Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
43. Perselisihan


__ADS_3

Sesuai permintaan Vano tadi malam, dia akan datang ke sekolahnya mewakili menemui guru-nya yang juga guru Raka. Dia berjalan di koridor sekolah, banyak pasang mata yang menatap ke arahnya apalagi Nathan berada di sisinya. Ya, Nathan memaksa untuk ikut ke sekolah Vano tadi, padahal Kira sudah melarangnya dan menyuruhnya pergi ke kantor saja namun bukan Nathan namanya kalau tidak membantah.


Nathan berjalan di sebelah Kira, Pria itu memakai pakaian santai dengan memakai kaos oblong berwarna hitamĀ  dan celana jeans berwarna hitam. Terlihat casual apalagi wajah Nathan yang sangat tampan itu mendomasi penampilannya.


Kira tidak tahu dimana letak kelasnya Raka dan Vano, dia sekarang seperti orang kebingungan karna tidak bertanya sebelumnya pada Vano di mana kelasnya.


Melihat Kira kebingungan mencari kelas Vano dan Raka, Nathan dengan jahil meledek Kira. "Gak tau ya? Bingung ya? Mangkanya minum deterjen." ledek Nathan.


Kira memutar bola matanya, kehadiran Nathan tidak membantunya sama sekali malah membuatnya pusing saja. "Berisik!" bentak Kira.


Nathan terkekeh, dia pun memberhentikan siswi yang melewatinya. Seorang Gadis berambut pendek berwajah imut itu langsung berhenti ketika Nathan menjegatnya. "Siapa nama kamu?" tanyanya kepada siswi itu.


Siswi itu gugup karna Nathan memberhentikan langkahnya. Baru juga ingin menjawab namanya, Nathan langsung menyela. "Gak usah di jawab." sela Nathan.


Kira yang melihat Nathan seperti om-om pedofil yang sedang menggoda anak kecil langsung mencubit pinggang Nathan hingga membuat Nathan menjerit tapi jeritan itu ia tahan karna keadaannya sekarang dia sedang berada di sekolahan.


Kira menatap siswi itu yang menatap Nathan. Mata Gadis itu memancarkan rasa takut dan juga rasa kagum menjadi satu. "Maaf ya, jangan takut sama Om-om ini." ucap Kira kepada Siswi itu yang langsung menatapnya. "Boleh nanya gak?" lanjut Kira.


Siswi itu menganggukan kepala. "Tau kelas cowok yang namanya Vano dan Raka?" tanya Kira, masih setia mencubit pinggang Nathan yang seberusaha mungkin tidak mengeluarkan jeritannya.

__ADS_1


"Oh Vano sama Raka, dia teman sekelas aku, Kak. Kalo gitu aku unjukin kelasnya." jawabnya tersenyum pada Kira yang juga tersenyum padanya.


"Makasih ya," ucap Kira. Dia melepaskan cubitannya dan menatap Nathan dengan senyuman lebar di bibirnya membuat Nathan mengerucutkan bibirnya kesal.


Kira dan Nathan mengikuti langkah siswi itu yang ingin menunjukkan letak kelas Vano dan Raka. Sesampai di kelas Vano dan Raka, Kira langsung mencari keberadaan Vano dan Raka dan matanya langsung menangkap Vano tengah membaca buku dan Raka yang tertidur di atas meja. Sudah tahu kan apa perbedaan Vano dan Raka? Sangat bertolak belakang.


"Vano!" panggil Kira dan melambaikan tangannya di ambang pintu membuat seisi kelas yang tadinya gaduh menjadi hening karna kehadiran Kira dan Nathan. Vano menatap Kira, dia tersenyum karna Kira mau datang ke sekolahnya.


...****************...


Setelah selesai menghadap guru Vano dan Raka, Kira dan Nathan keluar dari ruang guru (bukan aplikasi) yang langsung di sambut Raka dan Vano di depan pintu.


Kira memutar bola matanya. Apanya dapat prestasi? Kira tidak habis pikir dengan cara berpikir Raka yang selalu saja membuat masalah.


Sedangkan Nathan menatap dingin Vano yang juga menatapnya dengan datar dan dingin. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia tidak suka saat Vano berubah menjadi anak yang nakal seperti ini. "Udah hebat sekarang, heh?!" cibir Nathan terdengar sangat menusuk.


Kira yang sibuk bertengkar dengan Raka langsung terdiam ketika Adik-Kakak itu perang dingin sekarang. Raka pun sama, dia terdiam memperhatikan keduanya yang memasang wajah sama-sama dingin.


Vano menyeringai, dia menatap Nathan dengan amat tajam. "Apa peduli Kakak? Gak peduli kan?" baru kali ini Raka dan Kira melihat dan mendengar Vano berbicara dengan Nathan. Rahang Nathan menjadi mengeras. Dia tidak suka dengan ketidak sopanan Vano kepadanya.

__ADS_1


"Aku tau Kakak gak pernah peduli sama aku bahkan sampai aku mati pun Kakak gak peduli kan? Jadi jangan ikut campur dengan hidup aku!" lanjut Vano menatap tajam Nathan.


Kira ingin melerai Nathan dan Vano tapi Raka langsung menahannya, Raka menggelengkan kepalanya kepada Kira seakan bicara bukan saatnya untuk melerai mereka dan Kira langsung menurut karna dia tidak ingin membuat semakin memperkeruh keadaan.


"Sejak kapan kamu jadi gak sopan begini, hah?!" bentak Nathan.


Vano menyeringai lagi. "Heh, apa peduli Kakak?"


Nathan benar-benar marah pada Adiknya itu. "VANO?!" bentak Nathan sangat kencang sampai Kira saja terkejut karna bentakan Nathan pada Vano. Tangannya terangkat ingin melayangkan tamparan kepada Vano namun dengan cepat Kira menahannya.


Dalam hati Raka berdecak kagum pada Kira yang berani melerai pertengkaran antar saudara itu. Tapi dia juga penasaran kenapa mereka bisa berselisih seperti itu? Kenapa bisa-bisanya musuh kesayangannya itu membuatnya jadi penasaran seperti ini sih?


Vano menyeringai sinis. Dia menatap Nathan dengan tatapan benci lalu dia beranjak pergi dari sana dengan hati tercabik-cabik dan mata berkaca-kaca.


Melihat Vano sudah pergi, Raka pun mengintilinya dari belakang. Dia ingin tahu penyebab perselisihan antar saudara itu yang membuatnya penasaran seperti ini.


Kira menatap Nathan yang masih meredahkan emosinya. Kalau begini Kira menyesal mengajak Nathan ke sini kalau kejadiannya menjadi seperti ini.


Emosi Nathan perlahan hilang, dia menatap Kira yang seakan marah padanya karna perlakuannya kepada Vano tadi. Ia tahu Vano berbuat masalah tapi tidak sampai begini juga cara mengajarinya.

__ADS_1


"Kita pulang!" ajak Kira, dia menarik tangan Nathan.


__ADS_2