Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
29. Insinyur bukan Insicure


__ADS_3

Nathan dan Rendy beriringan masuk ke dalam Mension. Jika semua bawahan berada dibelakang majikan tapi tidak dengan Rendy.


"Gue mau ketemu Kakak ipar ah." kata Rendy dengan semangat 45.


Nathan menoleh ke Rendy yang tersenyum-senyum sendiri. "Siapa Kakak ipar?" tanya Nathan.


Rendy berdecak. "Ya, istri lo lah siapa lagi?" jawabnya.


"Sejak kapan Istri gue jadi kakak ipar lo?" cibir Nathan.


Lagi-lagi Rendy berdecak. "Sejak aku mencintai dirimu." sahut Rendy asal membuat Nathan berekspresi ingin muntah. "Kenapa? Gak boleh nih?"


"Kalo gue gak ngebolehin pun lo tetep kekeh pengen ketemu Kira kan?" Nathan mengangkat sebelah alisnya.


Rendy menyengir lebar. "Nah tuh tau." Nathan memutar bola matanya.


Rendy dan Nathan memberhentikan langkahnya ketika mendengar teriakan seseorang dibelakang mereka.


"Minggir woii!" teriak Raka dibelakang Rendy dan Nathan. Nathan dan Rendy secara bersamaan menoleh ke belakang.


Raka berdiri dengan memasukkan kedua tangannya dicelana seragamnya, dia memasang wajah sengit kepada Nathan dan Rendy yang menaikan sebelah alis menatap Raka.


Raka sekarang terlihat seperti preman daripada anak sekolahan kebanyakan. Kancing bajunya ia buka semua dan memperlihatkan kaos berwarna putih, tas yang seharusnya berada di punggungnya malah digantungkan ke atas kepalanya. Wajahnya penuh lebam ketara Pemuda itu sehabis berkelahi. Bisa-bisanya adik Kira modelannya seperti ini.


"Cih, bocah tengik." cibir Rendy.


Raka tersenyum tengil. "Kenapa emangnya bang? Bocah tengik gini juga tampan kan?"


"Percaya diri." cibir Nathan. Rasanya dia ingin memukul wajah tengil adik iparnya itu namun dia teringat kepada Kira yang akan marah jika dia melakukan itu jadi dia mengurungkan niatnya.


"Haruslah, karna kita gak boleh insinyur kalo kata Kak Kira. Harus percaya diri." Raka membangga diri.

__ADS_1


Perkataan Raka sukses membuat Nathan dan Rendy tertawa. Bukan cuma tengil, ternyata Raka juga polos tapi polos dalam artian b*go.


"Insicure bodoh!" koresksi Rendy sambil tertawa kencang.


Raka menggaruk kepalanya. Berarti Kira salah mengajarinya dong? Agh, Kira memang ajaran sesat.


"Heh! Itu gue di ajarin Istri lo kok plus Kakak gue." kata Raka kepada Nathan yang memberhentikan tawanya.


Nathan mengangkat kedua alisnya. "Masa?" Nathan agak-agak tidak percaya kalau itu adalah ajaran Istrinya kepada Adiknya.


Raka mengangguk yakin. "Iya, Kakak gue yang ngajarin gue, lo ngetawain gue berarti ngetawain  Kakak gue juga." ucap Raka kemudian tersenyum. "Gue bilangin ah!" ancam Raka.


"Wah, mampus lo. Gak dikasih jatah deh." Rendy meledek Nathan.


"Emang belum pernah dikasih jatah." Nathan mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Toh, memang dia belum pernah melakukan itu dengan Kira.


"Hahahaha, kasian. Punya Istri tapi gak bisa di apa-apain." tawa Raka meledek Nathan.


Nathan memanyunkan bibirnya. Meratapi nasibnya yang belum menyentuh Kira sama sekali padahal dia ingin.


Raka dan Rendy saling menatap. "Tuan muda Nathan adalah sad boy, hou hou hou." mereka bersenandung bersama meledek Nathan.


"Sad boy." lagi Raka belum berhenti meledek Nathan begitu pula Rendy.


