
Raka memasukkan baju-bajunya ke dalam koper pemberian Nathan. Dia akan pindah ke rumah Nathan. Dengan berat hati Raka akan meninggalkan rumah ini, walaupun kecil dan sempit, rumah ini menyimpan banyak kenangan Ayah Cahyo bersama Kira dan dirinya.
Akh, umur memang tidak ada yang tahu. Padahal kemarin Raka baru saja menceritakan tentang rumah Nathan dengan Ayahnya di kamarnya. Ayah Cahyo tampak bahagia saat mengetahui Kira baik-baik saja di sana, dan sepertinya Kira sangat suka berada di sana.
Dan kebesokan paginya, Ayah Cahyo pergi untuk selamanya. Raka berusaha membangunkan Ayahnya yang tertidur di kamarnya saat dia ingin pergi ke sekolah namun siapa sangka Ayah Cahyo sudah menutup matanya untuk selamanya.
Raka menghebus nafasnya panjang, dia harus mengikhlaskan kepergian Ayah Cahyo dengan tinggal bersama Kira karna kalau dia tinggal di sini dia akan selalu mengingat Ayah Cahyo dan sulit untuk mengikhlaskan kepergiannya.
"Udah selesai blom lo?" tanya Nathan nongol di depan pintu kamar Raka.
Raka berdecak, dia mereseleting tasnya dan segera membawanya ke luar. "Bawel!" cibir Raka ketika melewati Nathan.
Nathan berdecak pinggang. "Eh, songong lo sama Kakak ipar."
"Bacot!" cibir Raka lagi, dia masih tidak mod untuk berdebat apalagi membalas perkataan Nathan.
"Buruan, Kakak lo udah nunggu di rumah gue." kata Nathan berjalan keluar rumah Raka duluan. "Kunci tuh rumah!" Nathan mengingatkan Raka.
"Udah tau! Eh, gak ada inisiatif bantuin gue apa? Berat nih!" gerutu Raka membawa sekaligus koper dan tas besarnya ke luar rumah.
Nathan berdecak, dia menghampiri Raka dan mengambil koper besar dari tangannya. "Buruan, gue mau anu sama Kakak lo."
"Sabar dikit napa. Sama lo kayak adik lo, bikin emosi babang Raka terus." Raka berdecak sebal. Dia mengunci pintu rumahnya setelah itu dia berjalan melewati Nathan yang masih berdiri di sana.
Dasar adik ipar durhaka, udah di tungguin malah di tinggalin! Gerutu Nathan. Bibirnya mengerucut.
Nathan berjalan mendekati Raka dan memberinya toyoran di kepalanya membuat Raka menatapnya kesal.
Di perjalanan ke rumah Nathan, Raka terus diam. Kalau biasanya dia banyak bicara sekarang dia banyak diam bahkan melamun seperti sekarang, Raka menatap ke luar jendela melamun.
"Eh, btw udah lama gue pengen tanya, lo sama Vano kok ribut mulu sih?" tanya Nathan, dia menyetir mobilnya.
"Bacot lo! Dari tadi nanya mulu." kesal Raka.
__ADS_1
Nathan mengangkat sudut bibirnya. Padahal dia baru bertanya kapan dia bertanya terus?
Dalam pikirannya, Raka selalu bertanya apakah saat ini Ayahnya Sendirian di tumpukan tanah? Apa dia ketakutan karna ke gelapan? Tapi semasa hidup Ayah Cahyo selalu beribadah dan membaca kitab suci setiap harinya.
Sesampai di rumah, Nathan keluar dari mobil, dia mengambil koper Raka di bagasi. Namun berbeda dengan Raka yang masih berada di dalam mobil, dia terlilit sabuk pengaman.
Nathan berdecak sebal karna Raka belum juga keluar dari mobil, dia membuka pintu di sebelah dimana Raka terduduk sekarang. Dia menahan tawanya melihat sabuk pengaman melilit tubuh Raka lebih parahnya lagi Raka mencoba membukanya namun malah makin mempererat lilitan itu.
Galau sih boleh, tapi jangan ketahuan b*go-nya juga. Kan kalo begini Raka terlihat seperti orang bodoh.
"G*blok, lepas gituan aja gak bisa!" tawa Nathan tidak bisa di tahan. Dia tertawa terbahak-bahak melihat betapa bodohnya adik Istrinya itu.
"Lepasin dong! Aduh gue gak bisa keluar, helppp!" teriak Raka semakin membuat Nathan terbahak.
"Eh, kalian udah pulang." sapa Kira yang baru keluar dari Mension dan menghampiri mereka berdua.
