
"Kemana aja lo kemarin, ngilang tiba-tiba!" tegur Rendy kepada Nathan yang duduk di meja kerjanya dengan kedua kaki dia angkat keatas meja.
"Nyari lobang yang serius gue masukin." jawab Nathan.
"Pfftt, emang setiap lubang lo seriusin buat dimasukin." Rendy menahan tawanya.
Nathan berdecak. "Bukan itu, b*go! Maksud gue, gue nyari pujaan hati gue!"
"Oh gitu, siapa emangnya?" tanya Rendy penasaran.
"Ada orang,"
"Tapi siapa bodoh!"
"Gak usah kepo jadi orang!"
Rendy memutar bola matanya. Padahal dia sangat penasaran siapa yang berhasil menarik perhatian sang tuan muda tersebut.
Sepulang dari rumah sakit, entah kenapa perasaan ingin memiliki semakin besar. Sampai-sampai tadi malam Nathan tidak tidur dengan nyenyak karna memikirkan Gadis itu.
Nathan menyenderkan kepalanya ke senderan kursinya. Wajah Gadis itu terngiang-ngiang di kepalanya akhir-akhir ini. Bahkan sekarang saja Nathan mulai merindukan Gadis itu. Akhh, ada apa sebenarnya dengan Nathan Alberic Melio saat ini?
Rendy yang dari tadi terus memperhatikan atasannya itu mulai menyipitkan matanya. Sepertinya dia mencium aroma-aroma tidak biasa dari tingkah Nathan itu. "Lo kenapa sih?" tanya Rendy, rasa penasaran menguasainya.
Nathan kembali menatap sahabat sekaligus sekretarisnya itu. "Lo ngapain sih dari tadi di ruangan gue mulu? Lo kangen ama gue atau gimana?" geram Nathan, pasalnya dari ia datang ke kantor dan masuk ke dalam ruangannya, Rendy terus mengikutinya, seperti sekarang Rendy masih setia duduk di hadapan Nathan.
Rendy mengangguk. "Alasannya, pertama, gue kangen. Kedua, gue pengen tau siapa orang pujaan lo, dia wanita atau laki-laki. Ketiga, gue takut lo belok soalnya." jelas Rendy membuat Nathan benar-benar kesal.
"Sial*n lo pikir gue belok?!" Rendy mengangguk polos.
Nathan mengepalkan tangan di udara saking kesalnya dengan sahabatnya itu. "Keluar dari sini kalo gak mau gue tepak dari sini?!" ancam Nathan.
Rendy menyengir, dia mengambil kuda-kuda untuk kabur dari Nathan yang sedang kerasukan jin macam itu. Takut macamnya mengamuk.
__ADS_1
*********
"Kak, Kakak gak makan?" tanya Raka, melihat nasi goreng yang ia belikan untuk Kira masih utuh bahkan belum di sentuh sama sekali.
Kira menggeleng. "Gak napsu." jawabnya lemas.
Raka mendengus. "Kak, sadar diri napa, badan udah cungkring jangan dibikin jadi kertas itu badan! Makan, itu solusi biar badan jadi seksi." ucap Raka.
Kira menatap tajam Raka yang berbicara semena-mena terhadap tubuhnya. Bagi Kira, tubuhnya sudah bagus kok. Seksi-seksi manjah.
"Aku belum lapa--"
Kruuuukkkkk!
Suara perut keroncongan terdengar jelas. Sudah di pastikan suara itu berasal dari perut Kira.
Kira menatap Raka yang berkacak pinggang. Dia menyengir. "Iya-iya aku makan." katanya, mengambil nasi goreng yang berada di atas nangkas di sebelah Ayahnya berbaring lemah.
"Yah, aku makan dulu ya, ayah mau gak?"
"Kamu kok gak sekolah?" tanya Kira sembari melahap nasi gorengnya.
"Libur dari sananya." jawab Raka, pelan.
"Kamu bolos ya? Wah, parah kamu udah berani bolos-bolos!"
"Libur kak, dari sananya emang libur."
"Masa?"
"Iya!"
"Kok aku gak percaya?"
__ADS_1
"Seterah Kakak aja lah, males ngeladenin orang gila."
"Kok kamu ngatain aku orang gila?!"
"Ya emang bener kan? Kenyataannya begitu."
"Dasar adik durhaka!"
"Dasar Kakak durjana!"
"Ekhem," seseorang berdeham dibelakang mereka yang sibuk bertengkar.
"Ekhem!" orang itu berdeham lebih keras membuat kedua manusia yang tengah bertengkar itu langsung menoleh. "Pasien tidak boleh di ganggu, dia butuh istirahat yang lebih." ucap Suster cantik bin seksi itu.
Raka yang melihat suster itu langsung menyisir rambutnya yang tadinya acak-acakan. Dia mendekati Suster cantik itu. "Hallo Suster Susu," sapa Raka, tersenyum lebar kepada Suster itu.
"Nama saya Suster Susi, bukan Suster Susu!" tutur Suster Susi itu membenarkan.
"Sama aja, kan suster juga punya susu."
Hampir saja Kira melemparkan piring beling ditangannya mendengar godaan menjijikan yang keluar dari mulut Adiknya itu.
Sedangkan Suster Susi hanya memutar bola matanya malas. Emang sih Pemuda itu mempunyai ketampanan yang surgawi tapi mengetahui otak pemuda itu agak miring membuat Suster Susi yang tadinya terkagum-kagum menjadi kesal padanya.
"Aduh mbaknya gemes banget sih jadi pengen remes." ucap Raka.
"Raka, dasar otak mesum kamu ya!" teriak Kira, menjewer telinga Raka dari belakang. Suster Susi yang melihatnya menahan tawanya.
Raka mengaduh kesakitan. Untung saja kegaduhan yang ada tidak menganggu istirahat Ayah Cahyo.
"Aduh, sakit kakak!" teriak Raka.
"Rasain," Suster Susi menyukuri Raka.
__ADS_1
"Suster Susu, tolongin ayang dong, akhhhhh!" Raka semakin teriak karna Kira mengencangkan jeweran di telinganya.
Suster Susi tersenyum melihat kedekatan Kakak-adik itu, mungkin kalau ada yang melihat dan orang itu belum mengenal mereka berdua, orang itu akan menyaka jika mereka adalah sepasang kekasih melihat betapa lucunya keduanya ketika bersama.