Terpaksa Menikah Dengan Artis

Terpaksa Menikah Dengan Artis
Pulang


__ADS_3

Makasih untuk respon di bab sebelumnyaa..


Aku kasih bonus hari ini update lagi 😘....


Selamat menikmatiii (dikira rumah makan)


Tiara sekarang memilih untuk bisa kembali ke Indoesia secepatnya.


Pikirannya kacau, sangat kacau. Dia meminta untuk dipindahkan ke hotel sederhana yang jauh dari keramaian dan kurang akan pengamanan. Sementara supir mengemudi menuju tempat yang dimaksud Tiara, ia sendiri sedang membuka aplikasi pemesanan tiket online dan mencari waktu keberangkatan terdekat dari sekarang.


10 menit berlalu, supir sudah menemukan hotel yang dimau Tiara. Segera ia masuk usai mengucapkan terima kasih. Padahal supir mau mengantarkannya masuk namun Tiara menolak dan ia bergegas dengan membawa koper kecilnya kedalam sana.


Padahal Clarissa sudah mem-booking-kan dia hotel bintang empat ditengah pusat perbelanjaan Sydney selama 3 hari loh. Duh, mending kasih author aja sih hotelnya daripada sia-sia gitu.


Sekarang ia memilih untuk check-in dan mandi sekedar menyegarkan dirinya. Lalu langsung ke bandara lagi. Cukuplah, bandara – hotel hanya butuh waktu tidak lebih dari 40 menit. Apalagi sekarang masih subuh.


.


Dua jam berlalu, James belum mau meninggalkan Jalan Asean karena masih sakit hati. Sakit hati dengan dirinya sendiri yang semurah itu menerima ciuman Bella dan ditangkap basah sama istrinya. Belum ada yang bisa dia lakukan. Memintaa maaf pun enggan karena dia sudah tahu dirinya sangat keji.


Dia segera menghubungi Bas dan meminta nomor dari supir yang mengantar Tiara tadi, karena Bas sudah kembali ke hotel dari tadi.


“Tolong jaga Tiara, sir. Antar dia kemanapun dia mau dan jangan pernah tinggalkan dia sendirian,” suruh James pada supir itu.


“Maaf tapi dia sudah aku antarkan ke hotel lain atas permintaannya. Dan hotel pesanan dari Nyonya Clarissa sedang kosong. Tidak ada yang mengisi.” Jelas supir.


“Di hotel mana dia?” Tanya James kaget.


Usai menerima informasi, segera James melajukan mobilnya ke arah dimaksud. Setelah dia sampai dengan setengah berlari dia menuju ke arah receptionist untuk bertanya kamar istrinya.


“Oh nona Tiara memang ada check in satu jam yang lalu. Namun 20 menit yang lalu dia keluar, sir,” kata petugas hotel kala James menanyakan tamu atas nama Tiara Maheela.


“Pee,,peergii? Naik apa dia?” makin shock aja si James mah.


“Naik taksi,”


“Aku mau lihat CCTV kalian, untuk tahu nomor plat taksi yang dinaikinya..” mohon James.

__ADS_1


“Maaf, sir tapi CCTV tidak ada,” ucap petugas hotel sambil tertunduk.


Maklum, hotel-hotelan. Tiara sengaja memilih hotel tersebut agar bisa menghapus jejaknya saat menuju bandara. Pinter ugaa.


James lemas dan kembali ke mobilnya tanpa semangat.


“Kamu dimana, Tir? Tuhan tolong jaga istriku,” batinnya berdoa untuk keselamatan istrinya di Negara asing.


***


Beda halnya dengan Hans yang kini sudah berada di kamar Erina.


Entah bagaimana Hans bisa melewati terjangan fans di depan hotel, belum lagi pengawal dari manajemen yang tidak membiarkan artisnya keluyuran sembarangan mengingat besok seluruh personil dan crew akan segera kembali ke London.


Hans dan Erina habis makan malam setelah memesan melalui layanan hotel. Maklum, hotel Erina juga gak kalah mewah dengan hotel yang Hans tempati bersama band-nya. Mereka sengaja makan dalam kamar karena SANGAT TIDAK MUNGKIN untuk keluar berdua.


Sama saja cari mati, yaakaan. Kena terjangan amukan masa para fans Hans yang ada. Wkwk


Sekarang mereka sedang di sofa hotel sambil berpelukan. Mesra-mesraan. Erina yang bersandar di bahu Hans dan tangan Hans yang merangkul penuh tubuh Erina.


