
"Maaf, aku mau kasih kamu kejutan.. Aku beli kebun di Selandia Baru seluas 20 hektar. Kebun jeruk. aku mau jadi pengusaha buah aja, by sekaligus hidup di desa yang tenang dan damai,"
"APPAAAAAA?" pekik Tiara....
"Kok teriak?" James memegang kupingnya akibat suara Tiara yang melengking..
"Sorry," lirihnya lalu kembali meletakkan kepalanya ke bantal.
"Kamu gak apa-apa kita cuma berkebun aja, by? Setelah ku pikir-pikir uang tinggal di kota juga membosankan. Itu-itu saja. Tapi kalau kamu mau tinggal disana, gak juga jangan di paksa," James memberikan sepenuhnya jawaban pada sang istri.
Tiara berpikir. Ia pun juga cukup sepakat dengan pemikiran James. Tinggal di kota besar terlalu ditawarkan urusan duniawi. Secara paksa kita harus tahu masalah orang lain.
Sesekali memegang ponsel, kita bisa tahu ada artis bercerai, pelakor dimana-mana, perkelahian, perselingkuhan di beragam beranda berita. Niat hati tidak mau mengetahui itu semua tapi berita terkait orang lain kerap muncul.
Di desa, mungkin bisa minim gadget, berinteraksi sama pekebun, petani dan tetangga sekitar jadi cukup menarik.
"Aku gak apa-apa kalau kamu mau tinggal disana. Asal selalu bersama kamu." Tiara berkata sambil mengelus lembut pipi James.
"Tapi gak ada kemewahan seperti ini lagi, by.. gak apa-apa kalau kamu belum siap..." James memastikan sekali lagi.
"Tapi rumah kamu disini dan di LA gimana?"
"Sementara biarkan aja dulu, by. Aku juga bingung... Mana tau kita bosan di desa, kita bisa kembali kesini lagi. Aku belum memikirkan terlalu jauh.. Kalau rumah mungkin bisa diurus dengan pelayan, kalau mobil entahlah. Dibiarkan terlalu lama pun akan merusak mesin," James tampak menerawang mau diapakan harta-hartanya kini.
"Sudah jangan pikir yang lain dulu. Ingat besok telpon ibu kamu buat menjelaskan kepindahan kamu. Minggu depan siap kan, by..."
"Iya sayang," jawab Tiara yang mulai sayup-sayup karena sudah hampir terlelap.
James mencium pipi Tiara lalu memeluknya untuk menyusul ke alam mimpi.
Bukannya James tidak menawarkan kemewahan bagi istrinya, tetapi ada rencana tersendiri kenapa dia mau jadi petani sekaligus pengusaha jeruk.
Selama dua bulan dia mencari tahu tentang kebun-kebun di Swiss dan Selandia Baru untuk dibelinya. Sebenarnya dia bahkan mau menjadi peternak sapi perah, tapi terlalu riskan untuk dia mau terjun ke dunia itu, karena tidak terbiasa apalagi perawatannya lumayan ribet.
__ADS_1
Andai Tiara menolakpun dia tidak masalah. Dengan pemasukan yang akan jauh berbeda ketika menjadi artis pun sudah tidak ia pedulikan lagi.
Yang penting keluarga mendukung dan Tiara bersama dirinya. All enough..
James sendiri kalau ada apa-apa selalu mengingatkan sang istri untuk menelpon mertuanya. Kenapa tidak menelpon sendiri? Karena James tidak bisa berbahasa Indonesia dan ibu Tiara tidak bisa berbahasa Inggris.
***
Di sebuah salah satu kota di Indonesia, Luthfi mengajak Erina makan dan mengobrol yang lebih serius. Lelaki itu tahu betul Erina tidak sepenuhnya mencintai dia tetapi dia sadar tidak bisa memaksa hati seseorang.
"Kalau calon suamimu yang gagal, itu tidak mungkin. Siapa dia? lelaki yang kau cintai.. Terbuka lah padaku," ucapnya ketika mereka selesai makan.
3 bulan menjalin hubungan Luthfi sadar ada yang janggal dari Erina, selama ini dia berusaha menampiknya tapi tetap saja tidak bisa ia sembunyikan.
"Maksud kamu?" ulangnya bertanya.
"Iyaa.. siapa dia? lelaki yang selalu kamu pikirkan,"
Meski wajahnya mengahadap ke arah Luthfi tapi bola mata Erina tidak sanggup menatap lelaki itu. Ia merasa terlalu bersalah.
