Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
20. Berita yang Mengejutkan


__ADS_3

Pagi hari, Kira menyiapkan keperluan Nathan. Dia menyiapkan jas hitam Nathan dan menaruhnya di atas ranjang. Saat ini Nathan tengah mandi jadi dia harus cepat-cepat menyiapkan keperluan Nathan.


Walau Nathan sering membuatnya jengkel tapi sebagai Istri dia punya kewajiban untuk menyiapkan keperluan suami.


Setelah sudah menyiapkan pakaian kerja Nathan, sepatu dan dasi. Kira duduk di sofa dengan menghebus nafas lega.


Tak lama kemudian Nathan keluar dari kamar mandi. Seperti biasa hanya menggunakan lilitan handuk di pinggangnya. Dia tersenyum ketika melihat keperluannya sudah ada di atas ranjang. Beruntungnya Nathan bisa menikahi Gadis seperti Kira. Istri idaman.


"Makasih jelek!" kata Nathan kepada Kira yang memutar bola matanya jengah. "Tutup mata ya, aku mau pake baju." lanjut Nathan menyuruh Kira menutup mata.


"Ngapain ganti baju di sini? Kan bisa di ruang ganti?" Kira menahan Nathan yang ingin membuka lilitan handuknya.


"Kamu yang nyiapinnya di sini, berarti aku pake bajunya di sini. Kalo kamu nyiapinnya di ruang ganti, aku pake bajunya di ruang ganti. Sampe sini ngerti?" jelas Nathan.


"Mana ada begitu?" protes Kira.


"Udah ya, kalo gak mau liat tinggal tutup mata sampe aku selesai tapi kalo kamu mau lihat, terserah." ucap Nathan dengan nada menggoda.


Nathan membuka lilitan handuknya dan Kira langsung menutup matanya dengan kedua tangannya.


Nathan terkekeh melihat betapa menggemaskan Istrinya itu. "Jangan ngintip lewat sela-sela jari ya!"


"Gak akan! Cepetan pake baju!" teriak Kira.


Sekali lagi Nathan terkekeh. Dia langsung memakai bajunya secepat kilat.


Setelah selesai, Nathan mendekati Kira dan duduk di sebelah Gadis itu yang masih menutup matanya dengan tangannya. "Udah selesai," ujar Nathan.


Kira membuka telapak tangannya yang tadi ia gunakan untuk penutup mata. Dia menatap Nathan yang sudah duduk di sebelahnya.


"Ayo kita lanjutin ciuman yang tadi malam tertunda." ajak Nathan dengan wajah semangat.


Kira menatap tajam Nathan. "Gak, gak, gak ada lagi ya!" Nathan mendengus kecewa.


"Pelit banget, padahal tadi malam kamu menikmatinya."


Pipi Kira menjadi merah mengingat kejadian tadi malam. Dia memukul bahu Nathan kencang dan membuang wajahnya.


Nathan tersenyum jahil, dia menunjuk-nunjuk wajah Kira dengan jarinya. "Ciee malu-malu tapi mau." goda nya.


"Paan sih!" geram Kira.


"Udah ngaku aja."

__ADS_1


"Ngaku, ngaku, ngaku apaan?!"


"Ngaku kalo kamu juga mau."


"Gak ya!"


Lama berdebat tiba-tiba ponsel Kira berbunyi. Kira pun mengambilnya di pojokan sofa lalu melihat nama tertera di sana.


"Siapa?" tanya Nathan.


"Raka," jawabnya singkat karna setelahnya dia mengangkat panggilan dari Raka.


"Hallo, Ka, ada apa?"


Raka menangis di sana. "Kak, Ayah meninggal."


Deg!


Jantung Kira rasanya berhenti berdetak mendengar itu. Air matanya menetes dari matanya.


"K-kamu gak bohong kan?" Kira memastikan kalau yang dia dengar hanya salah. Itu tidak mungkin. Raka hanya ingin menjahilinya.


"Gak, Kak. Ayah udah gak ada." Tangan Kira bergetar. Dia menjatuhkan ponselnya dari telinganya.


Nathan yang melihat itu langsung membawa Kira kedalam dekapannya, memberi ketenangan. Walau dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Nathan mengusap punggung Kira lembut. "Ayah kenapa?" tanya Nathan.


"Ayah ninggalin saya... Ayah ninggalin saya.." lirihnya lagi dan Nathan pun terkejut.


...****************...


Kira memasuki gang rumahnya, matanya terus mengeluarkan air mata. Sesampai di depan rumahnya, bendera kuning terpampang jelas. Katakan padanya ini hanya mimpi. Seseorang tolong bangunkan dia dari mimpi buruk ini. Mimpi ini benar-benar menyakitkan.


Saat dia masuk ke dalam rumahnya yang sudah banyak orang yang datang. Dia melihat jelas Wajah sang ayah di tutupi kain putih. Di sebelahnya ada Raka yang terus menangis.


Nathan yang berada di belakang Kira merasa tidak percaya. Padahal dua hari lalu mereka bertemu, meminum kopi bersama-sama.


Kira menghampiri mayat Ayahnya yang belum di mandikan. Dia menangis kencang, memeluk mayat Ayahnya. "Ayah bangun, yah, Ayah jangan tidur terus. Liat aku udah datang. Bangun yah." racau Kira.


