
"Sial, sial, sial!" Umpat Mauren, dia memukul-mukul setir mobilnya berkali-kali. "Kenapa sih, si jelata itu selalu menang dari gue! Apa coba istimewanya dia sampe Nathan jadi cinta begitu sama dia!"
"Apa coba yang bikin Nathan berpaling dari gue!!!" Teriak Mauren didalam mobil sekali lagi dia memukul setir mobilnya.
Tadi saat dikantor, Nathan marah padanya karna dia menunjukkan foto Kira dengan pria lain, dia membenci itu karna katanya dia menjadi bertengkar dengan Kira dan membuat Kira menangis. Nathan bahkan berani membentaknya tadi.
Akhh, rasanya Mauren ingin menyingkirkan Kira dari dunia ini karna dirinya Nathan berubah menjadi jauh lebih baik. Dia membenci Nathan seperti itu, karna kalau Nathan menjadi seperti sekarang, dia tidak bisa memanfaatkan cinta yang Nathan berikan padanya.
Ini semua gara-gara Kira. Kenapa perempuan itu berani datang ke kehidupan Nathan. Kalau begini jadinya, Mauren menyesal meninggalkan Nathan demi mengejar pria yang dia cintai dilondon.
Mauren mengambil kotak rokok didalam disbor tak lupa juga dia mengambil koreknya. Dia mengambil sebatang rokok dari dalam kotak itu, menaruhnya ke bibirnya lalu dia menyalahkan korek didekatkan kepada rokok tersebut.
"Pokoknya gue gak terima Kira ngambil Nathan. Nathan itu cuma buat gue, liat aja gue bakal bikin hidup lo sengsara!" Mauren berdialog sendiri.
Mauren mengisap rokok yang diselipkan dijarinya lalu menghebuskan asapnya.
Matanya tidak sengaja mendapati Raka, adik Kira yang tengah berjalan bersama teman-temannya. "Bukannya itu adiknya si jelata?" Matanya menyipit menatap Raka yang tengah bergurau dengan teman-temannya.
Senyum jahat tercetak dibibirnya seketika. Dia akan menghancurkan Kira dan sekarang ia mulai dari sang adiknya dulu. Dia ingin Kira tersiksa.
Mauren mematikan rokoknya dan membuangnya lewat jendela mobil disebelahnya. Dia mengijak gas mobil, menjalan mobilnya dengan kecepetan yang tidak stabil.
Raka yang tengah bercanda ria dengan teman-temannya tidak menyadari kalau mobil melaju dengan kecepetan yang tidak stabil mendekatinya.
"Fulan, rambut lo kayak buntut ayam anjir." Canda Raka.
"Sialan lo." Tidak terima temannya yang bernama Filan itu yang membuat Raka tertawa puas.
"Eh tunggu deh, kayak ada mobil mendekat ya?" Kata teman satunya lagi yang bernama Chandra membuat Raka dan Filan memberhentikan langkahnya.
Dengan kompak mereka menoleh kebelakang dan benar saja ada mobil yang mendekat dengan kecepatan tinggi.
Brukkk!
"Raka!" Teriak keduanya ketika melihat Raka diserempet mobil itu dengan kedua matanya sendiri hingga Raka terjatuh ke aspal dan kepalanya sempat terjadi benturan dengan aspal.
Sedangkan mobil yang menyerempet Raka, melarikan diri. Dan itu membuat mereka marah dan juga cemas kepada Raka.
Filan dan Chanda sontak langsung mendekati Raka yang terpapar di aspal, sudah tidak sadarkan diri Mereka cemas bukan main, apalagi saat melihat darah mengalir dari kepalanya.
__ADS_1
"Aduhh, kenapa jadi begini anaknya Pak Cahyo." Ucap Filan bingung harus melakukan apa karna terlalu cemas dan juga terkejut. "Mana tuh orang udah ngelariin diri lagi!" Gerutu Filan melihat mobil berwarna putih yang sudah menabrak temannya melarikan diri.
"Gue panggil ambulan." Kata Chandra, dia mengambil ponsel dari saku celananya dan segera menghubungi ambulan.
"Hallo, saya butuh ambulan!"
...****************...
Kira berlari dikoridor rumah sakit mencari kamar dimana adiknya ditangani. Kira terkejut bukan main ketika dia tahu Raka mengalami kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit.
Air matanya terus turun dari pipinya. Dia tidak mau Raka terjadi apa-apa. Karna hanya Raka, keluarga yang ia miliki sekarang.
Dibelakang Kira, Vano dan Nathan juga ikut berlarian dikoridor. Berbeda dengan Kira yang terkejut mendengar Raka mengalami kecelakaan, mereka berdua malah tidak percaya kalau bocah itu mengalami kecelakaan.
