
“Kalau aku bilang aku sudah nikah sama dia, kau percaya nggak?” tirtir sok memberi teka-teki.
“JELASNYA NDAAAKKKK” umpat Erina kesal…
“HAHAHAHAHA” Tiara tertawa terbahak-bahak melihat Erina yang sedang emosi. Sedangkan pihak yang sedang ditertawakan menatap temannya heran.
“Elu gak sedang bercanda kan Tir?” tanyanya lagi.
“Menurut ngana?” sahut Tiara yang membuat emosi Erina makin meluap-luap. Siap-siap ini ada yang mau meletus tapi bukan balon.
“Serius tir, serius,” mohonnya.
Demi sepotong kulit ayam goreng tepung yang sering jadi rebutan di meja makan, ini kali pertama Erina memohon sungguh-sungguh pada Tiara agar dia mau menceritakan rahasianya. Biasanya sih memohon juga tapi gak sampai seperti sekarang yang udah nahan nangis.
“Iya iya.. gue ceritain ke elu. Cengeng ah, kayak gak tau gue aja suka kerjain elu,” jawab Tiara gak tega dengan raut Erina.
“Apapun yang elu denger sekarang, cukup kita berdua yang tahu. Bukannya gue gak mau hal ini elu ceritain ke orang lain, tapi karir James akan jadi taruhannya, Rin.” Tiara udah mode serius.
“Tapi gue yakin hubungan elu sama James udah serius. Buktinya elu udah diterima di keluarganya, sampai bela-belain kesini buat ke undangan.” Skak Erina.
“Ya emang. Kan awalnya gue nolongin Clarissa, terus gue ketemu sama James di RS, yaudah sih gak gimana-gimana, dia ucapin makasih karena gue udah bawa Mommy-nya ke RS, ajak gue makan, ngobrol, Whatsapp-an, jadian,” cengir Tiara menertawakan kebohongannya sendiri.
“Ihh gilakk. Bukannya elu nggak mau pacaran ya? Tapi kok bisa dia sama Bella? Siapa yang selingkuh sama siapa nih?”
Hayoloohh Erina keponya dalam seperti kedalaman samudera.
“Gak selingkuh riinnnn. Mereka cuma dalam kerjaan aja. Kami udah bahas ini waktu masih sama-sama di London waktu itu. And….. kami membahas semuanya didepan Clarissa dan Ben lagi. Gimana aku gak percaya. Lagipun aku biasa aja sih, gak ngefek apa-apa juga sama kehidupan aku. Sekedar sayang sama dia, besaran rasa sayang gue ke elu kali, gak mau berharap banyak juga, kalau kecewa sakit tjuuyy,” ucap Tiara gamblang.
“Serius niih?”
“Diihh gak percaya. Sana elu. Besok subuh gue mau ke bandara,”
“Izinkan gue tidur sama elu malam ini. Ntar izin dulu yaa sama guide tour gue, wait.”
Tiara membiarkan sahabatnya dikamarnya dan melakukan apapun yang dia mau. Toh mereka sudah seperti saudara jadi santai aja, kecuali yang soal James. Baru kali ini Tiara melakukan kebohongan besar pada Erina.
***
Dikamar James.
__ADS_1
Hans sedang berbaring sambil memainkan ponselnya dan James baru saja menyelesaikan ibadahnya. Meski masih sedikit nakal, tapi sebisa mungkin James tidak meninggalkan ibadahnya. Sepanjang waktu mulai dari keluar kamar Tom sampai sekarang dia masih kepikiran dengan kata-kata kasarnya pada Tiara.
“Astaga, dia sudah mencoba menjadi istri yang taat dan mendengar semua yang aku bilang. Kenapa dia masih bertahan sama aku? Apa dia beneran baik? Apa sekarang aku harus percaya sama dia?” James berbicara dalam hati usai dia berbaring di kasurnya.
Hati kecilnya mendorong dia untuk percaya dengan Tiara tapi masih tertutup dengan kerasnya hati akibat trauma yang menjadikan James sulit percaya dengan orang lain. Lucunya, sekarang pun James lupa untuk menghubungi Bella.
Ah James gitu kalau dekat istri, taunya emosi mulu habis itu nyesal. Sekarang bahkan lupa sama pacar-idolanya.
“Why?” Tanya Hans yang melihat temannya melamun di kasur sebelah. Kamar yang mereka pesan adalah kamar double bed.
