
Dua jam berlalu, para penguntit Kembali melihat hasil rekaman di remote kontrol mereka setelah mereka memilih untuk bermain game di ponsel untuk mengisi kekosongan waktu atas perintah yang Bas berikan.
Nihil. Tidak ada perbincangan serius yang dilakukan Darren dan Bella.
Namun, mereka tetap tidak meninggalkan kediaman Darren begitu saja. Bayaran yang Bas berikan tidak tanggung-tanggung, sehingga mereka menunggu Bella untuk keluar dari rumah itu dan mengikuti kemana lagi dia akan melangkah.
‘’Tidak ada yang mencurigakan, Bas. Mungkin sebentar lagi Bella akan keluar dari rumah Darren,’’ ucap salah seorang penguntit pada Bas melalui sambungan telpon.
.
.
Keesokan harinya di kantor, Tiara mendapatkan telpon dari Mommy mertua kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Clarissa. Semenjak mereka berpisah di Italia memang Tiara tidak banyak berkomunikasi dengan mertuanya yang sangat ia sayangi.
‘’Sayang kenapa lama tidak telpon Mommy.. apa ada masalah dengan James..’’ tanya Clarissa tanpa kata pengantar.
‘’Mommy maafkan aku. Aku merindukanmu Mom tapi kerjaan lagi banyak dan hampir semua deadline. Jangan cemaskan James Mom, hubungan kami beberapa hari ini semakin membaik,’’ jelasnya.
‘’Sayang, Mommy mau minta sesuatu sama kamu. Apa kamu berjanji untuk bisa menepatinya..’’ tanya Clarissa hati-hati.
‘’Sebutkan saja Mom,’’
‘’Bulan depan saat James ulang tahun, dia akan berada di Sydney karena ada manggung dengan teman-teman band-nya. Kamu kesana ya, nanti mommy yang atur semuanya. Ada yang jemput kamu di bandara dan mengurus kamu selama disana,’’ pinta Clarissa lagi.
Clarissa sudah cari tahu jadwal anaknya melalui Bas dengan berdalih ingin tau dimana keberadaan James saat hari ulang tahunnya, mana tau dia bisa samperin untuk kasih surprise. Karena Bas merasa hal itu wajar untuk di informasikan maka dia memberitahu pada Clarissa.
‘’Mom bukannya aku gak mau, tapi aku sudah terlalu banyak cuti. Ini perusahaan orang lain mom, bukan perusahaan keluarga. Hehe,’’ alasan yang sangat masuk akal, mengingat Tiara karyawan biasa, bukan seseorang yang dianggap pentint di kantornya yang bisa semena-mena. Ingin rasanya Clarissa meminta menantunya itu resign.
Hening …
‘’Maaf mom, bukan begitu. Kalau tadi lokasinya Cuma sekitar Indonesia, aku bisa mengusahakannya curi-curi untuk hilang sehari. Tapi ini lagi-lagi luar negeri. Pasti memakan waktu banyak,’’ jelas Tiara. Bagaimanapun juga ia tidak ingin mertuanya merasa kecewa atas penolakan ini.
‘’Mommy harus memaksa kamu sayang. Mommy tetap kirimkan kamu uang. Jangan lupa bawa kado ya,’’ ujar Clarissa.
‘’Maafkan mommy Tiara. Mommy tahu kalian akan berpisah 4 bulan lagi. Mommy tidak ingin kehilangan gadis baik sepertimu. Segala cara akan mommy lakukan agar kalian bisa bersama. Mommy sudah jatuh hati padamu saat pertama kali melihatmu,’’ batin Clarissa.
Usai telepon tertutup, Tiara menghela nafas berat dan menempelkan ujung ponselnya diantara alisnya. Benar-benar memusingkan. Apalagi yang akan jadi alasannya untuk mengajukan cuti kali ini.
__ADS_1
Ternyata tanpa sengaja Ditto mendengar percakapan Tiara dengan mertuanya tadi. Syukur yang didengar di ujung-ujung cerita saja. Jadi saat ia menyebut nama James, Ditto belum sempat mendengar.
‘’Mau cuti lagi.’’ Ucap Ditto dingin dari belakang Tiara.
Tiara terkejut mendengar pertanyaan dari temannya itu dan segera berbalik. Dia langsung tersenyum karena Ditto mau berbicara lagi dengannya.
‘’Iya.. temen gue maksa gini mau rayain ulang tahun disana. Minta gue datang.’’ Jawabnya asal.
‘’Tapi tadi kamu bicara memanggil Mom,’’ selidiknya.
‘’Iya itu mommy-nya temen gue. Pan nggak biasa panggil aunty, cari yang simple aja Dit, gue ikutan deh panggil Mommy,’’ sahutnya sambil berjalan Kembali menuju ruanganny meninggalkan Ditto dengan berjuta pertanyaan di pikirannya.
***
Di sisi lain, Hans dilema karena Erina belum menjawab satupun pesannya kini. Dia merasa apa ada yang salah karena dirinya mengajak Erina bertemu di Australia bulan depan. Bukannya selama ini Erina selalu bilang kalau dia bahagia bisa berteman dengan dirinya. Kenapa sekarang malah mendiamkan Hans tanpa alasan.
