
Hans menghela nafasnya. Namun dia baru mengingat sesuatu kenapa ada Tiara di rumah James sekarang.
“Kapan kau datang? Apa yang kau lakukan disini?” kaget Hans.
Tiara dan James saling tatap dan tersenyum, apalagi Tiara yang tampak malu-malu semakin membuat Hans penasaran.
“James, jangan bilang dia…..” belum lagi Hans menyelesaikan ucapannya.
“Exactly. Apa yang kau pikirkan benar,” jawab James.
“God. Pantas waktu aku meminta pertolongan waktu itu agar kau mau mengajak Tiara membantuku kau menolak sampai ajak aku perang mulut,” keluh Hans.
“Ya gimana aku gak emosi. Aku saja waktu itu masih berantem dengan dia. Kau lagi minta aku merepotkan dia. Gimana ceritanya.. sudah sudah. Ini kita mau bahas tentang kau atau tentang aku dan my wife sih,”
Mendengar kata-kata terakhir James membuat Tiara merona. Uwlala…
“Tir, apa kau tau Erina akan menikah?” Tanya Hans sambil mengalihkan tatapannya dari James ke Tiara.
“Tau.”
“Siapa calon suaminya?”
“Kau kenapa sih? Ya manusia lah. Kenapa memangnya? Apa ada yang salah?” Tiara mulai sebel.
“Tir, tolong aku. Ayok kita batalkan pernikahannya,” mohon Hans.
“JANGAN GILA KAU!” bentak James.
“Aku… aku mencintainya tapi waktu dia meminta status dari aku, aku bilang aku sudah cukup nyaman dengan hubungan kami yang kemarin, setiap saat komunikasi tapi tidak ada kejelasan. Wait,wait.. apa dia tidak cerita kalau kami bertemu di Canberra waktu kami tour kesana. Yang bersamaan dengan ultah James?”
“No.” singkat Tiara.
“Yap. Saat disana dia minta aku meluruskan hubungan kami. Apakah akan berlanjut atau berhenti. Aku Cuma bilang aku nyaman dengan keadaan sekarang, dia tidak mengelak. Tetapi sebulan dari Canberra dia mulai menghindariku, awalnya aku mengerti mungkin dia sibuk lama kelamaan dia semakin menghilang dan menutup semua akses komunikasi kami. Dia memblokir segala sosmedku,” cerita Hans.
“Salah sendiri bodooohh. Udah ah, malas deh.” Tiara ikutan emosyi.
“Lah kok gitu?”
“Astaga Hannnsss.. dimana-mana wanita butuh kepastian apalagi kalian jaraknya berjauhan gitu yaa gak bisa kontrol satu sama lain lah. Mending juga Erina terima yang lebih jelas dari situ. Tapi selain itu mungkin alasan terkuat dia melepasmu karena soal religi sih.. kalian beda ‘kan.. ya gak mungkin disetujui keluarga Erina dong, palagi di Negara aku. Gak bisa tuh begitu-gitu,” bebernya.
“Tolong aku Tir…” sekali lagi Hans memohon pada Tiara. Ia menoleh pada James meminta persetujuan boleh atau tidak membantu Hans kali ini, khawatir jiwa individual James yang tinggi tidak membenarkan sang istri ikut campur masalah temannya. Apalagi sangat privasi begini.
__ADS_1
“Dia akan membantumu. Tapi jangan berharap banyak,” James yang menjawab.
“Baiklah. Makasih ya… ohiya James jangan lupa nanti sore rapat keputusan.” Hans mengingatkan sebelum beranjak.
“Iyaa. Aku tidak melupakan itu…”
Hans sudah beranjak dari rumah James lima menit lalu. Kedua pasangan suami istri yang tidak baru itu masih diam, masih malu-malu untuk bertingkah layaknya suami istri. Duh gemessshh.
“James ayok kita ke kamar mommy. Kita harus memberitahu mommy kalau kita tidak apa-apa dengan tindakannya yang membuat kita menikah,” ajak Tiara sambil menarik tangan James untuk dia genggam.
“Aku takut akan emosyi lagi kalau ketemu mommy,”
“Sampai kapan kau harus begini. It’s okey. Akhirnya kita baik-baik saja ‘kan,” Tiara mengelus punggung tangan James lembut dengan tangan sebelahnya.
James menghela nafasnya dan menuruti perkataan Tiara.
.
“James, barang-barangku di letakkan dimana? Kenapa lemarimu penuh banget sih?” Tiara speechless sendiri melihat lemari sang suami yang mengalahkan isi lemarinya di Jakarta dulu.