Entahlah, menurut mereka tidak heran juga mendengar Raka kecelakaan toh anak itu tiada hari tanpa membuat masalah.
Sesampainya didepan ruang inap Raka, Kira bertemu dengan Filan dan Chandra yang keliatannya baru ingin pulang.
Kira betul-betul cemas dengan keadaan adiknya itu sampai-sampai dia tidak mempedulikan rambutnya yang berantakan.
"Hai, Kak." Sapa Filan dan Chandra pada Kira. Mereka terlihat tidak cangung pada kakak temannya itu toh mereka sudah sangat mengenal Kira.
Chandra menganggukinya. "Dia baik-baik aja, kak. Gak ada luka yang serius." Kata Chandra.
Filan pun menganggukinya. "Iya, Kak. Rakoy baik-baik aja. Jangan cemas, Kak."
Kira menghebus nafasnya lega. "Syukurlah,"
Nathan dan Vano mendekati Kira yang berbincang dengan kedua pemuda yang penampilannya sebelas dua belas dengan Raka itu. Nathan memasang wajah dingin melihat kedua pemuda itu tersenyum-senyum pada Kira. Dengan posesifnya dia memeluk bahu Kira sambil memasang ekspresi datar.
Filan dan Chandra menatap Nathan yang baru datang dan tiba-tiba langsung memeluk Kira. Mereka saling lihat-lihatan satu sama lain sebentar lalu menatap Nathan lagi.
"Om, gak boleh peluk-peluk keponakan dong. Bukan muhrim juga." Ucap Filan kepada Nathan dengan wajah polosnya.
"Tau, udah Om-om masih demen aja sama yang daun muda. Kak Kira itu milik kita berdua tau!" Chandra menimpali.
Nathan melongo tidak percaya. Dia dianggap Om-om oleh kedua bocah tengil itu? Oh my god, Nathan merasa hina. Dia kan masih muda darimananya Om-om?
Kira tidak mempedulikan mereka. Dia tidak tahan lagi untuk melihat kondisi Raka di dalam, dia menarik tangan Vano dan masuk kedalam kamar rawat Raka. Dalam benaknya, lebih baik menarik Vano untuk menemaninya daripada dia harus ditemani Nathan. Yang ada malah bikin ribut aja di dalam.
__ADS_1
Ketiga manusia itu menatap Kira yang menarik tangan Vano kedalam kamar rawat. Mereka ngebug seketika.
"Wah, si kaneboy ada disini juga, Chan." Kata Filan antusias melihat Vano. Setahu mereka Vano adalah musuh sehidup semati Raka tapi kenapa Vano ada disini dan lagi Kira mengandeng tangannya masuk ke dalam kamar rawat.
"Sial, gue cemburu, lan. Pengen digandeng juga sama Kak Kira." Sahut Chandra.
Nathan memiting kedua leher teman Raka itu. Dia tidak suka ada yang membicarakan istri tersayangnya walaupun dia pun juga sama cemburunya karna Kira malah memilih menarik tangan Vano bukan dirinya.
"Dia istri gue, ya!" Kata Nathan dengan galak.
"Halu, orang Kak Kira bakal nikah sama gue." Jawab Chandra.
"Tau Om, mana mau Kak Kira sama lo. Kak Kira tuh bidadari sedangkan lo udah bau tanah." Timpal Filan juga.
Mendengar itu Nathan benar-benar menjadi kesal dengan sengaja dia makin mengencangkan pitingannya dileher keduanya membuat mereka berdua teriak-teriak.
"Gue masih muda, sialan." Gerutu Nathan kesal.
"Masih muda? Halu nih Om, jelas-jelas mukanya kayak om-om." Celetuk Fulan.
"Mulut lo berdua pengen gue sumpel pake uang, hah?!"
Chanda dan Filan melepaskan diri dari pitingan Nathan. Dia menjauh beberapa langkah dari Nathan dan berbisik-bisik seperti tetangga.
"Disumpel duit katanya, Chan." Bisik fulan.
"Iya, jangan-jangan dia horang kaya lagi."
"Iya sih, kecium dari badannya bau orang kaya."
"Deketin yuk. Terus porotin."
Mereka berdua menggangguk secara bersamaan lalu mereka mendekati Nathan lagi. Memeluk Nathan.
"Wah beneran bau uang badannya, Chan." Seru Filan.
"Tapi lebih mendominan bau tanah sih." Sahut Chanda.
Kedua teman Raka itu benar-benar membuat Nathan pusing tujuh keliling. "Jauh-jauh lo. Gue gak level sama kalian!"
__ADS_1