Nathan yang melihat Kira menangis seperti itu langsung menghampirinya, melepaskan pelukan Kira dari Ayah Cahyo dan memeluk dirinya erat.


"Ayahhh, jangan tinggalin aku, Yah." Kira masih meracau di dada bidang Nathan.

__ADS_1


"Ayah gak ninggalin kamu, dia masih hidup di hati kamu, di hati kita." kata-kata Nathan membuat Kira lebih tenang walau masih menangis.


Raka menghampiri Kakaknya yang di peluk Nathan. "Kakak," lirihnya.


Kira melepaskan pelukan Nathan beralih menatap Raka yang menangis lalu Kira memeluk Raka, mereka saling menguatkan akan kepergian Ayahnya. Raka menangis sejadi-jadinya di dekapan Kira. Tadi saat Kira belum datang, dia hanya menangis dalam diam sambil menatapi wajah sang ayah dan sekarang di dekapan Kira, Raka menumpahkan semua kesedihannya.


Baru tadi malam Kira berbicara ke Nathan agar Ayah dan Raka di biarkan tinggal satu rumah dengannya namun takdir berkata lain. Ayah Cahyo sudah berada di sisi tuhan bukan bersamanya.


Tangis Raka makin mereda dan Kira melepaskan pelukannya, menatap wajah sang adik, keluarga satu-satunya yang dia miliki sekarang. Tangannya menghapus air mata Raka dan mencoba tersenyum. "Jangan sedih walau Ayah udah gak ada lagi, Ayah tetap hidup di hati kita."


Ucapan yang di lontarkan Kira ke Raka adalah kosa kata Nathan menenangkannya tadi. Nathan tersenyum, di saat Kira juga butuh penenang, dia malah menenangkan adiknya dahulu.


Tak lama kemudian, jenazah Ayah Cahyo segera di mandikan, di kafani dan di sholatkan sesuai perintah agama. Nathan dan Raka ikut menyolatkan Ayah Cahyo di masjid di dekat rumahnya. Bahkan saat menyolatkan Ayahnya pun, Raka masih menangis walau menangis dalam diam.


Selesai di sholatkan, Nathan memanggil Rendy ke rumah Kira untuk membawakan mobil jenazah dan mengurus pemakamannya.


Nathan terus memeluk Kira yang sudah berhenti menangis namun tatapannya kosong. Sebagai suami, dia benar-benar tidak tega melihat Kira seperti itu.


Di pemakaman, jenazah Ayah Cahyo sudah siap di kebumikan. Raka malah meraung dan mengamuk seperti orang gila yang tidak terima Ayahnya akan di kuburkan.


"Jangan berani lo kuburkan Ayah gue, si*lan!" ancamnya kepada tukang cangkul kuburan yang seketika diam tidak melanjutkan pekerjaannya.


"AYAH GUE GAK MATI! DIA CUMA TIDUR!" teriak Raka makin menjadi membuat orang-orang yang ikut ke pemakaman Ayah Cahyo menjauh karna takut Raka kehilangan kendali.


Kira yang berada di sebelah Nathan langsung menoleh ke arah Raka yang mengamuk tidak jelas sambil berteriak. Dia ingin menenangkan Adiknya, namun Nathan mencegahnya.


"Biar aku aja." katanya setelah itu dia menghampiri Raka dan melayangkan pukulan di wajah Raka membuat semua orang-orang yang mengelilingi pemakaman Ayah Cahyo menahan nafas.


Nathan mencengkram kuat baju Raka. "JANGAN EGOIS, DENGAN LO BEGINI AYAH CAHYO BAKALAN SEDIH NGELIAT LO!" bentak Nathan tepat di wajah Raka.


"AYAH GUE GAK MATI, DIA MASIH HIDUP!" bentak Raka juga.


Nathan memukul wajah Raka sekali lagi.


"Udah!" sergah Kira, dia melepaskan cengkraman Nathan di baju Raka. Dia langsung memeluk Raka yang langsung menumpahkan air matanya di dekapan Kira. "Iklasin Ayah, biar dia pergi dengan tenang. Ayah pasti bahagia di samping Allah." kata Kira.


"Tapi aku gak mau Ayah sendirian di tanah, kak." kata-kata Raka sukses membuat orang-orang tersentuh.


"Iklasin Ayah, ya. Biarin dia di kebumikan." Raka mengangguk di dalam dekapan Kira.


Nathan langsung menyuruh para tukang cangkul kuburan untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Selesai memakamkan jenazah Ayah Cahyo, Kira dan Raka menaburkan air mawar dan bunga-bunga di tumpukan tanah yang menibani sang ayah. Raka dan Kira seberusaha mungkin agar tidak menangis di kuburan Ayah Cahyo.

__ADS_1


"Ayah, ayah semoga tenang ya di sana. Seenggaknya Ayah gak kesakitan lagi. Aku janji bakal jagain Raka terus sampai dia jadi orang yang bisa di harapkan. Aku pulang dulu, aku bakal sering-sering main kesini nemuin Ayah. Aku pulang ya, Yah. Assalamualaikum." Kira berdiri. Dia melangkah menghampiri Raka dan Nathan yang sudah menunggunya.


"Ayo kita pulang." ajak Nathan.


__ADS_2