
Malam itu, disebuah bar yang berada di daerah ibu kota, seorang Gadis dengan pakaian minim mendorong meja besi berisi minum-minuman keras yang akan dia hantar ke ruang VVIP.
Gadis berambut panjang sebahu itu menggigit bibirnya, dia berharap nantinya dia tidak digoda-goda Pria berhidung belang, dia takut itu. Gadis itu bernama Kirana Larasati. Walau dia berkerja dibar seperti ini, dia tidak akan memberi kehormatannya pada Pria lain meskipun akan dibayar berjuta-juta bahkan bermiliar-miliar, dia tidak akan mau dan tidak akan rela karna hanya itu yang bisa dibanggakan sebagai seorang Gadis. Memiliki kehormatan.
Saat sudah berada didepan ruangan VVIP, Kira harus menghebus nafasnya berulang kali dan berdoa dalam hati semoga nanti dia bisa keluar dari sana dengan selamat tanpa godaan atau rayuan Pria-pria yang berada didalam ruangan itu. Ya, walaupun pekerjaan Kira hanya menghantar minum-minuman dan makanan tapi bisa sajakan malah dia yang digoda berhubung wajahnya tidak jelek-jelek amat.
Dengan ragu Kira membuka pintu ruangan VVIP itu namun matanya langsung melotot kala melihat salah satu Pria itu mulai membuka pakaian Wanita di pangkuannya dan lagi salah satu Pria yang hanya terdiam sendirian hanya menikmati pemandangan tersebut.
Mataku ternodai!
Pria yang bercumbu itu memberhentikan aktivitasnya ketika menyadari kehadiran Kira, si penghantar minuman berada diambang pintu dengan mata melotot.
"Hei, apa kau hanya berdiri disana saja?" tegur Pria itu membuat Kira tersadar.
"Ah, maaf tuan," Kira mendorong meja besi itu sampai di hadapan Pria-Pria itu lalu menaruh minuman keras itu di meja.
Kira terlalu fokus menaruh minuman-minuman itu sampai tidak menyadari bahwa seseorang yang duduk sendirian disofa single menatap Kira dengan tatapan berbeda.
"Hei, siapa namamu?" tanya Pria yang tadi bercumbu itu, dia menatap Kira dengan tatapan menggoda bahkan wanita tadi sudah ia lupakan.
"Udin, tuan. Nama saya Udin." jawab asal Kira, tidak peduli betapa begonya dia menjawab namanya adalah Udin.
Ketiga Pria yang berada diruangan itu tertawa renyah. Tidak, bukan ketiganya karna salah satunya hanya terus menatap Kira.
"Udin, bisakah kamu menemaniku malam ini?" Pria satunya lagi, Pria berpakaian santai yang baru membuka suara.
__ADS_1
Tuh kan! Hal yang ia takutkan akhirnya terjadi juga! Apa aku harus kabur dari sini aja?
Kira hanya menanggapinya dengan tersenyum kikuk dengan wajah ketakutan juga tentunya.
"Maaf tuan, sepertinya tidak bisa karna pekerjaan saya hanya menghantar minuman." tolak keras Kira.
"Bagaimana kalau kamu yang menemaniku?" Kira langsung menatap Pria yang duduk sendirian itu. Seketika dia terdiam, wajah dari Pria itu membuatnya terpesona walau hanya sebentar saja karna kemudian dia menatap Pria dengan mata melotot.
"Oh ya, sepertinya kamu yang lebih butuh dia untuk menemanimu." celetuk Pria berpakaian santai itu. Disebelahnya Wanita yang menemaninya menatap Kira tajam, kedatangan Kira menarik perhatian ketiga Pria itu padahal lebih menarik dirinya dari pada Kira dalam segala hal.
"Saya tidak menjual diri saya, tuan!" kata Kira setengah berteriak, dia menolak keinginan Pria tampan itu yang ingin Kira menemaninya.
Pria tampan itu menyeringai. Dengan tidak segan-segan Pria itu menarik tangan mungil Kira agar duduk. Bukan disebelahnya karna dia duduk di sofa single melainkan mendudukkan Kira di pangkuannya membuat mata Kira membulat seketika.
Kira merinding, perkataan Pria itu membuatnya benar-benar ketakutan. Lihatlah sekarang dia hampir saja menangis.
"T-tuan saya bukan penghibur," tubuh Kira bergetar ketakutan.
Pria itu tertawa renyah. Entah kenapa malah membuat Kira semakin takut.
Seharusnya tadi aku langsung lari saja!
"Siapa yang bilang kamu penghibur, hm? Aku cuma mau kamu menemaniku malam ini." ucap Pria itu setelah memberhentikan tawanya.
"T-tapi sepertinya posisi seperti ini membuat saya tidak nyaman."
__ADS_1
Tangan Pria itu membelai rambut sebahu Kira membuat Kira makin merinding. "Kenapa?" tanyanya.
"Karna kita bukan muhrim, jadi tidak sepantasnya saya berada dipangkuan anda." jelas Kira.
"Kamu mau aku menghalalkan mu, hm?" Kira menggeleng kencang.
Mana mungkin dia ingin dinikahi pria berhidung belang itu, tidak mungkin!
"Maaf tuan, saya masih kecil." Kira mencoba melepaskan diri dari pangkuan Pria itu namun Pria itu malah menahannya membuat Kira tidak bisa melepaskan diri.
"Tolong lepaskan saya tuan," pinta Kira.
Namun Gadis malang itu langsung membeku ketika bibir Pria itu menempel dileher jenjangnya. "Aku suka baumu, membuatku candu," bisik Pria ditelinga Kira.
"T-tuan saya mohon lepaskan saya," pinta Kira bahkan dia sudah meneteskan air mata.
Hal itu membuat Pria itu terdiam dan melonggarkan pelukannya di pinggang Kira.
Tidak ingin membuang kesempatan yang ada, Kira langsung melepaskan diri dari Pria itu dan berlari meninggalkan ruangan itu.
"Apa itu? Kamu membiarkannya pergi begitu saja?" tegur salah satu kliennya.
"Apa kamu mulai tertarik padanya?" timbal teman kliennya lagi.
"Cih!" decih Pria itu kemudian menyenderkan kepalanya disenderan sofa.
__ADS_1