yura dan pamannya terus masuk ke ponselnya. Padahal ia baru terlelap kurang dari 3 jam usai kelelahan dari segala masalah yang dihadapinya semalam.
“Pasti ada kabar buruk nih,” ucapnya sambil menarik nafas dalam sebelum mengangkat telpon.
📱 “Halo..”
📲 “Kenapa baru jawab,” bentak pamannya.
📱 “Maaf aku baru bangun,” jawabnya pelan.
__ADS_1
📲 “Bapakmu sekarang dirumah sakit. Serangan jantung, ada penyempitan di pembuluh darah. Kau bisa pulang sekarang tidak?” Tanya pamannya was-was.
📱 “Iya, aku cari tiket dulu ya,” sahutnya langsung menutup telpon. Karena kalau tidak begitu yang ada dia langsung dicerca omelan sama pamannya.
Pukul 1 siang Tiara sudah berada di RS yang ada dikampungnya. Dia duduk disamping brankar bapaknya sambil berurai airmata. Karena dia yang paling bisa dihandalkan dalam segala hal dikeluarga kecilnya, ketelitian – kemahiran – kemampuan dalam bekerja – bahkan secara finansial, maka dokter memanggilnya ketika tahu keluarga pasien yang ditunggu-tunggu sudah datang.
“Gimana dok?” tanyanya pada dokter ketika mereka sudah duduk diruangan dokter untuk membicarakan penyakit bapaknya.
“Maaf nona, saya harus menyampaikan ini. Bapak nona harus segera ditangani dengan pemasangan ring di penyempitan yang ada di jantungnya. Ada 3 penyempitan dari hasil pemeriksaan. Kalau tidak segera ditangani maka kami tidak bisa jamin untuk kesehatan bapak anda kedepannya,” jelas dokter itu jujur.
“Terus apa yang harus kami siapkan dok?”
“Pertama, di kampung kita tidak ada pelayanan pemasangan ring sehingga bapak nona harus dibawa ke Jakarta, rumah sakit khusus untuk orang-orang yang sakit jantung. Kedua biayanya juga tidak murah nona.”
“Astaga soal uang. Duh, mana uang belum terkumpul banyak lagi. Mentok-mentok juga jual mobil yang sekarang aku pakai di Jakarta. Perhiasan pun tidak seberapa,” batinnya.
“Berapa dok?” Tiara sudah bisa menebak pasti bilangan ratus. Namun jawaban dokter hampir membuat nafasnya ikut berhenti.
“Tuhan, kuatkan hamba,” ucapnya dalam hati.
“Baik, dok. Saya permisi dulu."
.
Tiara tidak kembali ke kamar bapaknya, melainkan dia sedang pergi ke sebuah kedai kopi untuk minum kopi sekedar melegakan nafas dan berpikir mencari jalan keluar.
“Yang paling praktis dan mudah adalah memakai kartu James,” ucapnya sambil memejamkan matanya.
Dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon James. Tiga kali panggilan, sang suami tidak juga mengangkat.
“Pasti dia sudah kecewa dengan aku,” katanya lirih sambil menangis.
__ADS_1
Tiara memutuskan kembali ke RS dan meyetujui untuk tindakan medis bapaknya yang memakan biaya besar. Sudah seharusnya dia menggunakan uang James saat ini, bukan pula untuk foya-foya. Andai dia memiliki barang beharga yang bisa dijual untuk menutupi biaya RS bapaknya, maka dia akan segera menjual saat ini juga.
“Setelah ini aku akan ke London dan menerima James sebagai suamiku. Bahkan aku akan memberikan haknya atas diriku,” katanya sambil menandatangani surat yang diperlukan untuk keberangkatan bapaknya.
.
James dalam perjalanan menuju kerumahnya dari Bandara Heathrow. Terserah apa keputusan agensi nantinya karena ulah dari James. Yang penting sekarang dia butuh waktu untuk menentramkan hatinya.
James meminjam ponsel Bas untuk menghubungi Mike, pengacara pribadinya untuk mengurus perceraiannya dengan Tiara. Dia sendiri belum mau mengaktifkan ponselnya.
📱 “Apa malam ini bisa selesai suratnya?” Tanya James untuk menyingkat waktu.
📲 “Belum pasti James. Akan aku usahakan,” jawabnya.
📱 “Baiklah. Kirimkan padaku kalau sudah selesai semuanya,” pinta James.
Mobilnya kini sudah memasuki area parkiran rumahnya. Hatinya kembali teruji, didepan pintu utama dia melihat Clarissa sedang ngobrol akrab bersama dengan orang yang menikam Clarissa dulu dan juga dibebaskan oleh Clarissa bersamaan dengan bebasnya Tiara.
Karena Clarissa memaafkan keduanya, maka baik Tiara dan penikam itu bisa bebas tanpa tuntutan. Apalagi dengan menikahnya James dan Tiara bisa membuat Tiara kembali ke tanah air segera mungkin. Kalau tidak ‘kan bisa saja Tiara tertahan di London selama 3 bulan.
James memasuki rumahnya dari pintu samping yang tembus dengan garasi. Bersamaan dengan Clarissa yang baru menutup pintu depan sambil tersenyum bahagia.
“Apa hubungan Mommy dengan pembunuh itu?” ucap James dengan suara yang besar dan penuh dengan amarah….
BERSAMBUNG……….
Yuhu..
Apa tuh hubungannya? Ada yang tahu?
Nih udah update lagi. Like ya. Maaciiw
__ADS_1