"Nathan." sahut Rendy.


"Sad boy." sahut Raka lagi.


Sekarang Rendy dan Raka kompak meledek Nathan sampai Nathan benar-benar kesal dan meninggalkan mereka berdua yang tertawa riah di sana.


Menyadari Nathan pergi, mereka berdua dengan kompaknya memberhentikan tawanya dan saling menatap sebelum kemudian mereka membuang pandangannya ke sembarang arah.

__ADS_1


...****************...


Kira masuk ke dalam kamar Raka yang berada di lantai satu tepat di sebelah kamar Vano. Dia menatap sekeliling kamar Raka yang berantakan seperti kapal pecah. Memang ya Raka tidak berubah, tidak pernah rapi baik dari kamar dan penampilan Pemuda itu.


Kira menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian dia merapihkan kamar Raka yang di penuhi dengan sampah plastik dan boxer, baju di mana-mana. Kira memungut pakaian Raka dan menaruhnya di tempat pakaian kotor setelah itu dia beranjak merapikan seprai dan bed cover ranjang Raka.


Setelah selesai merapikan kamar Raka dan membuatnya menjadi rapi, Kira mendudukkan bokongnya di meja belajar Raka, dia menatap banyak foto-foto keluarga mereka tertempel di tembok bahkan fotonya tidak lupa di panjang di sana.


Kira tersenyum namun sesuatu membuatnya tertarik yaitu foto seorang Gadis berambut panjang sepunggung tengah tersenyum lebar di kamera dengan Raka di sebelahnya yang memasang wajah kesal. Siapa Gadis itu? Kenapa Raka tidak pernah membicarakannya padanya?


"Kakak ngapain di kamar aku?" suara bariton Raka membuyarkan lamunan Kira. Kira langsung menoleh ke belakang dimana Raka berdiri.


Raka melempar tasnya di atas ranjang, dia membuka seragamnya yang sudah terbuka kancingnya lalu melemparkannya ke sembarang arah membuat Kira menatapnya tidak percaya.


Dengan secepat kilat Kira berdiri dan melayangkan tamparan di pipi Raka walau tidak terlalu keras tapi sukses membuat Raka mengusap-usap pipinya. "Bisa gak langsung naruh bajunya di tempat pakaian kotor!" omel Kira sambil berkacak pinggang.


"Capek, kak. Harus jalan lima langkah dulu lebih baik langsung lempar kan gak buang tenaga." sahut Raka.


Kira memandang Raka tidak percaya. "Kamu itu kenapa sih males banget! Resik sedikit bisa gak sih!" omel Kira lagi.


"Iya, besok. Sekarang aku mau tidur dulu, capek abis berant-" Raka langsung menutup mulutnya yang keceplosan itu.


Dahi Kira mengkerut. "Kamu berantem lagi ya?!"


Raka menggeleng. "Gak, gak berantem kok suer." Raka mengangkat dua jarinya di depan Kira.


Kira mendengus. "Ini apa nih, hah?!" Kira menekan-nekan lebam di wajah Raka membuat Raka meringis kesakitan.


Kira menghebus nafas kasar. Dia menarik tangan Raka dan menyuruhnya duduk di tepi ranjang lalu Kira mengambil kotak P3K yang ada di laci nangkas. "Kamu itu jadi anak tambeng banget ya?! Aku udah berapa kali bilang, jangan berantem terus kenapa kamu gak dengerin sih!" kesal Kira, dia mengobati lebam-lebam di wajah Raka.


Raka memonyongkan mulutnya. "Ai'em soli kak." sesal Raka.

__ADS_1


Kira memutar bola matanya. Dia memberikan kotak P3K itu kepada Raka. "Obatin sendiri, aku mau tidur!"


"Maaf kak! Aku minta stoberi alias sori!" teriak Raka tapi Kira tidak mendengarkannya. Kira beranjak pergi dari kamar Raka, meninggalkan Raka yang masih memonyongkan mulutnya menatap kotak P3K itu.


__ADS_2