
“Kami berpacaran, Rin.. Sedangkan Bella nanti aku jelaskan yaa.. Sekarang kau keluar dulu, aku belum cerita dengan James soal lamaran dan sekarang dia mendengar dari kamu,” Tiara membawa tubuh Erina pelan menuju pintu kamar agar sahabatnnya itu meninggalkan kamar.
Jantung Tiara mau lepas, saat hendak kembali ke tempat James berdiri sekarang dengan tatapan yang penuh Tanya tentang apa yang baru saja dia dengar dari Erina.
“Siapa yang dilamar siapa?” tanyanya dengan pancaran aura dingin.
“Tenang tir, tenang.. laki elu manusia biasa gak makan orang kok,” Tiara berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku yang dilamar dengan temanku di kantor dan temen di kampung,” ucap Tiara santai.
Mau apa lagi sekarang? Disembunyikan? Untuk apa, toh memberi tahu James soal dia dilamar tidak akan merubah apapun saat ini.
“Terus kamu terima?” lanjut James.
Tiara diam sejenak hingga ponsel Tiara berbunyi dan Clarissa yang menghubungi dan mengatakan dia sudah menunggu menantunya di lobby.
“Mommy udah di lobby James, ayok kita berangkat. Akan aku jelaskan nanti setelah pulang dari acara. Di kamar kamu ya, kalau disini ntar keburu Erina datang,” Tiara berbicara sambil mengambil tas kecilnya dan memasukkan beberapa perlengkapan untuk dibawa ke resepsi sepupu James.
***
Balutan dekorasi sebuah ruangan yang di dominasi warna putih dan gold di hotel yang berada di pusat kota Roma dipenuhi tamu undangan. Sungguh elegan. Tidak terlalu mewah seperti dekorasi yang biasa terjadi di kalangan atas orang Indonesia.
Tidak terlalu banyak bunga dan kain panjang diatap ruangan itu. Hanya sekedar jejeran meja yang diberi taplak berwarna putih seirama dengan kain penutup kursi, namun bedanya kursi di berikan pita berwarna gold.
Tidak ada pelaminan sekarang, Tiara merasa aneh karena ini pertama kalinya dia menghadiri acara pernikahan tapi tidak ada pelaminannya. Memang sebelumnya ia pernah membaca suatu artikel tentang budaya pernikahan western, tapi tentu saja kali ini membuatnya kaget.
“Nanti pengantin yang akan mengelilingi meja tamu dan berterima kasih kepada semua tamu undangan. Tradisi keluarga kami begitu,” jawab Denada saat melihat wajah iparnya kebingungan sehingga ia spontan menjelaskan pada Tiara.
Kini meja yang mereka tempati berbeda dengan meja tadi siang yang berbentuk bulat, sekarang berbentuk persegi panjang. Jadi satu meja bisa berisikan 20-25 orang. Tentu saja, Tiara memilih tempat aman untuk duduk dekat dengan Tom dan Denada.
“Andai aku tak punya rasa malu, ingin rasanya aku izin duduk diantara Tom dan Denada,” batinnya karena ingin menghindar dari serangan Edward seperti siang tadi.
Bukan tanpa sebab, pasalnya selisih 5 orang dari tempatnya duduk sudah ada Edward yang memberikan tatapan mengerikan pada Tiara, namun Tiara seakan-akan tidak melihatnya.
__ADS_1
“Duduk disampingku James,” Tiara menahan tangan James yang hendak terus berjalan dan seperti tidak akan duduk disisinya padahal ada kursi kosong disana.
James kaget dan menoleh melihat lengannya yang dipegang sang istri dengan heran. Lalu melihat wajah istrinya yang sedikit menampakkan kegugupan.
“Please,” ucapnya lagi melihat James tidak merespon permintaannya.
Hans yang berada disamping James merasa iba melihat Tiara seperti ketakutan begitu.
“Pergilah kesana, aku akan menemani temanmu,” usir Hans dan segera menuju kursi kosong disebelah Tiara. Padahal awalnya Hans dan James akan duduk dengan sepupu James lain yang usianya sebaya dengan mereka.
“Kau yang kesana Hans, ini tamu Mommy-ku,” ucapnya sambil menarik bahu Hans yang sudah hampir meletakkan paantaatnya di kursi kosong tersebut… wkwk ciee ada bakat-bakat nihh….
