Terpaksa Menikah Dengan Artis

Terpaksa Menikah Dengan Artis
Cafe Sore


__ADS_3

Pucuk dicinta ulam pun tiba. James kembali melewati lobby untuk mengambil barangnya yang ketinggalan di mobil.


"James," panggil Erina.


James menoleh dan berjalan ke arah mereka.


"Jangan macam-macam Rin," bisik Tiara.


"Temanku nih fans beratmu, peluk dulu dia seperti Hans tadi memelukku," Erina meminta dengan senyum-senyum mengolok.


James dan Tiara kini bertatapan dan Tiara menggeleng pelan sebagai kode jangan lakukan itu. James menatap istrinya heran sampai Erina dipanggil tour guidenya untuk kembali ke kamar.


"Erina, bersiaplah 30 menit lagi kita akan berkeliling. Simpan barangmu dikamar," pinta sang tour guide.


"Baiklah. Tir, ku tinggal dulu ya. Selfie yaa kirimin aku. Kapan lagi," gombal rinrin sambil mengedipkan sebelah matanya dan berjalan menuju rombongannya.


Kruukkkkk.... suara dari perut Tiara berbunyi menandakan kalau ia sedang lapar. James pun mendengar suara itu.


"Astaga nih bocah kelaparan.. Salahku nih kalau istri belum makan?" batin James.


"Kembalilah ke kamar," suruhnya pada Tiara.


Sedangkan dia keluar untuk mengambil barangnya di mobil. Tidak hanya itu, ternyata James minta diantar ke restoran ayam goreng cepat saji terdekat.


Demi mengurangi kerubutan fans dengan penjagaan yang minim, ia memilih untuk memesan melalui drive-thru. Cukup banyak yang dia pesan hingga bodyguard yang merangkap sebagai supirnya itu heran untuk apa semua makanan itu.


"Kenapa banyak sekali?"


"Sudah tidak apa-apa. Nanti aku akan bagi padamu dan temenmu juga," ujar James. Sengaja ia membeli banyak dengan niat akan di bagi dengan bodyguard, pelayan hotel dan siapapun nanti yang akan dia temui.


Sesampainya kembali di hotel, ia segera menaiki lift dann yang ditekannya bukanlah tombol angka 5 dimana kamarnya dan Hans berada tetapi tombol angka 2, letak kamar sang istri.


tookkk...tookk..tokkk


"siapa nih ngetok kamar gue?" Tiara kaget.


Setelah mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu dan melihat raga sang suami didepan sana, ia segera membuka pintu.


James langsung masuk tanpa dipersilahkan dengan paperbag yang berisi makanan ditangan kanannya.


"Makan ini. Kenapa perutmu bunyi tadi? Sudah berapa lama kau tidak makan?" cerca James sambil berjalan ke kursi hotel yang ada di kamar Tiara.


Tiara yang memakai baju kaos setengah lengan dan celana katun panjang hanya menghela nafas melihat tingkah suaminya yang seenaknya masuk ke kamarnya. Yaa mau gimana, diusir juga gak mungkin karena sudah sah.

__ADS_1


"Kenapa masih disana? Kau tidak menghargai usahaku?" tanya James lagi membuyarkan lamunan sang istri.


"Iyaa James.. Aku cuci tangan dulu," jawab Tiara lembut.


Setelah membongkar paperbag, Tiara sedikit kecewa karena tidak ada nasi.


"kalau aku nanya nasi lagi yang ada dia ngomelin aku.. makan ini aja dulu deh. kenyang atau nggak urusan belakang," Tiara bicara dalam hati.


"Cepat makan," nada bicara James sudah meninggi.


Tidak sampai 15 menit, 1 potong ayam, 1 kentang goreng dan 1 burger ludes dilahap Tiara.


James tersenyum melihat istrinya kekenyangan.


"Kau makan tidak hati-hati. Sekarang lihatlah kau kekenyangan. Apa Mommy gak bilang ntar sore jam 4 kita akan pergi makan bersama Tom dan Denada?"


Tiara menggeleng sebagai tanda dia tidak mendengar kabar itu dari Mommy....


"Istirahat dulu. Masih ada waktu 3 jam untuk kau kembali mengosongkan perutmu. Aku akan kembali ke kamar,"


"James," panggil Tiara dan membuat langkah James terhenti.


"Terima kasih," ucap Tiara malu-malu sambil menunduk dan hanya dibalas senyuman oleh James tapi sayang Tiara tidak melihat senyuman itu.


