
"Vano," panggil Kira ketika Vano keluar dari kamarnya dengan memakai seragam sekolah lengkap.
Vano yang merasa di panggil seseorang langsung menoleh, dia mengangkat kedua alisnya kepada Kira yang mendekatinya.
Kira tersenyum lebar kepada Vano. "Mau berangkat ya?" tanya Kira.
Vano mengangguk sekali. Dia menatap penampilan Kira dari bawah ke atas. Kira saat ini hanya memakai celana tidur yang gombrong dan Hoodie berwarna merah. Gadis itu malah terlihat seperti anak kecil bukan seperti Istri-istri kebanyakan.
Kira menyengitkan dahinya, dia menatap penampilannya sendiri. Apa ada yang salah darinya sampai Vano menatapnya begitu?
"Kenapa?" tanya Kira merasa heran. "Ada yang salah ya?"
Vano menggeleng. Dia memasukkan kedua tangannya di saku celana abu-abunya. Kalau saja Kira masih SMA, mungkin dia akan terpesona dengan Vano. Udah tampan, tidak banyak ngomong seperti Kakaknya, cool, akh, Vano adalah type idamannya saat masih sekolah dulu.
"Ada apa?" Vano membuka suaranya, bertanya.
Suaranya saja sangat mempesona, benar-benar Vano ini membuatnya ingin memacarinya saja.
"Boleh minta tolong bawakan ini ke Raka?" pinta Kira, dia menunjukkan kotak makan berwarna hijau pada Vano.
"Kenapa harus saya?"
"Ya, karna kan kamu sekelas sama Raka."
Vano menghebus nafasnya. "Saya gak mau." tolaknya.
Eh?
Kira jadi kikuk karna tolakan Vano. "Kenapa?" Kira mendekatkan wajahnya dengan Vano.
"Kenapa saya harus menghantarkannya?" ketus Vano.
Kira menghebus nafasnya. Dia menepuk bahu adik iparnya itu sekali. "Kan tadi aku bilang, karna kamu sekelas sama Raka."
Vano menatap tangan Kira yang ada di bahunya.
__ADS_1
"Tolong ya?" Kira menampilkan pupilnya di depan Vano.
Kalau di depan Nathan Kira menjadi seperti macan tapi di depan Vano Kira bersikap seperti dia sedang berhadapan dengan Adiknya.
"Aku bakal beliin apa yang kamu mau deh." Kira merujuk Vano.
"Saya bisa membeli apapun yang saya mau."
"Eh, iya juga ya?" Kira menggaruk rambutnya yang tergerai. "Nanti aku masakin makanan kesukaan kamu deh."
Vano menggambil kotak bekal dari tangan Kira. Dia memang tidak tertarik dengan apa yang di janjikan Kira kepadanya jika dia menghantarkan bekal itu ke musuhnya, Raka. Tapi entah kenapa dia merasa gemas dengan Istri Kakaknya itu dan itu membuatnya terhipnotis.
Senyum Kira mengembang. "Makasih ya! Nanti pas kamu pulang langsung aku masakin deh."
Masakin aja, dia aja gak tau makanan kesukaan Vano apa?
Vano mengangguk. Dia menatap kotak bekal di tangannya.
"Kenapa? Kamu mau juga?" Vano menatap Kira lagi dan langsung menggeleng.
Vano mengangguk lagi.
Mata Kira tiba-tiba memicing. Dia mendekati Vano secara tiba-tiba membuat Vano bingung dengan sikap Kakak iparnya itu.
"Hidung kamu kenapa?" tanya Kira ketika dia menyadari goresan di hidung Vano.
"Gak papa." jawab Vano singkat.
"Pasti gara-gara Raka ya?"
"Saya berangkat." pamit Vano , dia tidak menjawab pertanyaan Kira dulu, dia langsung melangkah menjauhi Kira.
"Hati-hati di jalan ya!" teriak Kira.
Vano yang mendengar itu tersenyum. Dia menuruni tangga. Padahal dia membenci Adik Kira namun kenapa sikap Kira seperti biasa-biasa saja?
__ADS_1
"Non," panggil seseorang membuat Kira yang sedang menatapi Vano langsung menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Ada apa bu?" sahut Kira.
Pelayan bi Tati yang umurnya sudah lima puluh tahun itu tersenyum kepada Kira. Bi Tati itu yang sudah di anggap keluarga sendiri oleh Nathan, jadi jangan salah jika dia di panggil dengan sebutan Ibu dengan Nathan.
"Non, jangan panggil saya ibu atuh, saya kan pelayan di sini." ucap Bi Tati dia merasa tidak pantas di panggil seperti itu.
"Nathan aja manggil ibu dengan sebutan ibu, kenapa saya gak bisa?" Kira tertawa kecil.
Bi Tati ikut tertawa kecil. "Aduhh, non, ngapain ada di sini?" tanya Bi Tati.
"Tadi abis titip bekal buat adikku, bu, sama Vano." jawab Kira, dia tidak sedikit pun kaku berbicara dengan Bi Tati.
"Emangnya adik non satu sekolah sama den Vano?"
Kira mengangguk. "Iya, sekelas juga."
"Aduhh, den Vano itu sering sekali kena pukul orang, bibi aja sampai sering melihat wajahnya penuh luka. Bibi khawatir sama den Vano, non." cerita Bi Tati.
Mendengarnya Kira langsung khawatir. Dia takut jika itu adalah perbuatan Raka. "Emangnya Vano gak pernah cerita sama ibu, dia kenapa bisa begitu?"
Bi Tati menggeleng. "Jangan kan cerita sama bibi, sama tuan besar dan den Nathan aja tidak pernah, non."
"Kenapa?"
"Karna den Vano itu anaknya pendiem, dia memendam sendiri apa yang dia rasakan, sama seperti den Nathan."
Nathan?
"Emang kenapa sama Nathan bu?" tanya Kira penasaran.
"Kalo soal den Nathan lebih baik non tanya sendiri ke den Nathannya, bibi tidak bisa menjawabnya." kata Bi Tati. "Kalo gitu bibi mau ke dapur dulu, mau nyiapin makan siang." pamit Bi Tati meninggalkan Kira yang terdiam di tempat dengan segala pertanyaan di kepalanya.
Kenapa Nathan bisa semisterius itu sih? Nathan itu orang yang susah di tebak bagi Kira.
__ADS_1
Dengan segala pertanyaan di otaknya, Kira berjalan menuju kamarnya dan Nathan dengan melamun. Kenapa aku harus sepenasaran ini dengan kehidupan Nathan?