Seketika Kira tertawa melihat sang adik terlilit sabuk pengaman. Tertawa pertama kalinya setelah kepergian Ayahnya, keren.
"Kakak, bantuin adikmu ini dong! Aduh, aku kecekik kak!" teriak Raka meminta bantuan Kira.
"Jangan nyalahin mobil gue karna ke bodohan lo, ya!" ketus Nathan.
Raka memutar bola matanya malas. "Mobil lo aja yang baperan, masa cuma di jelek-jelekin langsung balas dendam." balas Raka tidak mau kalah.
"Udah jangan debat, mendingan kita masuk ke dalam." Kira melerai perdebatan Raka dan Nathan yang semakin sengit itu.
Nathan memeluk Kira dari samping. "Dengerin kata Kakak lo plus Istri gue yang paling jelek bin tepos." kata Nathan.
Sifat menjengkelkan Nathan balik lagi. Kira melepaskan pelukan Nathan, dan menatap Nathan tajam. "Mau di tampar?" ancam Kira membuat Nathan cengengesan.
"Haha, mampus kau, tampar aja kak, Sekali-kali." kompor Raka.
Kira menampar pipi Raka dan Nathan secara bergantian. Membuat keduanya menceberutkan bibirnya sambil mengusap pipi mereka masing-masing.
__ADS_1
...****************...
Kira berdiri dibalkon kamar, menikmati angin malam disana. Dulu, dia selalu menikmati angin malam bersama Ayahnya namun sekarang dia tidak akan bisa menikmatimya bersama lagi bersama Ayahnya.
Kira mengigit bibir bawahnya menahan sesak didadanya. Dia menangis sendirian dibalkon. Dia mengingat pertemuan terakhir dengan Ayahnya. Ayahnya bilang, dia ingin melihat dirinya dan Raka bahagia di masa depan. Apa itu kata-kata terakhir ayahnya?
Kira mengingat betul bagaimana Ayahnya mengomel karna dia tidak mandi, mengomel karna dia sering bertengkar dengan Raka. Dia merindukan momen bersama Ayahnya. Sangat. Merindukannya.
"Ayah," lirih Kira memanggil sang ayah. Dia menangis sesunggukan sambil memegangi dadanya yang sesak.
Secara tiba-tiba seseorang menarik Kira ke dalam dekapannya membuat Kira terdiam membeku dengan sisa-sisa airmata dipelupuk matanya. Kira tahu orang yang memeluknya adalah Nathan. Kira mengenal betul bau wangi ini. Wangi maskulin bercampur mind milik Nathan.
Dekapan itu hangat dan nyaman.
"Silahkan nangis sepuasnya. Aku akan tetap ada disini untuk kamu." Ucap Nathan lembut.
Mendengar ucapan Nathan, Kira meremas kaos yang dikenakan Nathan. Dia tidak bisa menahan sesaknya lagi, dia menangis sejadi-jadinya didekapan Nathan.
"Kenapa orang yang saya sayangi selalu meninggalkan saya? Pertama Ibu, dan sekarang Ayah.. kenapa.." lirih Kira, dia menangis sekencang-kencangnya menumpahkan rasa sesak, rasa sedih didekapan Nathan.
Nathan memejamkan matanya. Dia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan, karna dia juga orang yang ditinggalkan.
"Kira,"
"Kenapa didunia ini gak ada yang tetap dan tinggal, kenapa?"
"Kenapa Nathan, kenapa?"
Kira makin meremas kaos yang dikenakan Nathan dan juga Nathan yang semakin erat memeluk Kira.
Semakin lama tangis Kira semakin mereda, Nathan langsung menggendong Kira lalu membawa Kira ke ranjang, menindurkannya disana dengan hati-hati.
Setelah itu, Nathan menarik selimut sampai ke atas leher Kira. Nathan memandangi wajah sang istri yang tertidur. Tangannya bergerak menyingkirkan rambut Kira yang menutupi wajah cantiknya. Senyuman tipis tercetak dibibir Nathan.
__ADS_1
Benar, tidak ada yang tetap dan tinggal didunia ini. Ada saatnya mereka akan meninggalkan. Dan itu hal yang paling dibenci Nathan. Semua orang disekelilingnya tidak ada yang menetap disisinya, mereka selalu meninggalkan Nathan sendirian dan Nathan berharap itu tidak terjadi padanya lagi sekarang. Dia berharap perempuan yang sekarang dia pandangi wajahnya akan terus bersamanya.
Nathan mendekatkan bibirnya kekening Kira. Memberi kecupan singkat disana. "Selamat tidur, sayang." Gumamnya lalu beranjak berjalan ke sofa. Malam ini dia yang akan tidur disana.