“No.” jawabnya malas.
“Temennya temenmu lucu ya?” Hans tersenyum sendiri membayangkan Erina yang mulutnya bagaikan asap kereta api kalau ngomong.
“Erina?” Tanya James sambil menolehkan kepalanya ke arah Hans.
“Kau suka? Serius suka? Temenan aja dulu. Tapi ya gimana, mereka jauh gitu. Kalaupun temenan paling kau juga sebatas say hi sama dia di sosmed.” James memberikan pendapatnya pada Hans.
“Kalau aku minta nomornya mau gak dia ya? Atau sosmednya dulu kali?” Hans menimbang-nimbang.
James mengernyit melihat Hans yang bingung akan sebuah pendekatan wanita yang baru dua kali ditemuinya itu.
“Tertarik aja aku. Ya kan kenalan aja dulu. Gak salah dong kalau aku mau jadi temennya. Siapa tau kalau aku ke Bali ada yang temenin,”
“Serah deh,”
“Kalau kau mau temui dia, ada di kamar Tiara sekarang. Kamar 2010,” James memancing Hans.
Tentu Hans langsung beranjak dan menuju kamar Tiara. Entah apa yang dilakukannya disana, yang jelas setelah 30 menit berlalu Hans tidak juga kembali. Setelah James telpon ternyata dia sedang berada di cafe yang terdapat di rooftop hotel mereka bersama dengan Erina.
James memutuskan ke kamar Tiara karena tahu tidak ada Erina disana.
“Nyelonong aja masuk. Mau ngapain. Sana aku mau tidur, ntar subuh ke bandara,” usir Tiara.
“Kok gak bilang?” James sewot dan kaget.
“Apa urusannya mau bilang sama kamu?” Tiara benar-benar lelah sekarang dan pengen tidur.
***
__ADS_1
Sedangkan di rooftop dada Erina mau lepas diajak jalan berduaan sama Hans. Lain ceritanya sudah kalau seperti ini.
“Astaga kenapa aku mengiyakan ajakannya jalan..” Erina mengumpat dirinya sendiri.
“Kamu mau minum apa?” suara Hans mengagetkannya dari lamunannya sendiri.
“Coke aja.” Jawan Erina sambil tersenyum kaku.
“Kenapa kamu banyak diam?” Hans bingung sendiri dengan perubahan sikap cewek didepannya ini.
“Ayok rin ayok jangan gugup. Jantung jangan ngebut dong nanti tabrakan bahaya loh ongkos rumah sakit mahal,” batinnya.
“Aku gugup karena jalan sama artis dunia. Aku gak mau turut terikut popularitasmu karena aku orang biasa dan tidak siap di hadang ratusan juta fans kamu,” sahut Erina ngasal. Akhirnya jantungnya bisa normal setelah diajak bersugesti kalau biaya berobat di rumah sakit mahal.
Hans yang mendengar kata-kata Erina mendadak memerah wajahnya karena terkesima sama gombalan gadis biasa didepannya ini.
“Eh muka kamu kok merah?” jiwa gombal Erina menjadi-jadi padahal ia sudah tau penyebabnya.
Hans tidak mampu berkata apapun lagi. Ngakak Erina langsung tertuang saat itu juga karena merasa gombalannya sukses.
Tuhan kalau sudah urusan ngerjain orang lincah ya Rin. Gak jauh beda sama Tiara.
“Jangan gitu dong Hans, canda aku tuuh. Dari pada aku gugup mending bercanda ‘kan yahhh.. James mana? Kok kamu sendirian tadi ke kamar Tiara?”
“Ada di kamar. Tuh anak lagi galau. Tiba-tiba melamun tadi sepulang dari acara. Entahlah, mungkin karena Bella,”
“Apa aku Tanya aja ya tentang James dan Tiara sama Hans? Tapi apa dia tau?”
“Kamu gak tau hubungan Tiara dan James?” ya ampun rinrin. Udah dibilang jangan kasih tau siapapunn.. huhu
Hans menggeleng pelan…
“Mereka..”
“Erina” suara James dan Tiara memenuhi gendang telinga Erina saat ia hampir membuka status James dan Tiara pada Hans. Entah sejak kapan kedua sejoli itu berada di belakang mereka.
Apakah mereka mendengar obrolan keduanya?
BERSAMBUNG…
__ADS_1
RIINNNNNNN HAMPIR SAJAA HADUUUHHHHH…….