Mereka sudah di kamar James setelah dari kamar Clarissa usai drama mengharukan yang penuh airmata dari Tiara dan Clarissa. Semuanya berjalan baik dengan hati yang lapang agar bisa tenang menjalani hari-hari kedepannya.
“Gak usah lebay. Itu masih ada space kosong.” Tunjuk James pada beberapa lemari yang agak longgar membuat Tiara memutar bola matanya malas.
“Terserah kamu saja,”
“Panggil aku dengan panggilan sayang dong James,” goda Tiara. James mengernyitkan dahi bingung dengan sikap istrinya yang dia tidak ketahui selama ini.
Begitulah aslinya Tiara kalau sudah kenal dengan orang, dia akan terbuka dan mengeluarkan apa yang dia mau dengan orang sekitar, apalagi suaminya sendiri.
“Elaahh bingung gitu. Panggil aku honey boleh, hubby boleh, baby juga boleh,” Tiara makin menggoda James sambil memainkan matanya seperti puppy eyes.
“Sudah sana masak. Yang enak ya my wife,” balas James menggoda.
BLUSHHHH
Tidak mau kalah, Tiara langsung mengecup singkat pipi James. “I’ll try my best,” bisiknya langsung berlari ke dapur.
.
Tiara sudah masak di dapur dan ditemani dua orang pelayan James untuk iris-iris bahan aja, kalau untuk bumbu, semuanya urusan Tiara. Dia sedikit kesusahan mencari rempah-rempah di rumah James sekarang.
__ADS_1
“Ah aku harus ke toko rempah-rempah India disini. Waktu liburan 6 bulan lalu, aku ada melihat toko rempah-rempah tapi lupa di bagian mana ya.. nanti aja deh minta antar sama James. sekarang aku masak apa kalau sudah begini bahannya,” Tiara jadi murung.
.
Satu jam berlalu, Tiara sudah selesai menyusun 3 menu makanannya yang berbahan dasar bawang putih, karena Cuma itu yang dia lihat tadi di kulkas James.
Ternyata tanpa dipanggil, Clarissa dan James turun tepat waktu. Rupanya jam makan disini sangat teratur, tanpa harus menyusahkan pelanggan untuk memanggil tuan-nyonya satu per satu.
James duduk disamping Tiara dan berhadapan dengan Clarissa. Dengan telaten Tiara mengambilkan James nasi dan menu lainnya. James menelan saliva-nya melihat makanan yang disajikan Tiara. Seumur hidup ada 2 makanan yang tidak pernah dimakannya selama ini, yaitu perkedel jagung dan opor ayam. Wkwkwk…
sedangkan menu satunya adalah capcay sayur yang biasa ada di Chinese restaurant.
“Gak ada racunnya ‘kan?”
“James,” Clarissa menegur agar tidak bercanda berlebihan saat sedang makan.
“Gak apa-apa mommy,” Tiara mencoba menenangkan kondisi meja makan.
“Enak kan..” Tiara bertanya saat James sudah makan beberapa suap sendok.
“Biasa aja,” bohong James yang ternyata dia mengagumi kemampuan masak Tiara. Apalagi makanan yang tidak pernah dirasakannya selama ini.
“Aku nanti izin jalan dengan pelayan ya ke toko rempah-rempah Asia. Aku gak bisa masak dengan isi kulkasmu yang seperti itu,”
“Gak usah sekarang. Besok akan aku antar,”
Tiara diam saja, sebenarnya dia malas berdebat karena ada Clarissa didepannya. Enak aja mau antar Tiara, apa si istri gak kicep nanti ke-gep dengan fans-fans heboh???
.
“Aku akan pergi sore ini ke studio untuk rapat. Kalau aku lambat pulang, kau makan malam sama mommy ya jangan tunggu aku,”
“Tapi malam ini kita tralala trilili ‘kan James..” Tiara mulai memancing. Jangan salah, dia Cuma bisa frontal kalau lagi dikamar berduaan dengan James aja ya.
“Tergantung?”
Tiara kebingungan…
“Hah?”
“Tergantung malam ini apakah aku akan dikeluarkan dari band atau tidak. Kalau aku dikeluarkan, artinya kita tidak ada begituan malam ini. Tapi kalau aku masih bertahan di band, yaaa mau nggak mau kita harus peeeecaahiinn perawaan kamu malam ini,” James nyengir sambil mikir mesum…
__ADS_1
“Dikeluarkan?” Tanya Tiara yang bersamaan dengan keluarnya airmatanya. Mimpi buruknya kejadian, James dikeluarkan karena sudah menikah dengan dia.
BERSAMBUNG….