NAH !
bener tuh kata-kata Luthfi.. Erina aja selama ini mentok juga masih mikirin Hans gimana dia mau berubah.
"Kalau kamu seperti ini terus, aku gak bisa jamin perasaan aku terhadap kamu bisa selamanya sama. Bukan aku tidak sayang kamu atau tidak mau menunggu, tapi semua manusia di dunia ini butuh kepastian."
Semua kata-kata Luthfi dibenarkan batin Erina. Meski ia selalu berkata akan melupakan Hans dan jarang membalas pesan Hans lagi, namun hatinya tidak bisa bohong.
"Semuanya ada di kamu, Rin.. kapan kamu mau menerimaku dengan tulus dan kapan kamu mau terbuka sama aku... Tapi aku tidak bisa janji sampai kapan akan bertahan, kalau diluar sana ada yang menjanjikan akan membalas perasaanku dan bisa menghargai aku," sebutnya lalu mengajak Erina pulang.
Sepanjang perjalanan, Erina hanya dia, pun Luthfi melakulan hal yang sama..
"Syukur sudah ada yang mau nerima aku dan terus bertahan. Betul yang dikatakannya, aku gak pernah kasih dia kepastian dan aku gak bisa tahu sampai kapan dia bisa bertahan dengan aku yang kepala batu begini," batin Erina.
__ADS_1
"Tunggulah sebentar lagi.. Tapi jangan berharap banyak dari aku," katanya sebelum turun dari mobil.
Luthfi menghela nafasnya.
***
Seminggu kemudian James dan Tiara sudah berada di salah satu hotel yang ada di Wellington. Mereka akan menginap seminggu disana sebelum ke desa. .Adaptasi dengan suasana disana karena mungkin mereka akan sering ke Wellington buat belanja bulanan atau window shopping.
James membeli mobil tipe jeep yang terbuka itu buat menyusuri kebun setiap hari. Dan satu mobil mewah yang besar buat akomodasinya dengan Tiara ketika mereka mau ke dokter kandungan di RS yang jaraknya setengah jam dari desa.
Clarissa mau ikut tapi James tidak mengizinkan karena kesehatannya yang akan menurun kalau sampai berpergian jauh dengan pesawat.
Ibu bapak Tiara diminta menyusul kesana. Tapi bulan depan mereka baru bisa berangkat tepatnya setelah acara pernikahan sepupu Tiara.
Satu rumah pondok yang indah dan menyejukkan mata sudah disiapkan James ditengah kebun mereka sebagai tempat tinggal. Fasilitas lengkap. Bersampingan dengan pondok pemilik lama kebun tersebut, yang akan pergi usai musim panen 2 minggu akan datang.
James tidak mempekerjakan pelayan tetap dirumahnya tetapi dia membuat kerja sama dengan beberapa petani untuk mengerjakan tugas tambahan dari dia dengan upah sesuai, pun tidak setiap hari seperti cuci baju, beres rumah, bersihkan halaman depannya.
Tiara meneteskan airmata setelah melihat pemandangan sekitar kebun dan rumah mungilnya dengan James.
Sunggu James meninggalkan karirnya, studio miliaran lantai 3 rumahnya yang di London sudah kosong. Barangnya diberikan kepada ketiga temannya, ada beberapa yang dijual dan beberapa dibawa ke kebun untuk mengisi kekosongan waktunya nanti.
"Kenapa? apa kamu keberatan?" James merasa bersalah lagi kan.
Tiara menggeleng cepat.
"Nggak sayang nggak. Aku bahagia. Sumpah aku speechless sampai gak percaya kamu menyiapkan semua ini untuk hidup dengan aku. Meninggalkan semua yang kamu bangun dengan susah payah demi aku... Aku gak tau gimana caranya berterima kasih sama kamu," Tiara makin sesegukkan. James mengusap kepala sang istri lalu memberikan ciuman disana.
"Jangan gitu dongg... aku juga masih perlu belajar nih buat bercocok tanam. Mulai besokk kita ke kebun ya belajar sama petani sekaligus perkenalan," Tiara mengangguk...
__ADS_1
"Ini belum semua baby... Satu lagi kejutan buat kamu yang aku siapkan... Tapi aku harus mengumpulkan dana dulu agar tidak sia-sia," batin James sambil memeluk Tiara agar nangis bumil itu reda....
BERSAMBUNG ....