
Di kantor pusat GM Groups.
Rendy memadang Nathan dengan tatapan menggoda. Dia ingin tahu bagaimana rasanya malam pertamanya dengan Kira. Dia bahkan meninggalkan pekerjaannya dan langsung datang ke ruangan Nathan hanya untuk bertanya tentang malam pertama
Menyadari terus di pandangi Rendy, Nathan mengangkat kedua alisnya. "Kenapa lo liatin gue, naksir lo sama gue?"
Rendy mengangkat sudut bibirnya. "Gue masih normal." ujarnya. "Gimana malam pertama lo? Lancar gak?" tanya Rendy.
Nathan mendekatkan wajahnya. "Ouhhhhh, gak lancar." jawabnya dengan wajah di buat-buat. Rendy tertawa seketika.
"Kenapa lo ketawa?" bingung Nathan padahal baginya tidak ada yang lucu.
Rendy mengusap sudut matanya yang berair karna tertawa terbahak-bahak. "Seorang Nathan yang selalu coba-coba para lubang gak berani melakukan hubungan sama Istri sendiri? Nathan, Nathan." kata Rendy dengan bumbu-bumbu tertawa.
Nathan menatap Rendy datar, jadi dia meledeknya karna tidak berani mengambil keperawanan Kira di malam pertamanya? Kalau saja Rendy tahu bagaimana susahnya dia meminta haknya kepada Kira, tidur satu ranjang saja dia tidak mau.
Rendy memberhentikan tawanya. Dia seketika memasang wajah serius. "Seriusan lo gak nyerang dia?" tanyanya serius.
Bibir Nathan mengerucut imut sambil menganggukan kepalanya. Memang benar Kira menolaknya mentah-mentah saat itu padahal saat itu Nathan sangat ingin menerkam Kira.
Rendy menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. "Salut gue sama Kira yang nolak pesona lo, baru kali ini ada Wanita yang nolak lo tidurin padahal dia Istri lo." Rendy kagum pada Kira yang tidak masuk ke dalam pesona yang Nathan punya.
Nathan pun heran, di saat semua wanita memberikan tubuhnya secara cuma-cuma kepadanya untuk ia tiduri tapi berbeda dengan Kira yang justru menolaknya mentah-mentah. Kira memang membuatnya sangat penasaran dan membuatnya tertarik.
"Keluar lo dari ruangan gue." usir Nathan tiba-tiba.
Rendy menganga tidak percaya. Mulai lagi deh sifat randomnya keluar. "Lo ngusir gue?" ucap Rendy dramatis setiap kali Nathan mengusirnya dia akan membicara seperti itu.
__ADS_1
Nathan berdecak. "Ya iyalah, sekarang lagi jamnya kerja! Mending lo kembali ke ruangan lo trus kerjain kerjaan lo cepet!" titah Nathan.
"Iya-iya gue kembali ke ruangan gue." Rendy bangun dari kursi lalu beranjak keluar dari ruangan Nathan.
Nathan sekarang jadi rindu dengan Istrinya, dia memikirkan Kira. Sedang apa ya Kira sekarang?
...****************...
Berhubung Nathan pergi ke kantor, Kira pergi ke sekolahan Raka. Tiga hari ini dia sangat merindukan adiknya. Kira memasuki gerbang SMA Merdeka dengan senyuman mengembang, dia menyapa satpam yang menjaga gerbang lalu berjalan ke koridor menuju kelas Nathan.
Mumpung sekarang sedang jam istirahat, Kira langsung menemui Raka di kelasnya. Namun tidak sampai masuk ke dalam kelas, Kira menemui Raka yang tengah duduk sendirian menatap ke lapangan di kursi panjang di sebelah kelasnya. Senyuman Kira makin melebar, dia tidak sabar melihat ekspresi Raka saat dia tiba-tiba datang ke sekolahannya.
"Halo!" sapa Kira, dia memiringkan kepalanya di hadapan Raka yang langsung terkejut dengan kehadiran Kira. Pemuda itu tersenyum lebar.
"Kakak?" Raka berdiri dan langsung memeluk Kakaknya. Tiga hari ini dia sangat merindukan Kira, tidak ada Kira di rumah membuat Raka merasa kehilangan sosok Kakaknya itu.
Kira melepaskan pelukannya, dia menatap Raka lekat-lekat. "Aku kangen tau!" aku Kira.
"Cieee yang kangen," goda Raka membuat Kira memukul bahunya.
"Gimana keadaan Ayah?" tanya Kira.
"Baik-baik aja. Kakak gimana udah di apain aja sama Pig itu?"
Kira memukul bahu Raka lagi. "Pikiran kamu kotor ya!" Kira melototi Raka. Raka menyengir lebar sampai matanya tenggelam.
"Kamu berantem sama siapa lagi?" tanya Kira menyadari sudut bibir Raka robek. Tangannya menyentuh sudut bibir Raka.
__ADS_1
Gadis-gadis yang mengagumi Raka yang menyaksikan adegan menahan nafas, mereka sangat cemburu.
"Gak berantem sama siapa-siapa, kak." Raka menutupinya, masa dia cerita kalau dia berkelahi dengan Vano yang sekarang sudah menjadi adik iparnya, bisa habis Raka dengan Kira.
"Beneran?"
"Beneran, Kakak."
Kira melihat-lihat sekeliling sekolahan Raka dan matanya tidak sengaja melihat Vano yang baru keluar dari kelasnya. "Vano!" teriak Kira sukses menjadi pusat perhatian.
"Kakak ngapain manggil dia sih?!" kesal Raka.
Kira menatap Raka sebentar. "Biarin, wle." Kira menjulurkan lidahnya kepada Raka yang mendengus kesal.
Vano menyerngitkan dahinya menatap Kira yang tersenyum lebar padanya. Ada apa Kira sampai ke sini? Dalam pikirannya Vano bertanya-tanya.
Raka tidak rela Kira jadi akrab dengan musuh bebuyutannya, dia langsung menarik tangan Kira yang di gunakan untuk melambai-lambai kepada Vano. Kira terpekik terkejut karna Raka menariknya menjauh dari sana.
"Aku mau makan, traktir aku ya!" kata Raka pada Kira yang berada di sebelahnya.
Kira memicingkan matanya. "Kamu cemburu aku dekat sama Vano ya?!" tuduh Kira.
"Idih, kerajinan."
"Udah ngaku aja!" Kira menunjuk-nunjuk wajah Raka sambil tertawa kecil.
"Kakak apaan sih!" kesal Raka malah membuat Kira terus meledeknya.
__ADS_1
Vano menatap punggung Kira dan Raka yang menjauh. Dia tersenyum sinis.