Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
72. Minimarket


__ADS_3

Hari ini, Kira pergi ke mini market sendirian. Membeli susu ibu hamil yang sudah habis. Sebenarnya bisa saja menyuruh Nathan membelikannya, namun hari ini Kira ingin berjalan-jalan saja.


Kira mengambil susu ibu hamil yang sering ia beli, dia memilih susu varian rasa vanila karna dia memang sangat menyukai vanila. Dan setelah mengambil susu ibu hamil itu, Kira berjalan kearah kasir.


Tapi tunggu, sepertinya ponselnya berbunyi. Kira buru-buru mengambil ponselnya dari tas selingnya. Aneh, padahal dia istri presiden direktur yang terkenal sangat kaya tapi dia masih saja menggunakan tas murahan.


Kira melihat nama yang tertera yang memanggilnya dan siapa lagi kalau bukan suaminya itu, Nathan. Melihat Nathan yang menelfonnya, Kira tersenyum. Akhir-akhir ini Nathan sangat posesif kepadanya dan itu membuatnya senang.


Kira menjawab panggilan dari suaminya itu lalu menempelkan ponselnya ditelinga. "Hallo," katanya kepada Nathan disebrang sana.


"Sayang, kamu lagi dimana? Udah pulang belum dari minimarketnya?" Tanya Nathan.


"Belum. Ini dikit lagi juga pulang kok." Kira tersenyum cangung pada konsumer lainnya yang menatapnya.


"Huft. Harusnya aku aja yang beli. Aku bisa beli susu kamu habis pulang dari kantor, lagipun ada Rendy yang siap siaga aku suruh. Kamu seharusnya diam aja dirumah, sayang." Nasihat Nathan yang kemudian disahut Rendy.


"Gue bukan pembantu lo ya!" Sahut Rendy. Kira yakin sekarang Nathan tengah berbincang dengan Rendy.


"Berisik lo!" Kesal Nathan.


Kira terkekeh. "Ya gak papa, aku kan mau gerak. Gak bagus ibu hamil dibawa malas-malasan."


"Tetap aja, sayang. Kalo terjadi apa-apa gimana?"


Kira memutar bola matanya. "Oke, kamu bapak yang perhatian. Tapi aku baik-baik aja, oke?"


"Ck, kenapa sih gak mau nurut sama suami?" Decak Nathan.


"Ya, besok aku nurut."


"Besok- besok. Kemarin juga ngomong begitu tapi mana gak nurut tuh!"


Kira tertawa pelan. "Maaf, ya, Papa sayang. Abisnya dedenya yang minta." Ucap Kira dengan nada yang menggemaskan dimana membuat hidung Nathan berdarah karna mendengarnya disana.


"Astaga, Kirana, kamu membuat abang jatuh hati untuk kesejuta kalinya."


"Lebay. Udah ya, aku mau langsung ke kasir nih dan abis itu aku langsung pulang."


"Bener ya? Jangan bikin aku khawatir napa."


Kira terdiam. Merasa tersentuh.


"Yaudah, aku matiin ya? Aku mau meeting nih sebentar lagi."


"Iya,"

__ADS_1


"Langsung pulang, jangan keluyuran lagi." Peringatan Nathan.


"Iya, Nathan. Aku langsung pulang."


"Yaudah aku matiin. I love you."


"Jijik najis!" Sahut Rendy lagi.


Setelah itu Nathan memutuskan panggilan. Kira tersenyum mendengar kata-kata terakhir Nathan. Menyadari terus dipandang orang-orang, Kira langsung memasukkan ponselnya kedalam tasnya lalu berjalan ke arah kasir untuk membayar.


Namun saat dia berjalan menuju kasir, secara tiba-tiba ada seseorang yang menambraknya dengan kencang dari belakang membuat tubuh Kira terhuyung kedepan


Hap!


Seseorang dengan gesit menangkap tubuh Kira yang sebentar lagi jatuh kelantai mini market.


"Woi, kalo jalan hati-hati dong!" Omel seseorang kepada orang yang menabrak Kira yang sudah menjauh.


Kira tersadar dan langsung berdiri dengan tegak. Dia menatap orang yang sudah menyelamatkannya.


Untung saja orang itu menangkapnya kalau tidak entah apa yang terjadi pada janinnya kalau sampai jatuh. Kira memegangi dadanya yang serasa ingin copot, wajahnya pias.


"Kamu gak papa, kan?" Tanya orang itu kepada Kira.


"Syukurlah." Orang itu tersenyum. Ngomong-ngomong yang nolongin Kira itu pria.


"Terimakasih udah nolongin. Kalo tidak ada anda, saya tidak tahu apa yang terjadi pada saya." Kata Kira.


