Terpaksa Menikah Dengan Artis

Terpaksa Menikah Dengan Artis
Menuju Resepsi


__ADS_3

MINAL AIZIN WAL FAIZIN


SEMOGA SEMUA READERS KEMBALI FITRAH DAN SUCI.. AMAL IBADAH SELAMA BULAN RAMADHAN DITERIMA ALLAH SWT❤


Jangan lupa like dan ingat-ingat kolestrol besok ya 😉


...


Air mata Tiara menetes begitu saja.


“Kenapa baby? Kamu tidak setuju?” James bingung sendiri.


Tiara menggeleng lemah.


“Lalu?”


Tiara tidak menerangkan alasan dia menangis, dia cuma mengatakan semuanya terserah James saja untuk menentukan semuanya, mulai dari konsep, pakaian mereka, kapan, dan sebagainya.


Sebenarnya alasan utama yang membuat Tiara menangis ialah karena kurang sepakat dengan keinginan James yang membuat resepsi besar-besaran di kampungnya. Selain memakan biaya besar, akan memakan waktu juga. Lelah pasti. Padahal ia sudah berterima kasih kepada Tuhan sudah memberikannya suami bule yang ‘seringnya’ tidak terlalu heboh meriah jika mengadakan hajatan.


Tapi, dugaannya salah. Kini James yang paling antusias. Bukan tanpa sebab, dia tahu kondisi mertuanya yang kurang baik. Orang dari kalangan biasa-biasa saja apalagi kini sedang sakit-sakitan. James pernah merasa di posisi seperti keluarga kecil Tiara rasakan.


Tidak dipedulikan oleh sekitar karena keterbatasan materi. Yaa namanya juga hidup, jalan tol aja ada bolong-bolongnya tak selalu mulus.


Beberapa hari kemudian James mencari tahu tentang Wedding Organizer terbaik Indonesia, dia berencana mendatangkan MUA yang biasa menangani artis papan atas seperti Miranda Kerr, Elizabeth Olsen atau bahkan Beyoce. Lebay memang tapi itulah dia.


“Baby, kita cetak undangan disini saja ya.. oh dan tolong minta sama mertuaku untuk carikan layanan cathering terbaik untuk acara kita..”


Tiara cukup jengah dengan kemauan James tapi alasan sang suami untuk memeriahkan acara mereka adalah bentuk cinta dan kepeduliannya pada Tiara bahkan keluarganya.


“Sayanggg…” rengeknya dengan manja.


“Kamu gak beli baju buat bridesmaid kamu? Besok aku temenin carikan mereka baju yaa..”


Tiara tidak menanggapi. Dia bingung angin darimana James paham betul seluk beluk acara di Indonesia? Apakah dia mencari tahu sedetail itu, aduhai rasanya tidak mungkin. Ingin bertanya tapi yasudahlah, kecerdasan James memang tampaknya jauh diatas Tiara.


“Kapan acara Erina? Ayok hadiri dulu sambil kita lengkapi yang bisa dicicil.”


“Dua minggu lagi,” jawab Tiara.


“Oke. 2 hari disana, 2 hari di perjalanan, dan 2 hari di Jakarta.” Planningnya sendiri.

__ADS_1


“Kamu gak punya waktu sebebas itu James…” sangkal Tiara.


“Udah.. gak perlu khawatirkan aku. Aku yang paham langkah apa yang harus aku ambil. Nggak mungkin aku nggak tanggung jawab, buktinya dengan keadaan kita sekarang,”


“Iya iyaa.” sahut Tiara pasrah.


Dari perdebatan mereka waktu itu, kini sudah seminggu full James hanya berada di rumah pada saar malam hari untuk istirahat. Dirinya sibuk untuk promosi kesana-sini, stasiun TV, majalah, radio dan segala bentuk media lainnya.


Tiara memaklumi kesibukan suaminya. Sekalipun ia tidak mengeluh karena nafkah bathin masih James berikan meski durasinya tidak panjang.


Ceklek.


Pintu terbuka. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.


James mendapati Tiara tertidur di sofa ruang tamu karena ingin menyambut James ketika datang tapi kenyataannya berbeda. James hanya mendegus kecil dan mengangkat tubuh istrinya untuk dibawa ke kamar mereka di lantai 2.


“Baby bangun dulu. Ngomong dulu yuk… penting,” James mengecup kening Tiara sambil mengelus pipinya membangunkan sang istri.


“Mmmhh…” Tiara menggeliat merasa ada yang menganggu tidurnya.


“JAMES,” kagetnya dan langsung terduduk untuk mengumpulkan kesadarannya.


“Kaget gituu, minum dulu ni,” James mengambilkan gelas di nakas dekat ranjang mereka.


