
Kini seluruh makanan yang dipesan sudah terhidang di meja yang mereka tempati. Meski ini adalah pengalaman makan keluarga pertama dengan keluarga James yang lengkap, tetapi setelah mendengar penuturan James barusan kepadanya membuat Tiara merasa kehilangan selera makan.
Ya mau gimana, James sudah cukup melukainya melalui verbal kali ini. Untung saja tadi sudah makan di hotel sehingga sekarang masih lumayan terasa kenyang. Hingga makanan yang di pesan Tiara bahkan berkurang tidak lebih dari seperempatnya.
James yang melihat hal itu merasa bersalah. Hati kecilnya sungguh meronta menyuruhnya meminta maaf pada istrinya. Dia sendiri heran kenapa dia bisa mengucapkan itu, padahal kondisinya lagi mesra-mesraan banget loh. Ben dengan Clarissa, Denada dan Tom, Hans dan Erina, sedangkan dia? Ada istri disebelahnya tapi gak dimanfaatin, kan eman.
“Sorry” ucapnya berbisik kearah Tiara.
Tiara hanya tersenyum tapi tidak dengan hatinyaa… huhu sensitive banget sih.
“Pliss jangan sekarang, jangaaannn” Tiara seakan berbicara pada airmatanya agar tidak tumpah seenaknya.
“Tirtir ini enak loohh¸cobain sih,” pinta Erina sambil menyodorkan sendok yang berisi potongan dessert terbaik di café itu.
Tiara pun menerima suapan sahabatnya yang berada didepannya itu. Dan seketika membulatkan matanya.
“Enak bangeett,” ucap Tiara setengah berteriak hingga ia tersadar dan menutup mulutnya sendiri.
“Tau aku tuh kamu suka coklat, makanya pas rasain ini langsung aku suapi. Pesen sana, kapan lagi kita kesini,”
Waduh, enak banget tuh mulut Erina nyibirin suruh Tiara pesan seperti yang dia makan, lah harga dessertnya satu piring kecil bisa beli es dawet satu bath tub di Jakarta.
Karena makan sambil terus nyerocos yang ada tuh coklat yang Erina makan behambur kemana-mana di sekitar bibir dan pipinya.
“Pelan-pelan kalau lagi makan jadi gak berantakan kayak gini. Kalau mau ngomong, ya ngomong aja dulu atau selesaikan dulu makannya baru ngomong,” Hans menegur Erina agar bisa bersikap sedikit sopan karena ada Ben dan Clarissa di meja mereka. Tidak lupa Hans mengelap area bibir Erina menggunakan ibu jarinya dengan lembut dan teliti sehingga membuat Erina dan Tiara bertatapan sambil melongo.
“Gilak. Gimana gue negurnya nih. Astaga kita aja gak pernah seintim ini sama siapapun dari sekolah dulu,” Tiara memukul kepalanya pelan sambil mengumpat Hans dalam Hati.
“Lucu banget nih cewek,” batin Hans.
“Jantungku tolong, calm down, okey, calm down. Everything gonna be okay,” Erina mencoba menetralkan gugupnya.
__ADS_1
Clarissa dan Denada tertawa melihat interaksi mereka bertiga. Mereka paham apa yang dilakukan Hans sedikit berlebihan bagi Tiara dan Erina, tapi bukankah waktu tak bisa diulang? Yang terjadi ya sudah tidak bisa dikembalikan lagi.
Ternyata diam-diam James memperhatikan semuanya. Akhirnya James angkat bicara.
“Makanlah dan bicara secukupnya. Hans bisa melakukan lebih daripada yang tadi kalau kamu tidak berhenti ngomong ngelantur,” seru James pada Erina dan membuat Erina kicep dan Hans hanya menghela nafas berat.
Ben pun memilih mencairkan suasana dengan mengajak Tiara mengobrol ringan tentang pekerjaan, gimana dia selama di Jakarta apa ada kendala atau tidak, kapan mau ke London atau Swedia lagi untuk jalan-jalan. Sengaja tidak membahas soal suami istri karena ada Erina disana.
Tampaknya Clarissa paham dengan akting Tiara saat dia mengatakan ada pekerjaan penting yang tidak bisa ia tinggalkan selama enam bulan.
“Tiara bilang kalau urusannya kelar di Jakarta dia segera ke London, honey.” Clarissa mencoba menerangkan pada Ben dan Ben hanya mengangguk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5.10 menit hingga mereka memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersiap ke acara resepsi sepupu James lagi.