Pria dihadapannya kalau dilihat-lihat sepertinya seumuran dengan Nathan. Dan pria ini, pria tampan yang mempunyai tubuh atletis dan juga terlihat seperti orang kaya.


Pria itu menatap perut Kira yang membuncit sebentar lalu menatap wajah Kira lagi. "Kamu sedang mengandung kenapa sendirian begini? Kemana suamimu?" Tanyanya.


"Saya cuma sedang ingin sendirian, Pak. Maaf." Jawab Kira tersenyum. Memang benar kok, dia lagi ingin pergi sendiri dan itu bukan salah suaminya.


Pria itu mengehebus nafas. "Yaudah, sini susunya, biar saya yang bayar." Ucap Pria itu.


"Tidak usah, pak. Saya bisa sendiri."


"Aduh, kamu ini. Mau dijoroki seperti tadi lagi? Udah lah saya saja yang bayar." Pria itu mengotot, dia langsung mengambil kotak susu ibu hamil dari tangan Kira. "Kamu tunggu disini!" Setelah mengucapkan itu, pria itu berbaris dikasir untuk membayar susu tersebut.


Kira menurut saja, dia menunggu pria itu membayar susunya. Huft, untung saja tidak terjadi apa-apa dengannya kalau tidak dipastikan dia akan kena amukan Nathan nanti.


Tak lama kemudian, pria tadi mengampiri Kira dengan kantung yang berisi susunya lalu dia memberikannya pada Kira.


Kira mengambil dompetnya dari tasnya, berniat ingin menganti uang pria itu yang sudah membayari susu ibu hamilnya namun baru ingin mengambil uang dari dalam dompetnya, pria itu menahannya membuat Kira heran.

__ADS_1


"Tidak usah diganti." Katanya.


"Eh?"


"Tidak usah diganti, mengerti?" Ulang pria itu sontak membuat Kira menganggukan kepalanya dan menaruh lagi dompetnya kedalam tas selingnya.


"Terimakasih," sopan Kira yang dimana malah membuat Pria itu tersenyum tipis.


"Apakah ada yang menjemputmu?" Tanya pria itu.


Kira menggeleng. Dia memang punya supir pribadi yang siap menghantarnya kemana saja tapi hari ini dia ingin bebas. "Ah, saya bisa pulang sendiri kenapa harus dijemput?"


"Kalau begitu, mari saya antar kamu pulang."


"Eh? Tidak usah, tidak apa-apa. Saya bisa menyuruh sopir menjemput saya disini. Tidak usah repot-repot." Kira menolak.


Pria itu tampak tidak yakin.


Kira menghebus nafasnya. Dia mengambil ponselnya dari tas selingnya lagi lalu mencari nomer sopir pribadinya setelah itu dia menempelkan ke telinga. "Hallo, Pak. Bisa jemput saya di minimarket dijalanĀ  XXX?" Kata Kira.


"..."


"Maaf ya, Pak. Jadi ngerepotin bapak."


"..."


"Iya, saya tunggu."


Selesai menghubungi sopir pribadinya, Kira menatap Pria itu yang melipat kedua tangannya didada, memperhatikan Kira dari tadi.


"Saya sudah menghubungi sopir saya, Pak." Ucap Kira, tersenyum.


"Hufft, baiklah. Saya pergi dulu." Pamit Pria itu.


"Eh, tunggu, pak." Kira menahan Pria itu yang hendak pergi dari minimarket.


"Ada apa?"


"Eumm, terimakasih." Kira tersenyum manis pada Pria itu dimana membuat Pria itu terdiam sejenak lalu menganggukan kepalanya sebelum kembali beranjak pergi dari sana.


Seperginya Pria itu, Kira menunggu pak sopir yang akan menjemputnya didepan minimarket.


Dari kejauhan sana, Mauren tersenyum melihat Kira dan pria tidak dikenal itu pergi bersama. Dia berhasil memotret pria itu saat membantu Kira saat ingin terjatuh. Mauren tersenyum miring. Lihat saja, dia akan membuat Nathan marah dan benci dengan Kira dengan begitu Nathan secepatnya menceraikan Kira dan kembali bersamanya.


Mauren menghibas rambut panjang. Pergi jauh-jauh ke mini market ini ternyata tidak sia-sia. Dia berhasil mempunyai sesuatu untuk diperlihatkan ke Nathan. Huft, padahal niat awal Mauren kesana ingin mencela Kira eh gak taunya malah melihat kemesraan Kira dengan pria lain. Sungguh, hari ini hari yang beruntung bagi Mauren.

__ADS_1


__ADS_2