“Tanggal yang kita tetapkan untuk resepsi bulan depan sudah diambil EO untuk tour perdana band. Setiap keluar album memang dua sampai tiga bulan kemudian kami ditawari untuk tour dunia. Karena dalam perjanjian kami dengan agensi ‘harus bersedia kapan saja’ maka untuk menyepakati hal seperti itu tidak perlu izin kepada kami berempat dulu,”


“Lalu..” jawab Tiara dengan helaan nafas pelan. Ia mengerti arah bicara suaminya.


“Waktu kita tinggal tiga minggu baby dan nggak mungkin kita melakukan resepsi di waktu-waktu akhir. Setidaknya dua minggu lagi kita harus segera merampungkannya,” James ajak Tiara bertukar pikiran.


Yaa gimana yaa bund. Souvenir yang bernilai fantastis udah dipesan, undangan udah dipesan (tinggal rubah tanggal), baju bridesmaid sebanyak 10 lembar yang merupakan gaun dari merek-merek hitz seharga 10 juta per baju udah dikirim ke rumah Tiara, sisa baju Tiara dan baju James lagi yang perlu dikejar. MUA, ah nanti itu cari di Indonesia pun boleeh.


“Noo.” Tiara menolak.


“Baby, selesai tour itu bisa 5 bulan kedepan. Dan aku harus istirahat setelah itu, mengertilah.”


Tiara melihat wajah stress suaminya kini, belum lagi lepas lelahnya dari aktivitas berat beberapa hari ini ditambah harus menaklukan Tiara. Sungguh Tiara tidak tega dengan guratan kesedihan di wajah suaminya saat ini.


“Kalau gitu izikan aku pulang duluan untuk handle disana semuanya..”


“Besok kita bahas ya. Aku lelah..” James membaringkan tubuhnya dikasur seharga mobil itu untuk melepas penatnya dulu. Melanjutkan perbincangan dengan Tiara akan meningkatkan darah tingginya.

__ADS_1


Tiara ikut baring disamping James dan…. Menarik James ke pelukannya, upss lebih tepatnya ke tengah dadanya… James pun membalas Tiara dengan memeluknya dan semakin menenggelamkan wajahnya di antara dua bola itu.


“Berapa kali harus aku ingatkan jangan pakai bra dan pakai baju terbuka bagian dada kalau mau tidur…” lirih James. Dia senang membuat Tiara kenikmatan dengan menggesek-gesekkan rambut halus disekitar dagunya di dada polos sang istri.


Tiara pun senang sebenarnya dengan posisi tidur mereka yang hampir setiap malam seperti itu, menempelkan James diantara bolanya. wkwk.


“Sorry, tadi nunggu kamu dibawah. Yasudah aku ganti baju dulu yaa.” Tiara akan beranjak.


“Tidak perlu. Buka saja kaos kamu nih. Ganggu banget,”


.


“James, tapi acara kita itu bertepatan dengan acara Erina juga…” Tiara membuka suara di meja makan saat sarapan.


“Gak apa-apa cari gedung lain.. jangan pulang sendiri ke Indonesia. Mudah-mudahan aku bisa izin 3-5 hari lagi lalu kita ke kampungmu sama-sama.”


“Iyaa. Setelah sarapan aku hubungi mommy buat kasih tau dia dan undang keluarga kamu.”


James mengangguk..


“Hari ini kamu nggak mau ikut aku keluar? Ayoklah sekalian latihan jadi sorotan publik,” tawar James untuk ke sekian ribu kali. Dia ingin membiasakan Tiara melakukan kegiatan sehari-hari didepan publik (untuk jaga-jaga kalau dia tidak bisa berada di kota yang sama).


Setelah mereka melakukan siaran langsung beberapa minggu lalu, Tiara belum sekalipun muncul didepan umum. Untuk pemilihan souvenir, baju bridesmaid, model undangan, semua dilakukan secara online atau layanan jemput-antar.


“Aku janji sama kamu aku akan menuruti permintaan kamu setelah kita melakukan resepsi..” jawabnya.


James hanya menghela nafas.


“Jadi tawaran majalah eksklusif waktu itu beneran gak mau nih? Hari ini batas terakhir kita kasih konfirmasi ke mereka loohh,” James mulai lagi…


Tiara menggeleng lemah sebagai jawabannya. Matanya terlihat sendu sedang memikirkan sesuatu.


“Kenapa baby?”


“aa..akuu… mm…”


“Kamu kenapa?”


“Aku merasa ragu dengan perasaanku.. aku merasa aku tidak pantas bagimu?” Tiara mengungkapkan isi hatinya selama tinggal bersama James belum sebulan lamanya ini…..


BERSAMBUNG………..

__ADS_1


Duh udah mau resepsi malah ragoe…


Njuk piye mbaknya??


__ADS_2