“Bakal menjadi hari yang menyebalkan ketemu dengan Edward dan Roland lagi,” gumam Tiara sambil memutar bola matanya dengan malas dan perlahan beranjak dari kursi café itu.
***
Saat hendak memilih jilbab untuk digunakan, bel kamar Tiara berbunyi dan Erina si pembuat onar-lah yang sedang berada didepan sana.
“Ganggu deh. Ku bilang ntar malam juga baru kesini,” sewot Tirtir.
“Gaya elu. Kapan lagi kita ketemu kayak gini. Elu sih gak mau cari kerjaan di kampung. Sok banget pakai acara merantau lagi. Enak kali di kampung bisa ngumpul sama kita-kita,” keluh Erina yang merindukan Tiara, karena selain satu sekolah sejak SMP, mereka juga satu tempat tinggal waktu kuliah di Malang dulu.
“Ya piyee? Belum ada perusahaan di kampung kita yang menjanjikan upah seperti perusahaan gue sekarang. Bantuin pilih jilbab dong,” pinta Tiara.
“Ini,” rinrin mengambil satu jilbab yang akan dipadukan dengan long dress navy yang Tiara kenakan dan penuh dengan permata di bagian dada dan pergelangan tangan. Sangat elegan, apalagi jilbab yang dipilihkan Tiara berwarna biru langit. Sempurnaaa…
“Tir, apa hubunganmu sama keluarga James. Buset kalau dipikir, bukan main dulu kau idolakan dia. Tiap hari dengar lagunya, cek konsernya dimana, ada gak tempat konser terdekat yang bisa kau sambangi, tau-taunya tadi kau jalan sama keluarganya? Kekonyolan macam apa ini Tir?” kepo Erina.
“Mampus. Nih bocah gak bisa di bohongi lagi.. aahh gak gak, gue bisa akalin dia. Jangan sampai gue gak punya pilihan lain,”
__ADS_1
“Nggak percaya banget sih sama aku. Udah aku jelasin tadi siang juga. Aku yang nolongin Nyonya Clarissa saat dia ditikam. Kan kemarin aku sudah ngomong, aku ada liburan ke London. Jangan sok lupa elu, paling bacot juga di grup chat minta oleh-oleh,” elak Tiara.
“Yaa sih percaya. Tapi apa iya Cuma sebatas ditolongin, eh elu diundang ke acara keluarga seperti ini pula. Gak masuk akal aja sih menurut eike,” Erina masih terus bertanya sampai hatinya puas.
Ttinggg…nongg…..
“Bukain tuh, mungkin jemputan elu. Gue ke kamar mandi dulu,” Erina berlalu ke kamar mandi dan Tiara segera membuka pintu….
Dan
.
.
James langsung masuk dan duduk di kursi meja rias Tiara sambil membelakangi pintu kamar mandi. Menatap istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Kenapa malam ini kecantikan istriku naik drastis ya? Gak salah kamar kan aku?” James bertanya dalam hatinya.
“Kenapa James?” Tanya Tiara heran mengapa James tiba-tiba ke kamarnya.
“Malam ini tamu akan lebih ramai daripada siang tadi. Jangan berjauhan dengan Mommy, Denada, Tom atau aku. Kalau tadi siang kamu hanya di ganggu Edward dan Roland maka sebentar akan ada Edward-Edward lain atau Roland-Roland lain. Aku gak mau kerepotan kalau kamu hilang dari jangkauan kami. Dan aku 100 persen yakin kamu gak lupa kan status kamu sekarang?” cerca James dengan tatapan mengintimidasi.
“Tanpa kau minta aku sudah tau James,” jawab Tiara.
“Apa hubungan kalian?” Erina langsung keluar kamar mandi segera setelah menguping pembicaraan James dan Tiara secara tidak sengaja. Tadinya dia sudah mau keluar tapi namanya Erina mana bisa kalau gak kepo urusan orang lain dulu.
“Eee..mmmm… kami……” Tiara gak bisa meneruskan kata-katanya.
“Tir, jangan bilang dia alasan kamu menolak lamaran Ditto dan Refal?” Tanya Erina dengan ketus sambil menunjuk James.
“Lamaran?” James bertanya pada kedua sahabat itu dengan alis yang hampir menyatu….
__ADS_1
BERSAMBUNGG…….