
James dan Tiara berada di kamar hotel, setelah membantu Tiara membuka segala aksesoris dan membersihkan diri, James duduk dipinggir ranjang sambil berhadapan dengan Tiara.
Hmm sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan James.
"Honeyy.."
"Hmm," sahut Tiara sambil menyisir rambutnya yang sudah dikeringkan.
"Selama aku tour nanti ikut yukk... kamu harus dampingi aku, jangan pernah tinggalkan aku sedetikpun...." mohon James.
GLEGGG.....
Tiara menelan salivanya susah payah. Pikirannya berkelana, gimana ceritanya dia akan menemani James berpindah-pindah lebih dari 30 negara dan kota besar selama 5 bulan. Dari bis ke bis, dari bandara ke bandara, hotel ke hotel.. Sanggupkah iaa???
Lemas. Cuma itu perasaannya kini. Mau menolak tapi gak tega, mau menerima tapi rasanya gak kuat.
"Honey.. kenapa?" tanya James karena sang istri tidak meresponnya.
"Apa ada yang mengganjal hati kamu? katakan padaku," rayu James.
"Aku...mmm...aa..aku... gak yakin,"
"Maksud kamu?" James bingung dengan jawaban Tiara yang singkat tapi tidak jelas.
"Aku tidak yakin kalau aku bisa menemanimu selama itu untuk pindah-pindah negara,"
"Baby, kamu sanggup kalau kita berpisah dalam jangka panjang. Kita baru bisa ketemu sekurangnya dua pekan sekali bahkan sering lebih. Gimana kalau aku 'ingin'?" James mengeluarkan maksudnya mengajak Tiara.
"Tidak perlu pikir aneh-aneh. Cukup ikut saja, nanti kita konsultasi ke pakar yang cocok untuk mengetahui kondisi tubuh kamu agar bisa dapat vitamin yang sesuai,"
Yuhu. James tidak serta merta membawa sang istri tanpa persiapan yang baik. Dia sudah memikirkan fisik Tiara yang akan kaget karena dalam seminggu bisa 4 kali naik pesawat untuk berpindah-pindah. Hal baru untuk Tiara.
"Kamu udah mikirin hal itu?" tanya Tiara kini sambil menatap James antara kaget dan senang.
James menggangguk sambil senyum.
Tiara juga tersenyum dan langsung memeluk James.
"Aku akan ikut kalau dibolehkan sama dokter sayang."
__ADS_1
James yang sedari tadi menahan nafsu tidak sanggup dengan dada Tiara yang menempel cukup lama di dada James. Tanpa permisi, James meremaas lembut bola dada Tiara.
Mendapati hal itu membuat Tiara sedikit melepas pelukannya dan menatap mata James sambil tersenyum mesum. Segera ia memajukan wajahnya untuk mencium James dengan zenzual.
"Ahhh," desahan kecil terlontar dari mulut James saat Tiara sudah memasukkan tangannya ke dalam boxer James dan mengelus uleg-an yang bisa memanaskan tubuhnya itu.
James yang tidak mau kalah dengan pergerakan Tiara segera menurunkan sedikit kasar tank top Tiara untuk melahap bola dada sang istri yang selalu diidamkannya untuk disedot.
"Mmhh..sshh...aahh," rancau Tiara kala James memainkan ujung bolanya dengan lidah. James tersenyum mendengar desahan istrinya.
Setelah puas bermain bola, James berencana membaringkan Tiara karena ingin melanjutkan kegiatannya diatas segitiga tidak muda tidak tua mikik Tiara.
"No... aku mau main uleg-an dulu. Sudah lama tidak sayang," sahut Tiara dengan agresif dan menarik boxer James dengan lambat dan tatapan menggairahkan membuat James menggigit bibir bawahnya.
Bola mata hitam James hilang menikmati pelayanan istrinya yang tengah menaik-turunkan kepalanya dibawah sana yang membuat kedua sejoli itu tidur saat langit nyaris terang akibat pergulatan panjang mereka.
Belum genap satu jam terlelap, ketokan di pintu kamar mereka dengan kencang membuat keduanya dengan malas dan terpaksa membuka mata.