‘’Apa dia sedang ada masalah pribadi ya..’’ Hans mulai menduga-duga.
Pikirannya kacau sedang ia harus kembali ke studio. Hanya satu yang bisa mengembalikan konsentrasi rekamannya kali ini. Yaitu satu balasan pesan dari Erina, bahkan kalaupun itu berisi penolakan tawaran untuk ke Sydney, Hans tetap akan senang.
James yang sedang di seberang telpon mengernyitkan dahi keheranan.
‘’Whats wrong..’’ tanyanya.
‘’Ini soal Erina,’’ jawabnya lagi agar James tidak terlalu banyak bertanya. Nggak enak kan Hans kalau di kepoin. Lah situ kalau kepoin James juga nggak ketolongan.
‘’Ada masalah apa? Jangan bilang kau sudah jatuh hati dengan gadis Indonesia itu,’’ James mulai memancing Hans.
Hans yang memang perasaannya sedang tidak baik segera mematikan sambungan telponnya daripada mendengar ledekan James dalam kondisi hati yang berantakan.
📲 ‘’Tir, sesuatu tampak terjadi antara Hans dan Erina. Pastikan dulu dengan Erina ada apa, karena sekarang Hans meminta nomor kamu tapi aku masih nahan ini. Kalau sudah dapat lampu hijau baru aku akan kasih ke Hans.’’ Ucap James. Sesaat setelah Hans menutup telpon ia langsung menghubungi sang istri.
📱 ‘’Sudah. Kasih aja nomor aku sama Hans. Aku janji gak akan ikut campur kok. Kamu khawatir aku bergosip kesana kemari. Tenang James, aku sama Erina berada di kota yang berbeda kok,’’ jelas Tiara pada suaminya.
📲 ‘’Baiklah,’’ sahutnya pasrah.
.
__ADS_1
.
Kini Bas sudah berada di kantor Monica usai janjian kemarin. Mereka akan bertemu lagi dan sekedar bercerita. Pekerjaannya sudah di kerjakannya, gasspoolll dari semalam hingga pagi tadi, jadi yang seharusnya dikerjakan siang ini sudah berkahir jam 10 pagi tadi.
Sekarang saatnya menjalankan misi kedua.
Bas diajak Monica ke ruangannya. Artis yang Monica tangani hanya syuting reality show saja hari ini dan sudah ditangani oleh asisten lain.
Usai bercengkrama cukup lama sambil menyantap cemilan yang Bas bawa dari luar. Kini Bas minta dibawa berkeliling kantor lagi. Masih memakai trick kemarin, mungkin aja bisa Kembali bertemu dengan Bella dengan kondisi tertentu.
Namun sayang seribu sayang, selama menyusuri lantai demi lantai dan koridor demi koridor, ia tidak mendapatkan Bella di sana. Namun jangan khawatir, para penguntit yang mencari tahu keberadaan Bella kini mengetahui sekarang Bella sedang berada di apartemennya bersama dengan Darren.
‘’Sial. Lagi-lagi kita harus terjebak. Entah apa yang mereka inginkan dengan mempermainkan James seperti sekarang. Saatnya cari tahu dengan Monica tentang petinggi mereka,’’ batinnya kesal.
‘’Mon, siapa sekarang direktur kalian. Apa sama dengan yang direktur Bella..’’ tanya Bas seolah cuek, mau dijawab bagus, kalau tidak juga yaa masih ada seratus cara menuju Roma.
‘’Cih. Sama saja Bas. Kenapa.. apa kau mencurigai sesuatu..’’ tanyanya.
‘’Curiga tentang apa Mon. Ada-ada saja kau. Kalaupun ada apa-apa pasti kau yang lebih tahu,’’ jawabnya malas.
Monica tampak seperti tersenyum mengejek pada Bas. Tapi gimana lagi, ingin rasanya dia juga membuka kedok Bella sekarang pada temannya yang ada didepannya ini namun karirnya akan menjadi taruhan di masa depan.
Akhirnya Bas pamit pulang. Dia tidak mengajak Monica bertemu besok. Sedang ada yang direncanakannya agar ia bisa kembali memasuki kantor Pillow Tosca.
.
‘’Apa yang kalian dapatkan..’’ tanyanya pada penguntit bayarannya.
‘’Maaf bos. Tidak ada celah yang bisa kami lewati untuk memasukkan 'lalat'. Bahkan kamar di lantai yang ditempati Bella sudah full sehingga kami tidak bisa menyewa kamar dan menerbangkan lalat dari jendela kamar sebelah. Apalagi keamanan apartemen disana sangat tinggi,’’
‘’Baiklah. Terima kasih atas kerja kalian. Besok ayok kita berusaha lebih keras lagi,’’ pintanya.
BERSAMBUNG…
Apa ya rencana Bas berikutnya.
Semangat yaa Bas, biar author juga semangat nulis kelanjutannya.. hehe
__ADS_1