Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
61. Yang Mauren Inginkan


__ADS_3

"Baru pulang lo?" Tegur Vano ketika dia berpapasan dengan Raka yang baru saja pulang dengan baju seragam yang kotor dan beberapa luka diwajahnya di ruang tengah.


Raka melirik Vano yang duduk disofa lalu berdecak. "Tumben banget lo peduli ama gue." Sahut Raka. "Suka lo ama gue?"


Vano menatap Raka dengan sebelah alis terangkat. "Pengen banget gue peduliin?"


Raka berdecih. Dia mengangkat sudut bibirnya keatas. "Cih, gak penting dipeduliin ama lo." Raka berjalan ke sofa sebrang Vano. Melempar tasnya lalu merebahkan tubuhnya disofa, menutup wajahnya dengan satu tangannya.


Vano memutar bola matanya. "Kenapa lo?" Tanya Vano. Sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan Raka tapi hanya saja dia sedikit penasaran karna sepertinya ada yang terjadi dengan Raka. Karna tumben saja Raka tidak mencari masalah padanya.


Terdengar suara hebusan nafas Raka. "Berisik lo." Ujar Raka.


Vano memperhatikan Raka. Ini seperti bukan Raka, ada apa sebenarnya padanya sampai jadj murung begitu?apa Raka patah hati? Mana mungkin, Raka kan tidak punya pacar.


"Dikit lagi kelulusan. Belajar." Kata Vano.


"Gak usah sok perhatian, geli gue."


"Gue cuma mewakili perkataan Kakak lo." Cuek Vano. Dia kembali memainkan ponselnya yang sempat dia tunda karna kedatangan Raka.


Tak lama kemudian Kira datang. Dia melihat sang adik rebahan disofa. Kira yakin adiknya itu baru pulang. Padahal sekarang sudah pukul sepuluh malam, masa Raka baru pulang dari sekolah jam segini? Tidak tahu apa, sedari tadi dia cemas pada adiknya itu.


"Raka!" Teriak Kira. Wanita itu berjalan mendekati Raka dengan berkacak pinggang.


Menyadari kehadiran Kira dihadapannya, Raka membalik tubuhnya membelakangi Kira. Dia hanya ingin menyembunyikan luka diwajahnya dari Kira. Kalau ketahuan dia sehabis berantem lagi, Kira bisa mengamuk.


"Raka, kamu kemana aja jam segini baru pulang! Kamu tau gak kamu bikin aku cemas tau!" Omel Kira.


Raka hanya berdeham saja.


"Raka! Kamu bikin aku cemas, kamu kemana aja, hah?!" Teriak marah Kira. Dia hanya terlalu cemas pada adiknya. "Jawab Raka! Jangan cuma diam!"


Raka akhirnya bangun terduduk kala mendengar teriakan marah Kakaknya.


Raka hanya bisa menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Kakaknya dengan banyak luka diwajahnya sekarang.


"Raka, aku tanya kamu habis darimana?!"


"Habis darimana ya?"


Kira duduk disebelah Raka. Dia menjewer telinga Raka singkat namun kencang hingga membuat Raka meringis. "Vano bilang, kamu gak masuk kesekolah. Kamu bolos ya?"


Raka melempar tatapan tajam pada Vano yang masih duduk didepannya. Dasar penggadu. Lalu Raka menatap Kira. "Sekali doang kok!" Jawab Raka.

__ADS_1


Kira mendengus. Dia mencengkram rahang Raka dengan tangannya yang mungil. "Kamu berantem lagi?" Suara Kira melemah melihat banyak luka diwajah Raka. Tapi baru kali ini Kira melihat banyak luka seperti itu diwajah Raka bahkan didahinya terlihat darah yang sudah mengering


Raka mengangguk sebagai jawaban.


"Udah berapa kali aku bilang, jangan berantem lagi, Raka."


Raka menundukkan kepalanya.


"Aku tau kamu gak bakal berantem tanpa sebab. Tapi kenapa sampai begini?" Kira tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya pada adiknya.


Raka tidak menjawab.


"Raka jawab!"


"Aku jatuh dari motor, Kak." Jawab Raka.


Mata Kira memicing. Dia menjewer telinga Raka yang memerah yang berarti dia sedang berbohong padanya sekarang. "Jangan bohong! Kamu kenapa, Raka?"


Bukannya menjawab pertanyaan Kira, Raka malah bangun dari sofa dan menarik tangan Kira menunju kamarnya. Dia tidak suka terlihat lemah didepan orang apalagi didepan musuh bebuyutannya, Vano. Dia hanya boleh terlihat lemah didepan Kakaknya, hanya Kakaknya.


Saat sudah didalam kamarnya, Raka menutup pintu rapat-rapat lalu duduk ditepi ranjangnya sambil menunduk dalam-dalam dan Kira ikut terduduk disebelah Raka. Tangan Kira terangkat keatas kepala Kira. Bagaimana pun Raka tetap adiknya walaupun sekarang dia sudah menikah, dia tetap cemas dan khawatir pada adiknya.


"Ada apa?" Tanya Kira.


"Obatin aku dong, Kak. Sakit nih." Pinta Raka, dia berusaha mungkin menyengir kepada Kira walau suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Padahal Raka tahu Kira hanya mengeluh dimulut saja. Dia tahu betul Kira seperti apa karna Raka kan adiknya.