"Aahhh malunyaaa. banyak banget aku makan didepannya," pipi Tiara memerah mengingat kejadian barusan.


Tiga jam berlalu dan kini Tom, Hans, Denada dan James sudah di perjalanan menuju cafe kecil yang letaknya sekitar 15 menit dari hotel mereka. Clarissa dan Ben sedang di lobby menunggu Tiara.


"Sorry Mom, aku ketiduran," nafas Tiara ngos-ngosan seperti habis lari marathon 10 km sambil menghampiri Clarissa.


"Aduh sayang kasihannya sampai begini larinya. Lain kali kalau lambat gak perlu lari gini ya.. Ayo masuk mobil," jawab Clarissa sambil mengusap bahu menantunya. Tiara hanya menjawab sambil senyum dan mengangguk.


Ben duduk disamping kursi kemudi dan Clarissa Tiara duduk di belakang. Saat hendak menutup pintu mobil, tiba-tiba Erina menghampiri mobil mereka.


"Tirtir, mau kemana?" tanyanya.


"Cafe bentar. Tunggu aku diatas yaa," sahut Tiara.


"Ikut dongg," rengek Rinrin...


"Jangan rin. Nanti aku yang traktir deh.. Aku diajakin juga nih sama mereka," Tiara dilema, bagaimanapun dia tidak sampai hati meninggalkan rinrin sekarang.


Tapi ini juga privasi keluarga, mau gimana lagi, sangat bahaya kalau dia menerima permintaan si rinrin...

__ADS_1


"maafin aku rin, gak bisa ngajak kamu," batinnya.


"Naiklah. Dia temanmu kan?" suruh Clarissa.


Dan rinrin langsung naik ke mobil dengan kegirangan sambil berterima kasih dengan Clarissa.


"Makasih Ontyyyyy. Onty siapa namanya? aku Erina.."


Duhhh PD banget nih anak pakai acara ngenalin diri sendiri lagi.. Mobil mereka pun berjalan dan diisi dengan kehebohan rinrin yang terus menatap takjub susunan kota Roma sehingga mengundang senyum Ben dan Clarissa.


Sesampainya di cafe tempat mereka janjian, James memilih duduk rooftop lantai 3 agar tidak menganggu privasinya dan keluarga. Kini tempat duduk yang tersisa hanya di samping James dan Hans yang duduk berhadapan.


Sedangkan Ben dan istrinya sudah disiapkan tempat duduk disamping Denada. Tirtir langsung mengarah ke kursi disamping Hans.


"Tiara," panggil Denada dengan tatapan yang berbicara 'jangan duduk disana'.


"Sorry," jawabnya dan pindah duduk disamping sang suami. Dih, suami apaan kayak si James gini. Pen sentil deh. Akhirnya Erina yang duduk disamping Hans.


"Gugup nih duduk samping idola. Sampai merah wajahku rasany karena malu," goda Erina pada Hans padahal dia tidak kenapa-napa tapi jadi Hans yang wajahnya memerah karena gombalan receh rinrin.


"Pesanlah makanan kalian, Tiara, Erina," suruh Ben.


"Baiklah uncle karena aku sudah lapar bangett dan ingin mencoba berbagai makanan di Roma maka aku akan memesan sebanyak mungkin," bibir rinrin terus menjawab sambil mata yang tak lepas dari buku menu.


Emang si rinrin kalau sudah soal makanan ~~ sukasuka hatinya dia aja udah.


"Gak ngerti ah, aku ikut kau aja tir," rinrin menyerah karena tidak ada tulisan yang dia pahami disana.


Hans tersenyum dan bertanya dengan hangat.


"Makanan seperti apa yang kau mau? pasta? makanan manis atau pedas?" tanyanya pada Erina.


"Aku mau yang pedas, yang manis, dessert yang paling baik di cafe ini, sama minuman rekomendasi yang non kopi," Erina semangat menjelaskan pada Hans..


Tiara melihat itu dengan tatapan dalam...


"Mereka saja yang baru kenal beberapa detik sudah di treat sebaik itu dengan Hans... Sabar tir, sabar... Ingat mertua elu baik banget sama elu " batinnya... uuuu kasihan...


"Jangan pernah berpikir aku mau berlaku seperti perlakuan Hans pada temanmu sekarang?" ketus James yang melihat Tiara memperhatikan interaksi Hans dan Erina yang tertawa dan ngobrol bareng asyik berdua...


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Yaa gimana James.. wanita juga mau disayangsayang :((((


__ADS_2