"Apa lag...," kata-kata James tidak tersambung kala melihat Mark dan asistennya dengan wajah baru bangun namun terpenuhi beban. Entah apa.
"Whyy?" tanya James juga heran.
"Hans bawa lari orang yang akan nikah hari ini, teman istrimu bukan? Sekarang orang tua si cewek ada dibawah dan lagi ngamuk.. Gimana nih. Matthew sendirian mengurus kerusuhan dibawah," beber asisten Mark.
.
"Baby cepat bangun. pakai baju kamu. Hans buat ulah lagi. Dia bawa lari Erina. Erina tidak ditemukan dirumahnya pagi ini," ucap James sambil melihat isi lemari mencari baju yang akan ia pakai.
Tiara yang kelelahan seluruh badannya langsung terduduk dan menarik nafas sebelum beranjak dari kasur.
Mereka berdua keluar kamar dengan wajah kelelahan, entah karena resepsi atau karena tralala trilili. Sesampainya dibawah, orang tua Erina mendatangi Tiara dan saking emosinya hampir menampar istri James itu.
Untung James lincah menahan tangan mamanya Erina.
"Pikirkan dengan baik dulu aunty. Jangan pakai kekerasan," mohon James sambil menatap sedikit tajam ke orangtua tua.
Mamanya Erina mendengus kasar sambil melepaskan tangannya dari cengkraman James.
Tiara mencoba menerawang tempat-tempat yang suka didatangi oleh Erina selama dia berteman dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kenapa tante mengira Hans yang membawa Erina?" tanya Tiara..
Orang tua Erina tidak bisa menjawab.
"Kenapa tante tidak cari tahu lebih dulu lalu menuduh orang lain?" sambung Tiara lagi.
Orang tua Erina tidak mampu menjawab lagi. Mereka terduduk lemas lalu menangis. Entah, apa yang sedang mereka pikirkan. Sedih atau menyesal.
"Tante kembalilah ke rumah. Mungkin Erina sedang menenangkan diri.
Sayang, temani aku cari Erina. Mark, Matt, Hans ada dikamarnya lantai 7. Temani dia," Tiara langsung berbicara tanpa jeda. Langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil dan meminta izin pada James biarkan dia saja yang menyetir.
"Apa kau tau dimana dia?" tanya James yang melihat sang istri cukup tenang.
"Aku cuma tau dia akan kemana kalau lagi sedih. Semoga ada disana," Tiara berkata tanpa menoleh ke arah James karena asyik melihat kedepan.
***
"Rin keluarlah. aku tau kamu ada didalam. Jangan bikin cemas keluarga kamu rin, semua khawatir sama kamu," Tiara mulai mengetok pelan pintu rumah-rumahan di pohon yang terdapat di pinggir pantai di kampung mereka. Sekitar 30 menit dari rumah.
KREEK..NGOOTTT...
Suara pintu rejek dari kayu-kayu itu terbuka dan muncullah Erina dengan kondisi yang berantakan. James ingin bertepuk tangan melihat kepiawaian istrinya menemui Erina dengan cepat.
Sedang Tiara memeluk Erina yang lagi menangis.
"Yang tenang rin. Kamu kuat, aku tau kamu mampu melewati semuanya. Jangan seperti ini," Tiara berbicara sambil menangis juga.
Hikss..hikss..hikss....
Belum lagi Erina berhenti menangis dan masih berada di dekapan Tiara. Suara yang dikenali semuanya membuyarkan keheningan mereka.
"Menikahlah dengan pilihanmu karena kita tidak pernah bisa bersatu,"
Semua terdengar kaget dengan ucapan lelaki itu. Hans. Dialah yang datang dan langsung berucap demikian kepada Erina.
Meski dia terlihat hancur namun dia sadar diri dengan posisinya, juga semalam sudah mendapatkan kultum masalah hati dari Mark dan Matthew.
Erina melepaskan pelukan Tiara lalu menatap Hans dengan mata yang merah karena banyak menangis.
__ADS_1
"But I love you so much," lirih Erina yang ditujukan pada Hans dan makin menangis histeris dan mengejutkan semua yang ada disitu, termasuk orang tua Erina..
BERSAMBUNG....