Bukannya senang, setelah mendapat cium kening dari Hans, Erina langsung melepaskan pelukannya. Dia sadar hubungannya dengan Hans abu-abu. Pacar bukan, calon suami bukan, gebetan juga bukan. Kalau diteruskan seperti ini bisa merugikan si Erina ‘kan.


“Kenapa?” Tanya Hans heran.


“Hans,” Erina bicara pelan sambil menatap sendu Hans.


“Kenapa, rin?”


“Sorry,” Erina langsung menangis dan berlari ke balkon kamar hotelnya. Ia membutuhkan hawa segar dari otaknya yang berpikir macam-macam.


“Rin,” kata Hans menyusul Erina ke balkon. Ia langsung menangkap kedua bahu Erina dan membuat gadis itu langsung berhadapan dengannya.


“Kita tidak bisa begini terus, Hans. Aku mohon,” pinta Erina dengan tangis yang pecah.


Hans mengerti maksud Erina, ia tersadar sekarang sudah memberikan Erina harapan dengan hubungan mereka sejauh ini. Mungkin Erina meminta penjelasan lebih lanjut. Kalau mau dilanjutkan ya monggo tapi kalau tidak, sudahi saja.


“Rin, aku tahu rin aku tahu. Tapi apa bisa kita bersatu dengan perbedaan yang teramat sangat seperti ini?” Hans masih pada pendiriannya. Kalau suka sama cewek, ya nikmati dan jalani aja dulu alurnya tanpa status pacaran atau TTM atau semisalnya.

__ADS_1


Sedangkan Erina, butuh pengakuan dengan status. Agar bisa menentukan langkahnya kedepan. Kalau memang Hans anggap mereka hanya teman, sewaktu-waktu Erina menyukai orang lain maka tidak ada ‘batas’ dari perasaannya yang tidak jelas apakah akan terbalas atau tidak.


“Sekarang maumu gimana?” Tanya Hans sambil memeluk Erina lagi.


“Aku akan mengikuti jawabanmu Hans. Kau mau lanjut atau begini saja?” jawab Erina.


“Jujur aku sangat suka dengan hubungan kita sekarang. Kita dekat dan saling mengisi. Namun kalau untuk status, aku belum bisa. Bukannya aku nggak sayang sama kamu, menurut aku definisi pacaran itu harus bisa berkaitan satu sama lain, sedangkan kita hanya bisa berkomunikasi lewat telpon. Ketemu juga sebulan sekali belum tentu,” jelas Hans.


Dia tidak sadar kalau perkataannya akan menjadi boomerang untuk dia di kemudian hari. Erina hanya tersenyum dan menerima itu lalu larut dalam pelukan Hans.


***


James panik, kemana lagi dia harus mencari istrinya. Memeriksa lokasi dari nomor ponsel Tiara pun gak bisa karena Tiara sudah menon-aktifkan ponselnya setelah meninggalkan hotel tadi. Karena sedang buntu pikirannya, James Cuma meminta pada supirnya untuk berputar-putar di sekitar kota Sydney. Sudah tidak semangat lagi kembali ke hotel.


Kado dari Tiara tidak pernah lepas dari genggamannya. Sekali-kali dia memandang botol itu sambil mengingat semua kebaikan Tiara. Lalu menyesal sendiri.


“Jangan sampai dia melapor pada Mommy. Hancur riwayatku kalau itu terjadi,” batinnya.


“Sudah hampir pagi, sir. Mau kemana lagi? Sebentar siang keberangkatanmu kembali ke London. Baiknya kau kembali dulu untuk istirahat,” saran supirnya.


“Baiklah,”


.


Di ruang tunggu bandara. Wajah lelah Tiara tidak bisa disembunyikan. Ditambah mata bengkaknya yang habis menangis. Dia sudah memutuskan untuk mengakhirinya dengan James. Kalau James yang tidak menganggapnya sebagai istri, dia tidak masalah. Persoalannya James mengatakan padanya dia sudah jenuh dengan Bella tetapi tadi terlihat sangat menikmati ciuman mereka. Kan Tiara jadi bingung.


“Sudah cukup James. Aku akan melepaskanmu sekarang,” lirih Tiara masih dengan air mata yang terus terjun dari kedua matanyaaa..


“Setidaknya aku tidak pernah menyakitimu dan tidak mengkhianatimu selama berstatus sebagai istrimu,” ucap Tiara dalam hati sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke pesawat.


BERSAMBUNG…..


Sedih nggak sih Tiara?


Kapan bahagianya yak si Tirtir thor?


Author juga bingung.. hehe. Nikmati aja yaa ...

__ADS_1


__ADS_2