“Thank you, my husband,” bisik Tiara sambil malu-malu. James maahhh datar doang gak berkata apapun.
Syukurnya selama acara berlangsung tidak ada gangguan dari Edward ataupun Roland karena dia benar-benar duduk ditengah keluarga James. Sebelah kanannya James, kirinya Denada dan didepannya Ben dan Clarissa. Jadi gak ada peluang.. yuhuu..
.
.
Tom dan Denada memilih berjalan berduaan di Via del Corso setelah James izin memakai kamarnya untuk berbicara empat mata dengan istrinya.
“Jadi kamu menerima lamaran temenmu?” tanpa basa-basi James langsung bertanya pada Tiara sesaat mereka sampai di kamar Tom.
Tiara Cuma menghela nafas. Dia juga bersalah tidak memberitahu suaminya. Tapi untuk apa juga, kan suaminya sibuk dengan Bella lagipula pernikahan seperti apa yang mereka jalani kini. Tiara pun masih ingin berjuang, gak bisa dipungkiri hati kecilnya memang mengagumi James sebagai idola sejak dulu… yatapi gak gitu jugaa oonnnn… kzl author sama Tiara.
“Mau dibilang cemburu, tapi gak mungkin. Mau dibilang biasa aja, tapi kok wajahnya serem gini niih anak,” batin Tiara.
“Nggak,” sahutnya malas.
James Cuma diam menunggu penjelasan lebih lanjut dari Tiara. Sayangnya Tiara juga diam saja, gak ada niatan mau menjelaskan pada suaminya kenapa dia menolak lamaran temannya. Dua orang lagi..
“Kenapa?” akhirnya terucap juga.
__ADS_1
“Karena aku istrimu..” jawabnya lirih sambil tertunduk.
James merasa terhantam mendengar jawaban dari istrinya. Segitunya kah Tiara menghargai dia sebagai suaminya? Sedangkan dia asyik bermesraan dengan Bella tanpa henti. James terdiam, hati kecilnya merasa senang dengan sikap Tiara, tapi disisi lain dia juga merasa sakit atas perilaku Tiara yang membatasi ‘ruang geraknya’ karena alasan istri dari James.
“Aku bilang menikahlah kalau kau ingin. Tak perlu memikirkan aku. Berbahagialah,” ada yang perih tapi bukan luka basah terkena air jeruk saat James menyebutkan kata-kata itu.
Tiara tidak menyahut, dirinya terlalu bingung dengan keadaan sekarang hingga menangis pun tidak mampu. Sampai akhirnya James mengajaknya keluar kamar dan kembali ke kamar masing-masing.
Saat sudah berada di lantai 2 kamar Tiara berada, James juga hendak keluar lift guna mengantar sang istri solehah-nya ke kamar, namun Tiara menepis dan bilang dia baik-baik saja.
Sesampainya di depan kamar, benar saja pilihan Tiara yang meminta James untuk tidak mengantarnya karena sudah ada Erina bersandar di depan pintunya.
“Dasar jiwa-jiwa intelnya keluar nih anak. Nyesal gue didik dia dulu,” gumam Tiara.
“Udah penasaran banget nih shaaayyyy sama kisah eke,” ujar Tiara sambil membuka pintu kamarnya.
“Cus ceriwis. Kok bisa kau pacaran sama James? Yaa dewa amor apa yang terjadi sama tirtirku.. udah ngapain aja kau sama dia? Ciuman sudah belum?” bukan main nih anak mulutnya perlu dibeliin gembok SMA dulu kali ya.
Gimana rinrin gak histeris, dia tahu betul bagaimana dia sohibnya menyukai James dulu. Gak tau sekarang.
Tiara tidak menyahut sibuk membuka aksesoris dan jilbabnya, membiarkan Erina terus pensaran. Kesenangan tersendiri emang kalau buat orang lain penasaran mendalam tuhhh…
“Tir jawab dong tir. Jangan sok misterius deh. Bisa gila aku penasaran kayak gini,”
“Kalau aku bilang aku sudah nikah sama dia, kau percaya nggak?” tirtir sok memberi teka-teki.
“JELASNYA NDAAAKKKK” umpat Erina kesal…
Wkwkwkwkwk ….
BERSAMBUNG….
SABARRR
__ADS_1
Tiara gak emberan kayak Erina kok mulutnya ....