"Coba sini aku liat."


Raka menunjukkan luka-lukanya pada Kira yang kembali duduk disebelahnya. 


Kira mencapit rahang Raka dengan tangannya lalu membersihkan luka-luka dan juga darah yang sudah mengering diwajah Raka menggunakan handuk yang sudah dibasahi air panas itu.


"Kamu udah mau lulus, tapi berantem mulu kerjaannya." Omel Kira. Setelah sudah membersihkan luka diwajah Raka, dia langsung mengobatinya.


"Musuh kamu ada berapa sih sebenarnya? Kayaknya bukan Vano doang."


Terakhir Kira menempelkan plaster didahi Raka. Setelah selesai mengobati Raka, Kira mengintimigrasi Raka dengan tatapannya.


"Aku ini terkenal, Kak. Mereka minta tanda tangan tapi kayak ngajak ribut mangkanya jadi begini." Jawab Raka, mengelak.


Kira mengangkat sebelah sudut bibirnya keatas. "Idih percaya diri kamu ya!"

__ADS_1


"Ya, harus lah. Kan kata Kakak gak boleh---"


"Insiyur?" Sambung Kira dan mereka berdua tertawa bersama.


...****************...


Di Hotel.


Hari ini hari yang paling melelahkan bagi Nathan. Bukan cuma kelelahan mengurus proyek yang akan dibangun disini tapi juga dia kurang tenaga menjalani harinya tanpa Kira. Seadainya saja Nathan membawa Kira kesini.


Nathan menghebus nafasnya panjang. Dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Andai dia membawa Kira dia tidak akan tidur sendirian begini. Hufftt. Lagi-lagi Nathan hanya hisa menghebus nafas.


Nathan merindukan Kira. Padahal baru sehari dia jauh dari Kira namun rasanya seperti sudah setahun. Dia benar-benar merindukan Istri galaknya itu. Saking merindukan Kira Nathan memukul-mukul bantal dan juga mengguling-guling tubuhnya. Dia gelisa. Rindu itu membuatnya gelisah, mungkin malam ini dia tidak bisa tidur.


Kiraaaa, aku rindu kamuuuuuu...


Baru saja ingin memikirkan wajah Kira yang membuatnya seperti orang gila tiba-tiba ada seseorang yang menekan bel kamar hotel Nathan. Nathan berdecak sebal dan dia pun bangun dari ranjang mendekati pintu dan membuka pintu kamar hotelnya.


Dan ketika Nathan membuka pintu, Nathan melihat Mauren berdiri dihadapannya dengan memakai baju yang memperlihatkan belahan dadanya.


Btw, Mauren ikut kesini karna Mauren sudah menjadi sekretaris pribadi Nathan walau Nathan tidak membutuhkannya karna sudah ada Rendy tapi Mauren tetap ngotot ingin menjadi sekretaris pribadinya dan Nathan pun menurutinya walau sempat berdebat dulu dengan Rendy. Tapi soal memperkerjakan Mauren dikantornya, Kira sama sekali tidak tahu hal itu karna Nathan belum sempat cerita kepada Kira.


Nathan mengangkat sebelah alisnya kepada Mauren. Apa sebenarnya yang wanita itu inginkan?


"Ada apa Mauren?" Tanya Nathan. Entahlah apa tujuan Mauren tapi Nathan merasa terganggu karna ini sudah larut malam dan seharusnya dia beristirahat.


Mauren tersenyum manis. "Nathan sepertinya kamar mandi dikamar ku rusak, boleh aku menumpang mandi dikamar mandimu?" Kata Mauren.


Nathan mengusap wajahnya kasar. "Ini sudah larut malam Mauren. Tidak baik mandi dijam segini." Ucap Nathan tidak meninggi juga tidak merendah.


"Tapi badanku rasanya panas Nathan. Sungguh. Aku biasa mandi jam segini." Mauren merendahkan nada bicaranya.


"Kalau begitu ubahlah. Tidak baik untuk kesehatan mandi jam segini Mauren."


"Kenapa kamu sekarang peduli dengan kesehatan? Padahal setahuku kamu selalu mandi tengah malam waktu kita masih punya hubungan." Kata Mauren. Karna baginya aneh saja, yang dia tahu Nathan tidak peduli dengan kesehatannya sendiri.


"Karna istriku yang mengatakannya." Jawaban Nathan membuat Mauren semakin membenci Kira.


"Kenapa selalu istrimu istrimu istrimu. Memang tidak ada yang lain apa?" Mauren melipat tangannya didada.


"Memangnya siapa lagi? Hanya ada istriku dipikiranku." Nathan memutar bola matanya. "Sudahlah, kamu istirahat saja sana. Aku juga mau istirahat, Mauren."


"Yaudah kalau begitu. Goodnight, Nathan." Ucap Mauren sedikit menggoda.

__ADS_1


"Ya, selamat malam." Nathan langsung menutup kembali pintu kamar hotelnya. Akhh, waktu untuk memikirkan Kira terbuang sia-sia cuma karna Mauren.


Nathan kembali keranjangnya, memeluk guling yang ia anggap adalah Kira. "Selamat malam, Kira." Gumam Nathan diakhiri dengan menguap lalu tak lama kemudian dia terlelap cuma hanya karna membayangkan Kira ada disebelahnya, dia bisa tertidur. Aneh kan?


__ADS_2